
suatu sore di bulan Januari 2017.
"akhirnya, ujian tengah semester sudah selesai." ucap Azzam sambil duduk di kursi taman.
"makasih ya, kamu udah bener-bener buktiin kalo kamu gak bolos lagi." ucapku yang masih berdiri di depan Azzam.
Azzam meraih tanganku dan mempersilahkan aku duduk di sampingnya.
"temani aku terus ya sayang." ucap Azzam sembari mengelus jemari tanganku.
"iya sayang." ucapku seraya tersenyum kepada Azzam.
"aku gak menyangka terakhir aku membolos waktu itu juga terakhir touringku bersama Roni." Azzam berkata sambil melihat galeri handphonenya yang terlihat foto dirinya bersama Roni.
"aku minta maaf ya." ucapku seraya menatap mata Azzam.
"minta maaf kenapa sayang?." tanya Azzam heran.
"waktu itu, aku memutuskan hubungan kita perkara kamu bolos. dan aku gak tau kalau waktu itu akan menjadi touring terakhir kamu dengan Roni. maafin aku ya." ucapku kepada Azzam.
"kamu gak salah, entah kenapa waktu itu kemauanku untuk touring sangat kuat. padahal aku juga sudah berjanji padamu agar tidak membolos lagi untuk touring. mungkin firasat jika itu akan menjadi touring terakhirku bersama Roni." ucap Azzam menatap mataku.
"sebagai rasa syukur karena nilaimu baik dan absensimu baik, gimana kalo kita ziarah ke makam Roni?." ucapku kepada Azzam.
"boleh, yaudah kita pulang sekarang. nanti kujemput sore ya." ajak Azzam.
aku dan Azzam memutuskan untuk pulang dan bersiap untuk berziarah ke makam Roni.
tepat pukul 17.00 wib Azzam menjemputku. kami bergegas menuju pemakaman Roni.
(tiba di pemakaman)
langkahku dan Azzam terhenti sejenak. melihat seorang wanita duduk di samping makam Roni.
"siapa itu?." tanya Azzam padaku.
"sepertinya mamahnya Roni yang." jawabku.
aku dan Azzam melanjutkan langkah menuju makam Roni.
benar saja, ibunda Roni terlihat sedang menangis di samping makam anaknya tersebut.
sudah sebulan Roni meninggalkan kami semua. Namun, nampaknya ibunda Roni masih merasa sangat kehilangan.
aku duduk di samping ibunda Roni dan mencoba menenangkannya.
"yang ikhlas Buk, kita tidak bisa melawan takdir yang sudah di gariskan tuhan. semua yang hidup di dunia pasti akan mati. biarkan Roni tenang buk, Roni pasti sedih melihat ibuk berlarut-larut dalam kesedihan seperti ini."
ucapku sambil mengelus lengan ibunda Roni.
(selesai berziarah)
"buk, ibuk belum mau pulang?." tanyaku kepada ibunda Roni.
"ibuk gak mau ninggalin Roni sendirian. Roni pasti kesepian." jawab ibunda Roni.
"pasti sangat berat buk, tapi bagaimanapun kita harus mengikhlaskan yang sudah pergi. ibuk jangan sampai banyak pikiran." ucapku kepada ibunda Roni.
"makasih ya, kalian sudah menjadi teman baik roni." ucap ibunda Roni.
tiba-tiba muncul ayah Roni dari belakang kami. seketika aku dan Azzam menoleh.
"ada nak Azzam dan nak Amel rupanya." ucap ayah Roni sembari aku dan Azzam menyalaminya.
"buk ayo pulang." ucap ayah Roni.
__ADS_1
"bapak datang untuk menjemput ibuk?." tanyaku kepada ayah Roni.
"iya, ibuk hampir setiap sore kesini nak, ibuk rindu dengan Roni dan ingin menemani Roni. jadi, bapak hanya bisa mengantar ibu setiap hari sebagai obat rindunya kepada Roni." ucap ayah Roni.
"kalian juga mau pulang?." tanya ayah Roni padaku dan Azzam.
"hmm iya pak, kami ziarah ke makam Roni karena rindu dengan Roni." jawab Azzam.
"terimakasih ya nak Azzam dan nak Amel, sudah menjadi teman baik Roni sampai sekarang. mari kita pulang bersama nak." ucap ayah Roni.
"mari pak." jawab aku dan Azzam menimpali.
aku dan Azzam pulang dari pemakaman Roni. karena waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 wib aku dan Azzam memutuskan untuk makan di sebuah kafe.
tidak sengaja, aku melihat Anggie dan Nisa juga sedang makan di kafe ini.
aku menyapa Nisa.
"Hay nis." ucapku sambil berjalan mencari tempat duduk yang masih kosong.
"Hay Mel." jawab Nisa membalas sapaanku.
"sayang, kamu duduk dulu aja, aku pesan makanan ya." ucap Azzam kepadaku.
aku duduk tak jauh dari tempat Anggie dan Nisa.
terlihat Azzam berjalan menuju arahku seusai memesan makanan.
"aku ke toilet bentar ya." pamitku kepada Azzam. aku berjalan menuju toilet yang berada di bagian belakang dari kafe.
di sisi lain ternyata Anggie dan Nisa sedang berdebat, lantaran Anggie mengetahui chat Nisa dan teman lelakinya yang terlihat mesra.
"siapa cowok ini nis." tanya Anggie kepada nisa.
"sejak kapan kamu berhubungan dengan lelaki ini. ooo nampaknya sudah lama ya, dilihat dari chatnya juga." ucap Anggie yang terlihat sangat kecewa kepada nisa.
"aku bisa jelasin." ucap Nisa kepada Anggie.
"halah!!!." ucap Anggie yang marah dan meninggalkan nisa di mejanya. Anggie menuju ke toilet.
tak lama, aku keluar dari toilet.
"Amel Amel.... masih bertahan dengan Azzam juga rupanya." ucap Anggie yang membuat langkahku terhenti.
"maksud kamu apa nggie." ucapku kepada Anggie.
"apa sih yang kamu harepin dari Azzam mel..cakep enggak, keren enggak, sekolah juga gak niat. banyak bolosnya, hahaha." ucap Anggie menertawakanku.
"urusannya denganmu apa ya nggie!." ucapku dengan nada sedikit keras.
"cakepan juga aku." ucap Anggie.
"maaf ya nggie, tapi Azzam tak pernah tu nyakitin aku. selalu menjadikan aku prioritas, dan yang pasti. Azzam gak pernah nyelingkuhin aku kayak kamu dulu nyelingkuhin Nisa!." ucapku seraya berjalan pergi meninggalkan Anggie.
"eh!!! mau kemana kamu." ucap Anggie, tangannya menarik tanganku.
"lepasin nggie." teriakku.
Azzam yang tiba-tiba datang entah karena mendengar teriakanku. sontak memukul wajah Anggie.
"maksud Lo apa nggie." bentak Azzam kepada anggie.
"awas Lo besok!!". ucap Anggie.
terlihat Nisa juga menyusul karena mendengar keributan dari arah belakang.
__ADS_1
"apa yang terjadi?." tanya Nisa kepada Anggie.
"gakpapa. kita pulang sekarang." Anggie menggandeng tangan Nisa dan buru-buru mengajaknya pulang.
"kamu gakpapa?." tanya Azzam padaku.
"gakpapa sayang." jawabku tersenyum.
"yaudah, pesananya sudah datang. kita makan dulu. nanti kamu jelasin ke aku ya." ucap Azzam seraya menggandengku untuk makan.
"tadi Anggie gak ngapa-ngapain kamu kan?." tanya Azzam, raut wajahnya terlihat sangat khawatir.
"aku gakpapa sayang. entah maksud Anggie itu apa. bahkan ada Nisa pun Anggie berani seperti itu kepadaku."
jawabku kepada Azzam.
"aku tidak sengaja tadi mendengar keributan mereka (Anggie dan Nisa). nampaknya hubungannya sedang tidak baik-baik saja. emm di semua aspek aku memang gak setampan dan sepintar anggie. tapi, aku harap kamu tulus ya dan gak kemakan omongan Anggie." ucap Azzam padaku
"aku akan terus bersamamu." ucapku tersenyum.
(keesokan harinya di sekolah)
aku sedang berjalan menuju perpustakaan untuk meminjam buku.
"Mel!!!." terdengar suara fia memanggilku dari belakang. aku menoleh sambil mengangkat kedua alisku.
"iya fi?." tanyaku.
"Azzam Mel!!." ucap fia kepadaku.
"Azzam kenapa fi?." tanyaku terheran heran.
"Azzam sama Anggie di perkiraan kayaknya mereka mau berkelahi." ucap fia.
"yang bener kamu!." ucapku terkejut.
"kita kesana aja." ucap fia menggandeng tanganku dan berlari menuju parkiran.
aku dan fia berlari menuju parkiran. benar saja, ada Azzam dan Anggie yang hendak berkelahi.
"hentikan nggie." teriakku karena melihat tangan Anggie yang hendak memukul Azzam.
Azzam dan Anggie menoleh ke arahku.
aku menggandeng Azzam dan kujauhkan dari Anggie.
"kamu kenapa nggie. Azzam punya salah apa sama kamu." ucapku dengan nada keras.
Anggie tersenyum sinis.
"akhirnya kamu muncul juga Mel." ucap Anggie.
terlihat Nisa juga menyaksikan kejadian ini, tetapi entah kenapa Nisa hanya diam saja. seolah cuek dengan apa yang terjadi kepada Anggie.
"Kalian kaget Nisa diem aja. aku sudah memutuskan Nisa kemarin, hahaha." ucap Anggie seraya tertawa.
"Lo gak bakal lama lagi di sekolah ini." ucap Anggie kepada Azzam.
"aggrrhh!!!." Azzam mengangkat tangannya dan hendak memukul anggie.
kuraih tangan Azzam dan ku usap pundaknya.
"sabar sayang, aku gak ingin kamu bermasalah dan mempengaruhi kenaikan kelas nanti." ucapku menenangkan Azzam.
tentu saja, ini adalah strategi Anggie untuk memancing keributan dengan Azzam. dengan begitu, Azzam akan mendapat surat peringatan dan tidak bisa naik kelas.
__ADS_1