Sumpah Serapah Mantan Kekasih

Sumpah Serapah Mantan Kekasih
bab 8


__ADS_3

suatu sore di bulan Juni 2017


pukul 16.00 wib seperti biasa bel tanda jam pulang berbunyi.


"Amel..." panggil Azzam yang ternyata sudah menungguku di depan kelas.


"lho kok tumben nunggunya di sini, gak di parkiran." aku sedikit mengangkat kepalaku karena memang Azzam ini lebih tinggi dariku. tinggi badannya sekitar 168 centimeter. ya lumayan tinggi dariku yang hanya 150 centimeter. namun, jika di banding Anggie. Azzam tak setinggi Anggie.


"tadi ada tugas, udah selesai dong. jadi boleh pulang dulu." jawab Azzam dengan semangat.


"tumben ngerjain tugas cepet, nyontek punya siapa?." aku mengejek Azzam sambil menahan tawa.


"gak nyontek dong, aku kerjain sendirian kok wlee..." Azzam membalas ejekanku sambil mengeluarkan lidahnya.


"iyadeh percaya. hahaha." kali ini aku tidak bisa menahan rasa tertawaku.


tiba-tiba fia lewat di depan kami(aku dan Azzam)


fia hanya tersenyum kecil tanpa menoleh ke arahku. aku hendak menyapanya. namun, entahlah bibirku ini sulit mengucap karena fia benar-benar tak menoleh ke arahku.


aku terus memandangi fia sampai dia sudah berada di depan parkiran.


"si fia kenapa sayang? kok sepertinya gak sedeket dulu denganmu."


Azzam nampak mulai merasa jika fia tidak seperti biasanya.


"gak tau yang mungkin lagi badmood." aku menjawab pertanyaan Azzam dengan muka datar.


Azzam tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.


"taraaaaa." sambil menunjukkan dua buah kertas.


"apa itu sayang?." aku bertanya heran.


"tiket nonton konser sayangku. nanti malem nonton konser di kota gimana sayangku, mauu??" begitu ajakan Azzam.


"hmmm boleh deh.." aku menjawab.


"nanti kujemput jam 19.30 ya sayang." Azzam berkata dengan semangat.


Azzam memang sangat baik, apapun pasti akan dilakukan agar aku senang saat bersamanya. rasa yang tadinya belum ada sama sekali, kini sudah mulai tumbuh. bak tanaman kering yang perlahan mulai menghijau kembali. begitulah aku menggambarkan diriku karena adanya Azzam.

__ADS_1


sikapnya yang humoris dan apa adanya membuat aku betah di dekatnya. Azzam selalu mengusahakan apapun yang aku mau, dan terbuka perihal apapun denganku. itulah yang membuat aku menumbuhkan benih-benih cinta padanya.


tiba pukul 19.30 wib aku sudah berdandan cantik dan bersiap di jemput Azzam, sang pujaan hati.


kutunggu Azzam di depan rumah, di atas sebuah gazebo tua yang biasanya digunakan untuk tempat pelepas lelah ayahku saat pulang dari sawah.


aku sudah siap pergi menonton konser dengan outfit yang serba hitam, mulai dari sepatu higt, celana jeans, hingga jaket jeans crop yang berwarna hitam. hanya saja aku membawa tas berwarna krem agar terlihat sentuhan warna selain hitam. tak lupa ku gerai rambut panjangku.


pukul 19.35 wib


terdengar suara motor Azzam dari kejauhan.


"nah tu Azzam dateng." celetukku.


memang suaranya motornya lumayan keras, entah itu knalpot asli atau knalpot baru hasil racikannya sendiri. yang jelas, suaranya berbeda dari motor yang lain.


"Assalamualaikum sayang" belum turun dari motor, Azzam sudah mengucap salam sambil membuka helmnya. helm fullface yang hampir menutup seluruh kepalanya. yang terlihat hanya mata dan alis tebalnya.


"waalaikumsalam.." aku menjawab salam Azzam.


"waw..... cantik sekali pacarku malam ini." ucap Azzam memujiku.


"ih apaan si sayang." aku tersipu malu.


"makasih sayang." ucapku.


aku dan Azzam berangkat menuju kota, tempat dimana konser diadakan.


malam ini udaranya nampak dingin dengan angin sepoi sepoi di sepanjang jalan desa. Azzam menarik tanganku dan di letakkan di depan perutnya. "begini akan terasa lebih hangat sayang." ucapnya kepadaku.


tiga puluh menit perjalanan kami menuju kota, pukul 20.05 wib kami sudah sampai di tempat tujuan (konser).


azzam membuka helmku dan memarkirkan motor antiknya di parkiran yang sudah di sediakan.


"ramai sekali..." gumamku dengan nada lirih, ku dekatkan mulutku ke telinga Azzam agar dia mendengar suaraku.


"gapapa, nanti aku gandeng kamu gak akan kulepaskan." Azzam menjawab gumamku dan segera dia menggandengku.


tak lupa kami mampir ke sebuah kedai minum. Azzam membelikanku smoothies strawberry yang sangat lezat. sambil kuminum, kami berjalan menuju tempat dimana konser di adakan.


"kita nonton konsernya mau di depan, tengah, atau belakang sayang?." Azzam bertanya juga sambil mendekatkan mulutnya di telingaku. suasana memang sangat ramai, mungkin sangat susah berkomunikasi jika jarak bicara kami berjauhan.

__ADS_1


"di sini aja deh." (di tengah-tengah) aku menjawab.


"oke sayang.." jawabnya sambil menikmati suara MC konser yang akan memulai konser malam ini.


aku dan Azzam sama-sama sangat menikmati konser malam ini.


di tengah acara, tiba-tiba saja Azzam meletakkan tangannya di pundakku (merangkul). rangkulan Azzam terasa hangat di malam dengan angin sepoi-sepoi ini.


aku masih menonton konser sembari meminum smoothies yang Azzam beli tadi. sekali-kali aku berjoget mengikuti musik kudengar ini. kali ini aku merasa mencintai Azzam sepenuhnya. Azzam tidak pernah melepas rangkulannya sejak konser di mulai tadi. betapa dia ingin menjagaku.


"sayang makasih ya!." teriakku kepada Azzam agar dia mendengar, karena suara musik konser sudah sangat keras.


"makasih untuk apa sayangku." Azzam kembali bertanya padaku.


"makasih Eman bulan ini kamu udah bikin aku bahagia selalu." ucapku kepada Azzam.


"aku sayang banget sama kamu, aku gak akan membuat orang yang aku sayang merasa kecewa." Azzam tersenyum manis padaku.


kembali kuminum smoothies tadi, rupanya bibirku kotor terkena smoothies yang kuminum.


"sayang, ini lho kalo minum belepotan." Azzam berkata sambil mengelap lembut bibirku, romantis juga Azzam ini.


"ah masak iya sayang." aku tersenyum padanya.


"zam." terdengar suara laki-laki dari belakang kami.


Azzam menoleh, ternyata salah satu teman di club' motornya.


"gimana bro." begitu azzam memanggil temannya tadi.


"wah, pantes gak ikut anak club'. ternyata lagi sama ceweknya nih." seorang dari anak motor itu menyeletuk.


"iya nih bro.. sory ya gak bisa bareng kalian." Azzam berucap pada temannya.


"gapapa, kita mau ke depan biar makin enak jogetnya." ucap temannya lagi.


"oke deh, aku di sini aja jagain pacarku." Azzam menjawab.


segerombolan teman clubnya itupun berjalan ke depan, membelah banyak orang yang juga sedang menonton di depanku.


konser sudah berjalan sekitar satu jam, semakin malam justru semakin ramai. banyak yang berdesakan ingin menuju depan, agar bisa melihat dengan jelas sang musisi bernyanyi.

__ADS_1


rangkulan Azzam semakin erat padaku. Azzam merasa khawatir jika tiba-tiba aku tersenggol orang yang berdesakan sedang berjoget.


kini waktu menunjukkan pukul 22.00 wib. konser berjalan semakin panas dan ramai. tempat aku dan Azzam berdiri, yang sejak kami datang lumayan senggang. kini sudah mulai ramai berdesakan di penuhi orang-orang yang berjoget menikmati konser.


__ADS_2