
"kamu yakin surat panggilan orang tua ini gak bakal bikin bapak ibumu marah?." tanyaku kepada Azzam sembari berjalan beriringan menuju parkir motor.
"ya, mau gimana lagi. tadi Anggie dulu yang mulai. coba kalo Anggie gak dorong aku, gak akan kupukul juga kan itu anak." jawab Azzam yang menoleh ke arahku.
"kesempatan kamu tinggal satu kali, tolong kamu kali ini lebih sabar ya." ucapku kepada Azzam.
"iya pasti. aku gak akan ngecewain kamu." Azzam berkata sambil mengelus rambut di kepalaku.
di malam hari, Azzam mencoba memberanikan diri memberikan surat panggilan itu kepada orang tuanya. terlihat ayah dan ibu Azzam sedang menonton televisi berdua.
"pak, Bu. Azzam mau bicara." ucap Azzam yang tiba-tiba muncul di depan mereka.
"ada apa zam?." tanya ayah Azzam.
"surat panggilan orang tua." ucap Azzam seraya menyodorkan amplop berisi surat panggilan orang tua yang di berikan oleh Bu Winda tadi di ruang Bimbingan Konseling.
"masalah apa lagi kali ini!." ucap ayah Azzam sedikit keras.
"tadi waktu tanding futsal, ada yang dorong Azzam. dia sengaja, yaudah kelepasan mukul." Azzam menjelaskan dan memalingkan muka dari orang tuanya. nampaknya, Azzam sudah mengerti jika akan di marahi oleh orang tuanya.
"siapa yang kamu pukul zam?." tanya ibu Azzam.
"sudahlah, kamu urus ini anak. bapak pusing punya anak semata wayang yang bandel." ucap ayah Azzam sembari beranjak meninggalkan Azzam dan ibunya di ruang tengah tempat mereka menonton tv.
"namanya Anggie buk, dia dorong Azzam. jadi Azzam kelepasan mukul gara-gara emosi." ucap Azzam kepada ibunya.
"lalu, yang di beri surat panggilan orang tua hanya kamu?." tanya ibu Azzam.
"Anggie juga dapat Buk. kemungkinan jam hadirnya juga sama. Buk tolong Azzam sekali ini aja ya. Azzam janji gak akan ngulangi lagi." ucap Azzam dengan wajah memelas.
"Amel tahu persoalan ini zam?." tanya ibu Azzam.
"tahu buk, tolong jangan libatkan Amel ya buk. ini murni kesalahanku bukan karena Amel. aku takut jika malah mengganggu konsentrasi belajarnya di sekolah." ucap Azzam.
"tidak biasanya Azzam meminta tolong secara langsung di depanku seperti ini. saat melakukan kesalahan biasanya justru aku yang membujuk untuk kembali berangkat ke sekolah dan memberinya semangat. apa kali ini Azzam benar-benar tidak bersalah dan merasa di rugikan." gumam ibu Azzam di dalam hatinya
__ADS_1
"buk, tolong Azzam kali ini aja ya." ucapan Azzam menyadarkan ibunya dari lamunan.
"iya, besok ibuk yang akan datang ke sekolah." ucap ibu Azzam.
"makasih ya buk, muah." ucap Azzam yang tiba-tiba mencium ibunya. Azzam membalikkan badannya dan berjalan menuju kamar.
keesokan harinya, tepat jam 09.00 wib ibu Azzam sudah berada di ruang Bimbingan Konseling begitu juga dengan ibu dari Anggie.
entah apa yang akan Bu Winda bicarakan dengan mereka. yang jelas, kesempatan Azzam hanya tinggal sekali.
"aku harus mencari cara lagi agar Azzam benar-benar tidak naik kelas. hanya karena ku dorong saja dia bisa memukulku dan mendapat surat peringatan. sekali lagi itu bukan hal yang sulit untukku." ucap Anggie yang berada di loby sekolah. tidak sengaja, saat aku hendak berjalan masuk ke loby, suara Anggie kudengar dari balik pintu.
Anggie tidak mengetahui jika apa yang dia bicarakan tadi sudah kurekam.
"ini bisa jadi bukti penguat untuk membela Azzam." gumamku dalam hati. setelah aku mencatat hari, tanggal, dan waktu di setiap Anggie mengangguku dan Azzam.
aku masih berada di balik pintu, sementara Anggie sudah berjalan menuju kelasnya.
di sisi lain, rupanya Anggie berpapasan dengan azzam setelah melewati loby.
"maksud lu apa hah!!!." Azzam yang merasa tidak pernah mengganggu Anggie, merasa marah.
"lihat aja nanti." ucap Anggie. entah apa yang di fikirkan Anggie, dia meludahkan permen karet yang di kunyahnya tepat di depan azzam. sehingga permen karet itu jatuh dan menempel di atas sepatu Azzam.
"orang tua lu ngedidik lu gak si bangsat!!!." teriak Azzam yang terlihat sangat emosi.
"apa!!, pukul lagi biar puas gue lihat lu langsung di keluarin dari sekolah." ucap Anggie dengan santainya.
"sialan lu!!!." ucap Azzam sembari melanjutkan jalannya dan meninggalkan Anggie.
tidak menduga, rupanya Anggie belum puas untuk mengejek Azzam.
"dasar pengecut!." ucap Anggie.
sontak Azzam pun membalikkan badannya dan kembali menghampiri Anggie.
__ADS_1
"lu bilang apa tadi!." ucap Azzam sembari menarik baju Anggie.
"lu pengecut!." teriak Anggie tepat di depan muka Azzam.
tidak menunggu lama lagi, mereka berdua terlibat perkelahian. murid-murid yang melihat segera melerai. namun, suara keributan itu terdengar hingga loby dan ruang Bimbingan Konseling yang dimana sedang ada Bu Winda, ibu Azzam, dan ibu dari Anggie di dalam ruangan itu.
aku yang masih berada di loby segera saja berlari menuju sumber suara keributan itu. terlihat Azzam dan Anggie yang masih emosi satu sama lain. aku berlari dan segera menghampiri Azzam. kutarik tangannya untuk menjauh dari Anggie. "Azzam, kenapa lagi?." tanyaku kepada Azzam. bagian bawah matanya terlihat memar karena terkena pukulan Anggie saat berkelahi tadi.
Bu Winda tiba-tiba datang setelah ada salah satu murid yang melapor adanya perkelahian di sekolah.
"ada apa ini???." ucap Bu Winda di tengah banyaknya murid yang melerai perkelahian.
Bu Winda menoleh ke arah Azzam dan Anggie.
"Azzam lagi, Anggie lagi. kalian lihat orang tua kalian sedang berada di ruang BK karena masalah perkelahian kemarin. sekarang sudah berkelahi lagi. kalian ikut ibu ke ruang BK sekarang." ucap Bu Winda yang menampakkan ekspresi marah.
"udah, kamu yang tenang. aku yakin ini bukan salahmu sepenuhnya." ucapku menenangkan Azzam agar tak terpancing dengan perkataan Anggie.
Azzam dan Anggie mengikuti Bu Winda menuju ruang Bimbingan Konseling.
ibu Azzam dan ibu Anggie terkejut melihat anak mereka masuk ruangan Bimbingan Konseling dengan beberapa memar di wajahnya.
"kenapa kamu berantem lagi zam.." ucap ibu Azzam yang melihat Azzam hanya menunduk saja.
"kalian duduk dulu di kursi." ucap Bu Winda mempersilahkan Azzam dan Anggie untuk duduk di kursi yang berada di depan ibu mereka.
"ibu gak habis fikir ya Azzam, Anggie. orang tua kalian sedang berada di sini untuk menyelesaikan masalah yang kemarin. sekarang kalian sudah berantem lagi. mau kalian itu apa?. terutama kamu Azzam. kemarin itu surat peringatan keduamu. sekarang kamu berantem lagi. ibu tidak tahu harus berbuat apa lagi. naik atau tidaknya kamu ke kelas dua belas biar pihak sekolah yang menilai. ibu hanya bisa mendoakan agar kamu naik." ucap Bu Winda kepada Azzam dan Anggie.
sistem sekolah di sini adalah jika tidak naik kelas, maka harus pindah sekolah. karena pihak sekolah merasa gagal mendidik murid tersebut dan mungkin murid tersebut bisa di didik di sekolah lain.
"Azzam, khusus kamu. ini sudah peringatan ketiga, Bu Winda sudah tidak bisa berbuat apa-apa. hanya tinggal menunggu keputusan dari pihak sekolah. Bu Winda sudah tidak mau mendengar penjelasan dari kalian. ini sudah kedua kalinya kalian berantem. kalian kelas sebelas bukan menjadi contoh yang baik untuk kelas sepuluh malah menjadi contoh buruk. dan kamu Anggie, ini peringatan keduamu. apa kamu juga ingin seperti Azzam." ucap Bu Winda kepada Azzam dan Anggie.
terlihat Azzam dan Anggie hanya menunduk dan tidak bersuara sama sekali.
Bu Winda melanjutkan lagi bicaranya dengan orang tua Anggie dan Azzam.
__ADS_1