
aku dan Azzam memutuskan untuk balikan. sudah beberapa hari ini, Azzam terlihat semangat bersekolah. dan motor antiknya, sudah di jual oleh ayahnya.
kini, Azzam memakai motor matic pemberian ayahnya sebagai ganti motor antiknya yang di jual.
di Minggu yang cerah ini, aku dan Azzam pergi ke kota hanya untuk sekedar jalan-jalan. kami mampir di salah satu kafe. tidak sengaja, kami bertemu dengan Roni. teman club' motor Azzam.
"apa kabar bro!!." ucap Roni sambil menghampiri meja kami.
"wah baik nih. kamu sendiri gimana?." tanya Azzam kepada Roni.
"wah kacau zam, club' motor kita sekarang berantakan banget semenjak kamu keluar. tidak ada yang bisa menggantikan mu sebagai ketua." ucap Roni sambil menggelengkan kepalanya.
"yang benar saja." ucap Azzam dengan santainya.
"beneran zam, bahkan kumpulan rutin sekarang sudah jarang sekali." ucap Roni.
"kamu dong Ron, maju jadi ketua." jawab Azzam sambil tertawa kecil.
"wah berat zam, kamu gak kepikiran buat balik lagi ke club' motor nih." ucap Roni.
mataku melirik ke arah Azzam dengan tajam. tentu Azzam sudah mengetahui maksudku.
"aku gak bisa Ron, maaf ya." jawab Azzam.
"ayolah zam, apa kamu gak kangen touring-touring lagi." ucap Roni seraya membujuk Azzam agar mau masuk lagi ke club' motornya.
"duh maaf nih Ron sebelumnya, bukannya aku gak mau masuk lagi ke dalam club motor. tapi motorku sudah di jual oleh ayahku Ron." ucap Azzam sambil tersenyum.
kini, raut wajahku juga menampakkan senyum kepuasan. karena Azzam sudah bisa meninggalkan club motor sepenuhnya.
"yah, kenapa harus di jual zam." ucap Roni dengan wajah malas.
"maaf ya Roni. aku harus fokus sekolah dulu. aku gak ingin mengecewakan orang tuaku yang sudah membesarkan dan membiayaiku." ucap Azzam kepada Roni.
"halah zam, sesekali ikut touring aja gakpapa deh. soal motor nanti kan bisa bareng sama aku. pokoknya ya zam, aku cinta banget sama motorku. aku aja belum punya pacar sampai sekarang karena hobyku ini. sehidup semati deh aku sama motorku ini" Roni berkata sambil terus membujuk Azzam.
"maaf ya Ron, aku udah gak bisa. karena kemaren aku naik kelas bersyarat. jika aku bolos sekali aja, aku gak naik ke kelas dua belas nantinya. bukan itu aja, aku juga bakal kehilangan Amel. orang tuaku tidak akan merestui hubunganku dan Amel jika aku tidak naik kelas." ucap Azzam kepada Roni.
"yah, kamu sih zam. pake sekolah di situ. sekolah yang terkenal ketat sekali aturannya." ucap Roni.
disini, aku tidak berucap sama sekali. aku hanya ingin tahu, seberapa kuat tekad Azzam untuk berubah dan tidak ingin kembali ke club' motornya.
"ini sudah menjadi keputusanku Ron. maaf ya, aku tidak bisa kembali ke club' motor." ucap Azzam. kini, tangan kiri Azzam meraih tangan kananku di atas pahaku. begitu erat genggamannya.
"oke zam, kuhargai pengorbananmu demi Amel. dan kamu Mel, jangan membuat Azzam kecewa ya. dia berkorban meninggalkan hobynya yang sudah sejak lama di gemari. sukses buat kamu zam, langgeng ya hubungan kalian." ucap Roni sambil menepuk pundak Azzam.
"iya Ron, makasih pengertiannya." ucap Azzam.
aku hanya tersenyum menimpali ucapan Roni tadi.
"yaudah... aku duluan ya zam, Mel." ucap Roni seraya berpamitan.
__ADS_1
"hati-hati Ron." ucap Azzam sambil menyaksikan temannya itu berjalan keluar kafe.
Azzam menatapku, tatapan penuh makna yang sudah kuketahui artinya.
"kamu gak nyesel kan keluar dari club' motor?." tanyaku kepada Adam.
"gak, gak ada kata menyesal demi kamu. makasih ya, sudah mau menemaniku sejauh ini." ucap Azzam.
"aku bakalan terus nemenin kamu kok." ucapku kepada Azzam.
"semoga akan seterusnya Azzam begini. bukan karena hanya ingin naik ke kelas dua belas saja." ucapku dalam hati.
selang beberapa menit aku dan Azzam mengobrol berdua di kafe, tiba-tiba handphone Azzam berbunyi.
Azzam mengambil handphonenya dan melihat panggilan masuk dari Roni.
"lah, baru aja pergi. udah nelfon aja di Roni." ucap Azzam heran.
"angkat yang." ucapku.
"halo Ron, gimana?." Azzam menjawab panggilan WhatsApp dari Roni.
"halo, maaf ini saudaranya Roni?." terdengar bukan suara Roni yang menjawab.
"ini siapa ya? Roninya dimana?."
Azzam mengeraskan speaker di panggilan WhatsAppnya. kini, aku juga mendekatkan telingaku karena penasaran.
"bapak jangan berbohong ya." ucap Azzam. kali ini raut wajahnya menampakkan ekspresi serius.
"saya tidak berbohong. saya juga tidak berniat mengambil handphonenya. tadi saya hanya melihat kontak anda berada di paling atas. jadi saya telepon." ucap lelaki tadi meyakinkan.
"saya segera kesana." ucap Azzam.
"Roni beneran kecelakaan yang?." dahiku mengerut mendengar percakapan Azzam dan lelaki tadi.
"aku gak tahu pasti, tapi kita coba ke alamat itu. jalan Majapahit yang ada toko bangunan antasina itu tidak jauh dari sini." Azzam terbangun dari duduknya. dengan cepat Azzam memakai jaket dan menggandengku segera menuju motor.
aku dan Azzam bergegas menuju tempat yang di sebutkan lelaki tadi.
benar saja, disana sudah ramai orang yang menyaksikan sebuah insiden kecelakaan.
"astaga, Roni!!!!." teriak Azzam, seraya turun dari motor sambil melepas helmnya.
aku turun dari motor, dengan cepat kulepas helmku. kususul Azzam yang tengah berlari menuju titik keramaian itu.
terlihat motor Roni di sebrang jalan. motor yang selalu menemani Roni kemanapun itu, saat ini rusak parah. mungkin tadi berada di tengah jalan, lalu di pinggirkan oleh orang-orang di sekitar. masih terlihat pecah-pecahan kaca di tengah jalan. mungkin saja pecahan itu berasal dari beberapa onderdil motor Roni yang remuk.
"lalu dimana Roni?" ucapku dalam hati.
"mana korbannya pak?." Azzam bertanya kepada seorang bapak-bapak yang juga berada di tempat itu.
__ADS_1
"itu nak, yang sedang di kerubungi warga." ucap bapak itu.
"lho, kenapa di jalanan. kenapa Roni tidak di angkat ke pinggir jalan atau di bawa langsung ke rumah sakit terdekat." ucapku lirih karena terheran-heran.
Azzam berlari menuju kerumunan itu.
"minggir dulu, minggir!!." ucap Azzam dengan wajah yang sangat khawatir.
"Roni!!!!." teriak Azzam.
azzam sangat terkejut melihat keadaan Roni. tumbanglah kedua lutut Azzam di hadapan Roni.
"pak, kenapa tidak ada yang langsung membawa teman saya ke rumah sakit...!!!!" ucap Azzam sambil meneteskan air mata.
"maaf dek, kami tidak berani karena keadaan korban separah itu. tapi tadi salah satu warga sudah menelepon ambulance. dan sedang berjalan kemari." jawab salah satu warga yang mengerumuni Roni.
aku yang juga berlari menyusul Azzam, membelah kerumunan yang berada di jalan ini.
"astaga Roni, kenapa bisa jadi begini." ucapku melihat keadaan Roni yang separuh badannya sudah di tutupi kardus. matanya masih terbuka dan bisa melihat kedatanganku dan Azzam. namun, tidak ada yang berani memindahkannya ke tempat yang lain karena keadaannya sangat parah.
aspal siang ini terasa sangat panas, Azzam masih menemani Roni sambil menunggu ambulance tiba. aku keluar dari kerumunan. aku mencari apapun yang bisa melindungi mereka berdua dari panasnya terik matahari siang ini. apalagi Roni, yang sedang terkapar di atas aspal tanpa satupun orang yang berani menolongnya. mungkin karena takut keadaannya semakin parah jika di pindahkan.
aku meminjam payung di salah satu warga yang sedang berjualan.
"bu, saya mohon banget minta tolong pinjami payungnya untuk temen saya yang kecelakaan disana." ucapku sambil menunjuk ke arah Azzam dan Roni.
"bawa saja nak. ibu tidak tega melihat kawanmu yang jatuh itu. semoga selamat ya." ucap ibu penjual makanan yang memberikan sebuah payung padaku.
aku berlari menuju arah Azzam dan Roni. aku terduduk di sebelah Azzam yang terus menitihkan air mata melihat keadaan Roni.
"Ron, sabar ya ambulance sedang berjalan kesini. aku bakal terus menemanimu." ucap Azzam.
kulihat Roni sudah tidak bisa berkata-kata lagi. air matanya mengalir, menetes di aspal yang sangat panas ini.
aku benar-benar tidak tega melihat Roni. kulihat ambulance belum juga datang. kupayungi Roni yang kini, kepalanya berada di pangkuan Azzam.
selang beberapa menit, terdengar sirine ambulance. ambulance berhenti dan para petugas medis segera mengangkat Roni, para warga yang menyaksikan menutup mulut mereka dengan jari. terlihat beberapa orang menjauh karena tidak tega melihat keadaan Roni yang sangat parah, setengah dari tubuhnya hampir terpisah dan hancur.
Azzam menemani Roni di dalam ambulance. sementara aku, berlari menuju motor yang di kendarai aku dan Azzam tadi.
kuhampiri salah satu warga yang berada di lokasi kejadian ini.
"maaf pak, tadi gimana ceritanya ya teman saya sampai terjatuh dari motor dan luka separah itu." ucapku kepada seorang bapak-bapak.
"tadi yang bapak lihat, temennya neng ini mau menyalip mobil namun tidak sampai. dan de depan melaju truk dengan kencang. sehingga temannya neng ini tertabrak truk dari depan." bapak yang kutanya tadi menjelaskan kejadian jatuhnya Roni di jalan.
"astaga Roni." aku merinding mendengar cerita dari bapak tersebut.
"neng ini temannya?." tanya bapak tadi.
"iya pak. saya susul teman saya dulu, mari." ucapku seraya berpamitan kepada bapak-bapak tadi.
__ADS_1
aku bergegas menyusul Azzam dan Roni ke rumah sakit.