
"Mel." suara Azzam terdengar dari arah belakangku.
"Azzam." aku terkejut.
"aku nyariin kamu dari tadi, taunya disini. kalian ngapain disini?, kenapa gak ke lapangan. semua siswa lagi ngrayain kelulusan lho." ucap Azzam.
"tadi aku sama fia nyariin Nisa." jawabku kepada Azzam.
"ketemu gak?." tanya Azzam.
"tadi Nisa di bawa pergi sama Anggie. tapi Nisa nampak terpaksa banget. kasihan, tapi aku gak berani ikut campur." ucap fia.
"dibawa kemana?." tanya Azzam.
"enggak tahu, yaudah aku tinggal ke lapangan dulu ya Mel. kalian nanti nyusul" ucap fia.
"iya fi." sahutku.
fia pergi ke lapangan meninggalkan aku dan Azzam. aku dan Azzam duduk di dekat loby. di sebuah gazebo kayu berukuran lumayan besar, mungkin cukup jika di duduki empat orang.
"Anggie bener-bener mau nikahin Nisa?." tanya Azzam padaku.
"iya zam, bahkan semuanya udah di persiapin sama orang tua mereka. tapi, nampaknya Nisa terpaksa mau menikah sama Anggie deh." ucapku.
"kasihan si Nisa, dulu Nisa bantuin kita waktu Anggie selalu ngejahilin kita. tapi sekarang, kita belum bisa bantuin Nisa apa-apa." ucap Azzam padaku.
"mau bantu juga gimana caranya zam, toh hari pernikahan mereka sudah di tetapkan." ucapku.
"lagipula, kenapa si orang tua si Nisa mau-maunya jadiin anak untuk korban. padahal yang banyak hutangnya kan mereka, bukan si Nisa." ucap Azzam yang terlihat kesal.
"si Nisa tadi bilang, kalo hutangnya juga udah gak bisa di hitung berapa. karena sejak Nisa masih kecil orang tua Anggie sudah banyak membantu keluarga Nisa. dulu, Nisa memang suka sama Anggie. Nisa juga merasa senang saat masih SMP. sebelum semua sifat psikopat Anggie keluar." ucapku kepada Azzam.
"bukannya Anggie udah mutusin Nisa juga ya?, terus ngincer kamu kan. sampe sempet mukulin aku juga waktu itu." tanya Azzam yang terlihat heran dengan sikap Anggie.
"entah, apa yang ada di pikiran Anggie. apa sebenarnya Anggie juga gak cinta sama Nisa. hanya di bujuk kedua orang tuanya saja. aku pun belum tau zam." ucapku kepada Azzam.
__ADS_1
sementara itu, Nisa di bawa pergi oleh Anggie menuju sebuah resto. dimana terlihat ada satu meja di hiasi bunga-bunga dan di beri ucapan kelulusan di atas meja tersebut.
"kamu yang nyiapin ini nggie?." Nisa berkata kepada Anggie sembari meletakkan buket bunga yang di beri Anggie di atas meja.
"gak, semua ini yang nyiapin orang tuaku!." ucap Anggie ketus.
"emm.." Nisa hanya bisa tersenyum.
"lagian, aku jemput kamu di sekolah. mau jalan sama kamu, merayakan apalah inilah itulah. semua itu perintah orang tuaku nis. aku udah gak cinta sama kamu sejak kuputuskan kamu!." ucap Anggie seraya meminum segelas juice yang sudah di sediakan di atas meja.
"nggie, tapi kita bentar lagi nikah." sahut nisa.
"ya aku mau nikah sama kamu agar orang tuaku tetap ngasih semua yang aku inginkan. kalo gak gitu, semua fasilitas dari orang tuaku bakal di sita." ucap Anggie memalingkan muka dari Nisa.
"nggie, kamu kira aku juga gak kepaksa?. hanya karena orang tuaku berhutang Budi pada keluargamu. aku yang harus di jadikan korban untuk menikah denganmu." ucap Nisa seraya meneteskan air mata.
tiba-tiba Anggie melihat kedua orang tuanya memasuki resto. sontak saja, Anggie berpura-pura baik terhadap Nisa.
"Hay Nisa." ucap ibu Anggie.
"gimana kalian suka sama suprise yang udah Tante buatin buat kalian?." ucap ibu Anggie.
"suka dong ma. suka banget." ucap Anggie sembari tertawa.
"Nisa, kamu juga suka kan?. kok kayak abis nangis gitu?." tanya ibu Anggie kepada Nisa.
"suka kok Tante, tadi aku terharu karena ini bagus banget." ucap Nisa di depan kedua orang tua Anggie.
"yasudah, ayah dan ibu mau lanjut pulang. tadi dari mall, kebetulan lihat kalian udah berada di sini. jadi kami mampir sebentar." ucap ibu Anggie kepada Anggie.
"sekarang ayah sama ibu mau kemana?, atau mau ikut makan di sini bareng aku sama Nisa?." tanya Anggie sembari menawarkan kursi yang masih kosong di mejanya.
"oh, enggak. mau langsung pulang aja. kalian nikmati semua hidangan di resto ini. tagihannya nanti biar ayah yang bayar. iya kan yah?." ibu Anggie menoleh ke arah suaminya.
"oh iya pasti, kalian sebentar lagi kan akan menjadi suami istri. jadi kalian harus memperkuat kemistri kalian dulu. sering-sering kencan berdua seperti ini." ucap ayah Anggie.
__ADS_1
"yaudah, ayah sama ibu pulang dulu ya." ucap ibu Anggie.
"oke Bu, yah." ucap Anggie seraya mencium tangan ayah dan ibunya.
"iya om, Tante. hati-hati dijalan ya." ucap Nisa yang menyusul mencium tangan kedua orang tua Anggie.
kedua orang tua Anggie sudah berjalan keluar dari resto, dan masuk ke dalam mobil. lima menit kemudian, mobil mereka sudah tidak terlihat di parkiran. menandakan mereka sudah berjalan pulang ke rumah.
"makan ni semua. enak kan di bayarin sama orang tua gue!." ucap Anggie semakin ketus di depan Nisa.
"sungguh nggie, jika bukan karena orang tuaku berhutang pada orang tuamu. aku tidak ingin menikah denganmu." ucap Nisa.
"lu pikir, gue mau nikah sama lo?. gak mau gue. Lo tau sendiri gue kemarin ngincer si Amel kan. ya berhubung gue kalah telak dari si Azzam. yaudah gue nanti mau cari yang lebih cakep lagi." ucap Anggie di depan Nisa.
"emang pantes nggie kamu ngomong gitu di depan aku. di depan calon istrimu." Nisa berkata seraya membendung air matanya.
"ah udahlah nis. lagian pernikahan ini menguntungkan buat Lo. gimana udah lunas semua hutang orang tua Lo kan?. makannya jadi orang jangan miskin-miskin amat nis." ucap Anggie.
"maksud Lo apa ngehina gue nggie?, manusia tidak bisa memilih takdir hidupnya akan kaya atau miskin saat di lahirkan." ucap Nisa sembari terbangun dari duduknya.
"apa?, gue gak ngehina. gue bicara kenyataannya. tapi ya gimana, dengan nikah sama lo. gue tetap dapat fasilitas. dan dapat apartemen juga meski nanti Lo tinggal disana juga." ucap Anggie dengan wajahnya yang nampak malas.
"sabar niss... sabar..... Lo harus bisa nurunin ego lu.. ini demi orang tua lu biar mereka gak jatuh miskin. mesti lu harus ngorbanin kebahagiaan lu sendiri. sabar....." ucap Nisa di dalam hatinya.
"abisini tu makanan. abis ni gue anter lo pulang." ucap Anggie.
"kamu sendiri gak makan?." tanya Nisa kepada Anggie.
"gak, gak mood gue lihat Lo." ucap Anggie.
Nisa dengan lahap menyantap hidangan yang ada di depannya. sementara Anggie hanya melihatnya saja. namun, Anggie merasa lapar saat melihat Nisa yang makan sangat lahap. akhirnya Anggie mengambil sendok dan garpu, ikut menyantap hidangan yang ada di depannya.
"katanya gak mood makan gara-gara ada gue." ucap Nisa meledek Anggie.
"apaan Lo. ini kan yang bayar ayah gue. serah gue dong mau makan apa gak." ucap Anggie yang juga lahap menyantap hidangan yang ada di depannya.
__ADS_1