Sumpah Serapah Mantan Kekasih

Sumpah Serapah Mantan Kekasih
bab 23


__ADS_3

sampai di rumah sakit.


aku bergegas memarkirkan motor dan melepas helm.


aku berlari menuju rumah IGD. terlihat Azzam duduk di depan ruangan.


"gimana keadaan Roni." tanyaku kepada Azzam.


"tadi di tengah jalan Roni udah gak sadarkan diri. keluarganya sedang menuju kesini." ucap Azzam terisak-isak.


Roni ngekos di kota ini. keluarganya berada di kota lain. alasan Roni bersekolah jauh dari orang tuanya adalah agar Roni bisa mandiri. tapi takdir berkata lain.


selang beberapa jam, Azzam tertidur di kursi ruang tunggu. sementara aku, masih duduk menemani di sampingnya.


terlihat ayah dan ibu Roni datang menghampiriku dan Azzam.


aku terkaget dan segera kubangunkan Azzam.


"Gimana keadaan Roni?. kenapa bisa begini." ucap ibunda Roni sambil terus meneteskan air mata.


ayah Roni berada di samping sang bunda dan terus menguatkan istrinya itu.


terlihat raut wajah ayah Roni yang sangat sedih namun harus tetap tegar agar ibunda Roni tidak terlarut-larut dalam sedihnya.


"Roni masih di dalam ruangan Bu, kondisinya tadi di jalan sangat parah." ucap Azzam. kepalanya menunduk, tidak berani menatap ibunda Roni yang terlihat sangat sedih.


kami berempat duduk di kursi tunggu depan ruang IGD. beberapa saat kemudian, seorang dokter keluar dari dalam ruang. terlihat dokter tersebut berjalan ke arah kami. belum juga dokter sampai di depan kami, kami justru berlari lebih dahulu menghampiri dokter tersebut.


"gimana dok?, gimana keadaan anak saya?." tanya ibunda Roni kepada dokter.


"keluarga dari saudara Roni yang mana?." tanya dokter kepada kami.


"saya ibunya dok, ini ayahnya." ucap ibunda Roni.


"baik pak, Bu. ikut saya kedalam ruangan." ucap dokter.


kedua orang tua Roni lalu mengikuti dokter berjalan menuju ruangan. terlihat wajah kedua orang tua Roni yang gelisah.


aku dan Azzam kembali duduk dan menunggu hasil dari pemeriksaan dokter.


beberapa saat kemudian, terlihat beberapa anak club' motor berjalan ke arah kami.

__ADS_1


"zam." panggil salah satu dari mereka.


Azzam menoleh dan segera berdiri.


"apa yang terjadi?." ucap salah satu anggota dari club' motor itu.


"Roni mengalami kecelakaan, lukanya cukup parah." Azzam menggelengkan kepalanya. terlihat wajahnya sangat khawatir dengan keadaan Roni.


Azzam hanya bisa mondar mandir di depanku. anak-anak motor yang datang juga duduk di kursi menunggu hasil dari pemeriksaan dokter.


"grek" terdengar suara pintu yang di buka.


sontak aku, Azzam, dan semua anak anggota motor club' tadi menoleh ke arah pintu.


terlihat kedua orang tua Roni yang menangis terisak-isak. tidak menunggu lama, aku berdiri dan berlari menghampiri mereka. ku gandeng ibunda Roni yang masih terisak-isak karena tangisannya.


"buk, ibu tenangin diri dulu ya." ucapku sambil kutuntun ibunda Roni menuju kursi tunggu yang penuh dengan anak motor tadi.


aku belum berani menanyai bagaimana keadaan Roni, aku takut jika tangis ibunda Roni akan semakin menjadi-jadi.


Azzam memberiku sebotol air mineral, kubuka tutup botol dan kuberikan kepada ibunda roni supaya bisa tenang. sementara ayah Roni, hanya duduk dan terlihat tatapan matanya yang kosong. sesekali air mata terlihat mengalir dari matanya.


"buk, gimana keadaan Roni?." tanyaku dengan pelan dan lirih.


"Roni gak bisa selamat nak." ucap ibunda Roni yang membuat semua anggota club' motor terkejut, termasuk Azzam.


"innalilahiwainnalillahirojiun" ucapku dan di susul semua anggota club' motor yang sembari tadi menemani di sini.


"Ron, kenapa secepat ini." ucap Azzam, wajahnya terlihat sembab karena sejak berada di tempat Roni jatuh, Azzam sudah menangis sejadi-jadinya. kali ini, air matanya keluar lagi. mendengar kabar duka ini.


"ibu akan memakamkan jenazah Roni di kampung halaman ibuk. ibuk mengucapkan terimakasih banyak kepada kalian yang sudah menjadi teman baik Roni semasa hidupnya. terutama Azzam, ibuk sering sekali mendengar namamu di setiap cerita Roni. terimakasih sudah menjadi teman baik Roni. ibuk minta doa dari kalian semua agar Roni diampuni segala dosanya dan di tempatkan di surganya" ucap ibunda Roni kepada kami.


"amiin" terdengar aku, Azzam, dan seluruh anggota club' mengaminkan doa dari ibunda Roni.


Azzam duduk di sampingku, di sandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.


tak henti-hentinya air mata jatuh membasahi pipinya.


setelah itu, kedua orang tua Roni mengurus kepulangan jenazah Roni, aku dan Azzam ikut dalam pemakaman Roni, meskipun jauh, tidak menghalangi niat kami untuk ikut mengantarkan Roni kepada tempat peristirahatan terakhirnya.


begitu juga teman-teman anggota dari club' motor, mereka ikut dalam semua proses kepulangan jenazah Roni.

__ADS_1


aku dan Azzam sangat tidak menyangka jika Roni akan secepat ini meninggalkan kita semua.


aku dan Azzam ikut dalam proses pemakaman roni, tak henti kami mendoakannya.


Azzam terduduk lemas di samping makam Roni. air matanya masih mengalir sejak tadi.


"Ron, kenapa secepat ini." ucap Azzam seraya memegang batu nisan yang sudah bertuliskan nama Roni.


aku mengelus punggung Azzam dan mencoba menenangkannya. kuajak Azzam pulang karena hari Sudah sore menjelang malam.


keesokan harinya, aku dan Azzam berangkat sekolah sepertu biasa. mata Azzam masih terlihat sembab.


Senin, pukul 16.00 wib.


aku dan Azzam pulang sekolah bersama. dalam perjalanan, aku dan Azzam tidak sengaja melihat motor Roni yang rusak berada di kantor polisi dekat dengan tempat kejadian perkara kemarin.


Azzam mengajakku mampir ke sebuah taman. kami duduk di kursi yang berada di taman ini.


"aku masih teringat dengan kata-kata terakhir Roni. dia kemarin bilang dia ingin sehidup semati dengan motornya, tanpa kusadari itu adalah ucapan terakhirnya sebelum dia benar-benar sehidup semati dengan motor itu." ucap Azzam sembari duduk di kursi taman.


"aku juga tidak menyangka Roni akan secepat ini meninggalkan kita semua. kita doakan roni semoga di tempatkan di tempat terbaik di sisinya." ucapku kepada Azzam.


aku dan Azzam duduk termenung di sore hari ini.


"eh gerimis sayang." ucapku sambil menadahkan tangan memastikan gerimis yang datang.


"yaudah kita lanjut jalan sayang, sebelum gerimisnya semakin lebat." ucap Azzam sambil menggandeng tanganku. aku dan Azzam melanjutkan perjalanan untuk pulang kerumah.


keesokan harinya, kulihat Azzam sudah mulai terlihat ceria. setelah dua hari kemarin Azzam benar-benar tidak bisa diajak tersenyum.


"Bantar lagi ujian tengah semester, kamu rajin belajar ya sayang. aku seneng banget kamu udah berubah gini." ucapku kepada Azzam saat hendak memasuki kelas.


"demi hubungan kita, apapun akan aku lakukan sayang." ucap Azzam sambil tersenyum.


"aku masuk kelas dulu ya." ucapku sambil berjalan menuju pintu kelasku.


"semangat sayang....!!!." terdengar suara teriakan Azzam dari luar kelas.


"cieeee" ucap Nisa dan fia yang sudah duduk di bangku sejak tadi.


aku hanya tersenyum melihat tingkah laku pacarku yang terlihat random itu.

__ADS_1


__ADS_2