
aku menggandeng Azzam dan mengajaknya berjalan ke taman. kuajak duduk di salah satu kursi taman yang berada di bawah pohon mangga.
"apa yang terjadi tadi?." ucapku bertanya kepada Azzam.
"entah, aku hanya berjalan sendiri menuju kantin. tiba-tiba Anggie menyeretku ke parkiran. apa Anggie masih menyimpan rasa ke kamu?." Azzam menjawab pertanyaanku.
"aku gak tau, yang jelas dulu Anggie yang membuangku karena lebih memilih nisa. aku dulu mengalah dan gak pengen memperpanjang masalah. tapi setelah aku sama kamu, dan Anggie putus dengan Nisa. kenapa hubungan kita yang jadi incaran untuk di hancurkan." ucapku heran.
"aku gak bakal biarin ini." ucap Azzam padaku.
"kamu harus hati-hati. bisa saja ini jebakan Anggie untuk memancing emosimu. karena kamu naik kelas bersyarat, apapun yang kamu lakukan di sekolah pasti di awasi guru. apalagi kalau sampai ada perkelahian. kamu bakal kena surat peringatan lagi. dan aku takut kalau kamu gak naik ke kelas dua belas." ucapku seraya menghela nafas. entah rencana Anggie apa. kenapa Anggie sepertinya ingin sekali membuat azzam keluar dari sekolah ini.
"makasih ya, kamu udah setia menemani aku selama ini. dari aku yang suka membolos hingga sekarang aku menjadi sesabar ini." ucap Azzam padaku.
"aku bakalan terus menemani kamu." ucapku.
ternyata, obrolanku dan Azzam di dengar oleh Anggie yang berada di balik pohon mangga.
"sial!!, kalo Azzam mengalah terus. bagaimana aku bisa merebut Amel. gimanapun caranya Azzam harus kena surat pelanggaran dan tidak naik ke kelas dua belas. agar aku bisa merebut Amel." ucap Anggie dalam hati.
tidak sengaja, Anggie menginjak sebuah kaleng bekas minuman di bawah kakinya.
"krakkk." terdengar suara kaleng yang terinjak.
sontak aku dan Azzam menoleh bersamaan ke arah pohon. terlihat Anggie yang berlari menjauh dari pohon.
"itu kan Anggie." ucapku.
"apa sih maunya itu anak." ucap Azzam.
"apa dia mendengar percakapan kita?." tanyaku kepada Azzam.
"sudah pasti mendengar, jarak kita dengan pohon ini deket banget." ucap Azzam wajahnya terlihat khawatir.
__ADS_1
"Anggie pasti akan menyusun rencana baru untuk menjebakmu. karena dia tahu. kamu pasti akan mengalah." ucapku yang juga ikut khawatir.
"bener-bener si Anggie." ucap Azzam.
"kamu yang sabar ya sayang." ucapku menenangkan Azzam yang terlihat emosi.
aku dan Azzam kembali ke kelas masing-masing.
di kelas, aku mencoba bertanya kepada Nisa perihal hubungannya dengan Anggie.
aku mendatangi meja Nisa.
"nis, boleh ikut duduk?." tanyaku kepada Nisa.
"oh, boleh Mel silahkan." jawab Nisa seraya tersenyum.
"nis, kamu beneran udah putus sama Anggie?." tanyaku kepada Nisa.
"kamu kenapa nanya gitu?. Anggie gangguin kamu ya?." tanya Nisa padaku.
"emmm.." sahutku.
"aku udah putus sama Anggie Mel." jawab Nisa yang menoleh ke arahku.
"tapi nis, kenapa yang jadi incaran sekarang Azzam. bahkan kemarin, kamu lihat sendiri. Anggie mau mengajak Azzam berkelahi." ucapku lirih kepada Nisa.
"itulah Anggie, apapun pasti akan dilakukan untuk keinginannya. dulu, sebelum Anggie menjadi pacarku. aku juga sudah mempunyai pacar." ucap Nisa yang terlihat mulai nyaman bercerita.
"lalu?." tanyaku heran.
"Anggie melakukan berbagai cara agar hubunganku dan pacarku putus. Anggie bahkan pernah menggunakan akun palsu dengan nama pacarku, sedangkan di dalamnya ada foto beberapa cewek. dan bodohnya aku. aku tidak percaya dengan pacarku. aku malah mempercayai Anggie yang datang seakan membawa obat hati. yang ternyata Anggielah pelaku sebenarnya. aku ninggalin pacarku dan menjadikan Anggie sebagai pengganti. tapi, setelah aku mengetahui kebenarannya. aku sudah tidak bisa balik ke pacarku yang dulu karena dia sudah punya pengganti. aku nyesel banget. tapi apa daya aku sudah terlanjur menjadi pacar anggie. mungkin benar saat kamu datang ke rumah Anggie. kamu berfikir bahwa aku hanya diam saja. kamu mungkin bertanya-tanya apakah aku tidak punya rasa cemburu. aku sudah tidak ada rasa dengan Anggie sejak lama. hanya saja aku masih bertahan dengannya. orang tua kami saling menjodohkan Mel. sering sekali Anggie bermain wanita di belakangku. jadi, aku tidak lagi heran saat Anggie juga mendekatimu." ucap Nisa padaku.
"lalu, kenapa kamu gak putusin Anggie sejak lama nis?. kamu bisa beralasan Anggie main wanita di belakangmu." ucapku yang terlihat heran.
__ADS_1
"engga Mel. jika aku memutuskan dan Anggie tidak mau putus denganku. aku yang akan terus menjadi incaran agar tidak bisa mendapat lelaki lain. selagi Anggie belum bisa merelakan ku, pasti Anggie akan menggunakan banyak cara agar tidak ada cowok yang mendekatiku." ucap Nisa.
"jadi, kemarin yang mutusin Anggie?." tanyaku kepada Nisa.
"iya, aku merasa sangat lega saat Anggie mengucapkan kata putus padaku. itulah kenapa, saat kemarin aku melihat Anggie dan Azzam hendak berkelahi. aku hanya diam saja. emmm sebenarnya aku kasihan sama Azzam. kulihat Anggie ingin sekali merusak hubunganmu dan Azzam." ucap Nisa seraya memegang pundakku.
"iya nis, aku juga sama. Azzam naik kelas ke kelas sebelas ini bersyarat. aku takut jika Anggie berulah seperti kemarin. aku takut Azzam tidak bisa naik ke kelas dua belas. dan tentu saja, hubunganku dan Azzam akan terputus." ucapku kepada Nisa.
"kamu yang sabar ya, aku akan mensupport kamu sebisaku." ucap Nisa seraya tersenyum.
"makasih ya nis." ucapku kepada Nisa.
aku kembali ke mejaku yang tidak jauh dari tempat Nisa.
"apa yang nisa katakan Mel?." ucap fia penasaran.
"gakpapa fi, Nisa ternyata sudah putus dengan anggie." jawabku.
"owalahhhh..... benar saja, kemarin lihat Anggie dan Azzam yang hendak berkelahi malah cuek-cuek saja. ternyata udah putus..." ucap fia.
"fi, makasih ya. kemarin kamu udah ngasih tahu aku kalo Azzam di seret Anggie ke parkiran dan hendak berkelahi." ucapku kepada fia.
"iya Mel, aku kemarin gak sengaja lihat Anggie dan Azzam seperti ingin berkelahi. aku kasihan sama Azzam kalo dia kena surat peringatan lagi dan gak bisa naik ke kelas dua belas nantinya. bukan itu aja sih. hubunganmu juga bakal berakhir kalo Azzam gak naik kelas. aku gak mau lihat kamu di kecewakan lagi." ucap fia yang terlihat khawatir.
"makasih ya fi, udah jadi sahabat terbaik aku selama ini." ucapku kepada fia.
aku dan fia berpelukan sebagai tanda persahabatan kita yang tulus.
"iya Mel, maafin aku juga dulu pernah ndiemin kamu lama." ucap fia.
"gakpapa fi, yang penting sekarang kita udah baikan lagi." ucapku seraya melepas pelukan fia.
"yang sabar ya Mel, aku bakal terus bantuin kamu sebisaku kok." ucap fia kepadaku.
__ADS_1
"makasih banyak sahabatku." ucapku tersenyum kepada fia.