Sumpah Serapah Mantan Kekasih

Sumpah Serapah Mantan Kekasih
bab 19


__ADS_3

di malam hari, aku mencoba menghubungi Azzam. aku coba menghubunginya lewat panggilan WhatsApp.


"halo sayang." Azzam mengangkat panggilan WhatsAppku.


"aku tadi di panggil Bu Winda ke ruangannya." jawabku kesal.


"apa yang Bu Winda katakan?." Azzam bertanya padaku.


"kamu kenapa sih bolos lagi?, katamu ingin membuktikan jika di kelas sebelas ini kamu mau berubah." jawabku.


"maaf sayang, setelah ini aku janji gak akan bolos lagi." ucap Azzam.


"terserah kamu deh!!." jawabku dengan kesal. aku menutup panggilan WhatsApp.


"apa sih si Azzam, bolos lagi. katanya mau berubah. nyatanya masih mau bolos. huft, kalo sampe dia gak naik kelas gimana nih." gumamku lirih.


Azzam mencoba menghubungiku lewat panggilan WhatsApp, namun kuabaikan.


keesokan paginya.


aku bangun lebih pagi, aku berdandan dan berangkat sendiri menuju sekolah.


Azzam menghampiriku di rumah. namun, aku sudah tidak berada di sana.


aku duduk di dalam kelas. saat jam istirahatpun aku tidak keluar dari kelas. aku tahu, Azzam akan bermasalah lagi setelah ini. Azzam kemarin membolos lagi.


tidak kusangka, Azzam menyusul ke dalam ruang kelasku.


"Azzam." ngapain kamu ke kelasku.


sontak fia yang berada di sampingku terkejut.


"ada apa sampai Azzam menghampiri Amel ke ruang kelas." ucap fia di dalam hati.


"kamu kenapa?, tadi pagi kujemput kamu dirumah, tapi kamu malah udah berangkat lebih pagi ke sekolah."


tanya Azzam padaku.


"gapapa, aku lagi pengen berangkat sekolah sendiri." ucapku lirih sambil menundukkan kepala.


tentu saja, kedatangan Azzam di kelasku membuat para teman-temanku terkejut. bagaimana tidak, tidak pernah sebelumnya Azzam menyusulku hingga ke dalam kelas.


"Amel... kamu mau mencoba menghindariku?." tanya Azzam sambil memegang pundak kananku.


"aku sudah malas zam, berurusan dengan guru serta orang tuamu. mereka menuntut agar aku bisa merubahmu. tiga bulan ini kamu sudah di nilai sangat baik karena sudah tidak membolos lagi. nyatanya apa zam?." aku bertanya balik kepada Azzam.


"kita bisa bicara baik-baik nanti sepulang sekolah." Azzam berkata padaku seraya berjalan keluar kelas.


"Mel, kamu gapapa?." tanya fia padaku.


"gapapa kok, fi." ucapku kepada fia.


jam 16.00 wib, aku merapikan semua buku pelajaranku.


aku masih terduduk, memikirkan Azzam.

__ADS_1


"Amel belum mau pulang?." tanya fia menyadarkan lamunanku.


"bentar lagi fi." jawabku.


"yaudah, aku pulang dulu ya." fia berpamitan padaku.


aku keluar kelas paling akhir di sore hari ini.


kulangkahkan kakiku menuju pintu, betapa terkejutnya aku. melihat Azzam sudah berdiri di depan kelas.


"Azzam." ucapku terkejut.


"kamu masih marah Mel?." tanya Azzam padaku.


"aku gak marah kok zam." ucapku dengan wajah datar seraya berjalan menuju parkiran.


Azzam meraih tanganku.


"tunggu!." ucap Azzam.


"kenapa lagi zam?." tanyaku.


"kamu udah gak sayang denganku Mel?." tanya Azzam dengan raut wajah penuh harap padaku.


"aku sayang kok zam sama kamu." jawabku tersenyum. tapi kali ini, senyumku bukan senyum yang menandakan kesenangan. senyumku kali ini menandakan aku sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi di hubunganku dan Azzam selanjutnya.


aku melepas genggaman tangan Azzam, dan melanjutkan jalanku ke parkiran.


kali ini Azzam tidak memanggilku untuk berhenti.


di malam hari, Azzam mencoba menghubungiku lewat panggilan WhatsApp berulang kali tanpa ada jawaban dariku.


"aggghhrrrrr!!!!" Azzam membuang ke lantai selimut yang berada di atas kasur kamarnya.


"kenapa si Amel!." ucap Azzam sambil memukulkan tangan kanannya pada meja yang berada di depan jendela kamarnya. Azzam menatap langit lewat jendela kamarnya di malam hari ini. matanya terpejam, terlihat Azzam sangat menyesal sudah mengingkari janjinya sendiri.


"maafkan aku Mel....." ucap Azzam lirih.


sementara aku, masih dengan rasa kesalku karena Azzam yang tidak bisa menepati janjinya sendiri.


kubiarkan panggilan WhatsApp yang masuk. sudah ku duga, semua panggilan WhatsApp itu dari Azzam.


"apa harus ku akhiri saja hubungan ini." gumamku di dalam hati.


"ah sudahlah, kupikirkan esok lagi saja."


ucapku.


kumatikan lampu utama kamarku dan kuhidupkan lampu tidur yang bercahaya redup.


sudah tiga hari ini, aku berangkat sekolah sendiri tanpa Azzam. bukan karena Azzam tak mau menghampiriku lagi, tapi aku sendiri yang menghindarinya.


"Mel." fia memanggilku.


"iya fi." kujawab fia yang berada di sebelahku.

__ADS_1


"hubunganmu dan azzam baik-baik saja kan?. emm eh, maksudku. akhir-akhir ini aku tidak melihatmu berangkat dan pulang sekolah bareng Azzam." tanya fia padaku.


raut wajahnya seperti canggung membicarakan ini padaku.


"gak kok fi, aku masih baik-baik saja dengan Azzam." jawabku singkat.


"oh, baguslah Mel." jawab fia sambil kembali mengerjakan tugas yang belum kelar sejak tadi.


"ada apa si dengan Amel dan Azzam. sepertinya hubungan mereka sedang berada di ujung tanduk. hmm tapi kasihan juga jika mereka sedang seperti ini. meski Amel mengatakan hubungannya masih baik-baik saja." ucap fia dalam hati.


tiba-tiba Bu Winda masuk ke kelas, menghampiriku yang juga sedang mengerjakan tugas.


"Amel ikut ibu sebentar ya." ucap Bu Winda lirih padaku.


"ada apa Bu?." tanyaku.


"ikut saja." jawab Bu Winda lirih.


aku berjalan mengikuti Bu Winda. tidak lain, Bu Winda menuju ke ruang bimbingan konseling.


"kenapa lagi ini. Azzam berbuat kesalahan apa lagi kali ini. sudah berapa kali aku masuk ruang bimbingan konseling tanpa ada kesalahan apapun yang aku perbuat." gumamku dalam hati.


langkahku sangat lambat saat sudah hampir tiba di depan ruangan itu.


Bu Winda terlihat sudah memasuki ruangan. sementara aku, masih berjalan malas.


kali ini aku sudah di depan pintu ruangan, ku ketuk pintu di depanku ini. "permisi." ucapku.


"masuk Mel, duduk dulu." ucap Bu Winda.


aku duduk di kursi, tidak ada seorangpun. "jika Azzam juga tidak di undang ke ruangan ini, lalu masalah apa lagi yang datang. jangan-jangan Azzam tidak masuk sekolah." ucapku dalam hati.


"Amel tahu tidak kenapa di panggil ke ruang bimbingan konseling lagi." ucap Bu Winda padaku.


"karena Azzam Bu?." tanyaku.


"iya, hubungan Amel dan Azzam baik-baik saja kan?." tanya balik Bu Winda padaku.


"iya Bu." jawabku singkat.


"Azzam hari ini tidak masuk sekolah, Mel. ibu tadi menghubungi ibu Azzam. ibunya bilang, Azzam memang berada di rumah. Azzam tidak membolos untuk touring seperti kemarin. tapi ibunya berkata, Azzam tidak semangat ke sekolah karena nak Amel mengabaikannya. benarkah yang di katakan ibunya Azzam Mel?." Bu Winda menjelaskan maksud memanggilku ke ruangan ini.


"hmm, saya memang mengabaikan Azzam beberapa hari ini Bu. saya merasa capek jika masalah yang menimpa Azzam karena ulahnya sendiri. tapi, saya juga ikut menanggungnya." jawabku seraya menundukkan kepalaku.


"ibu mengerti apa yang Amel rasakan, tapi jika Azzam tidak berangkat sekolah lagi. Azzam benar-benar tidak bisa naik ke kelas dua belas Mel. ibu boleh minta tolong ke Amel?." tanya Bu Winda.


"boleh Bu, selagi saya mampu." jawabku.


"ibu minta Amel jangan abaikan Azzam ya. ibu minta tolong agar Azzam mau kembali sekolah." Bu Winda berkata padaku.


"akan saya coba Bu." ucapku.


setelah itu, Bu Winda mempersilahkan aku untuk kembali ke kelas.


"Azzam......kenapa sih, kuabaikan saja langsung mogok berangkat sekolah. aku harus gimana lagi Azzam!!!." ucapku dalam hati karena merasa kesal.

__ADS_1


__ADS_2