Sumpah Serapah Mantan Kekasih

Sumpah Serapah Mantan Kekasih
bab 14


__ADS_3

"gini Mel, kamu di panggil ke ruang BK tuh sama bu winda." fia menunjuk ruangan yang berada di sebelah kanan loby.


"ngapain fi? aku gak ada pelanggaran deh kayaknya." tanyaku keheranan


"gak tau Mel, tapi tadi aku lihat Azzam juga masuk ke ruang BK." fia mengerutkan dahi.


"hmm yaudah aku ke ruang BK dulu fi, makasih infonya ya." aku berpamitan kepada fia.


aku berjalan menuju ruang BK. sembari memikirkan ada apa dengan Azzam sampai aku juga ikut di panggil di ruang BK.


"assalamualaikum.." sambil kuketuk pintu ruang BK.


"walaikumsalam.. oh Amel, ayo masuk" Bu Winda membukakan pintu dan mengajakku masuk ruangan.


kulihat ada Azzam, dan dua orang parubaya duduk di ruang BK.


"duduk dulu Mel." Bu Winda mengarahku ke kursi yang kosong.


"hmm iya Bu." aku duduk sambil menatap Azzam yang menunduk sejak aku datang.


"mel, ini orang tua Azzam. ibu dan bapaknya Azzam juga sudah mengetahui tentang hubungan kalian. jadi, mereka ingin bertemu dengan Amel. siswi yang paling dekat dengan Azzam." Bu Winda menjelaskan maksud mengundangku ke ruang BK.


"emm.. iya Bu, tentang apa?." aku bertanya kepada Bu Winda.

__ADS_1


"jadi, Azzam ini sering sekali membolos. sering tidak pulang ke rumah juga. namun Azzam kalau di tanya tidak mau menjawab. disini Amel bisa menjelaskan kemana saja Azzam saat membolos. karena Amel siswi paling dekat dengan Azzam. tentu Amel pasti sering chatan kan?. nama Azzam tidak ada di daftar siswa kelas sepuluh yang naik di kelas sebelas, dia bisa saja di nyatakan tidak naik ke kelas sebelas karena absensinya sangat berantakan. mewakili orang tua Azzam, ibu mau minta tolong ke Amel boleh ya?" tanya Bu Winda.


"iya Bu Winda." jawabku.


tiba-tiba ayah Azzam memutus bicaraku kepada Bu Winda.


"iya nak, ibu dan bapak tidak marah dengan hubungan kalian. justru ibuk dan bapak akan merasa senang jika nak Amel ini mau menemani Azzam seterusnya. tentu bapak dan ibuk akan mendukung. tapi tolong ya nak amel, bapak minta tolong nasihati Azzam agar tidak membolos dan menginap di jalanan karena sering tidak izin dengan bapak. bapak merasa khawatir nak Amel, bapak sudah sering menasehati Azzam. namun hanya masuk telingan kiri dan keluar telinga kanan. bapak ini capek, bapak juga sering dinas luar kota. jarang pulang. jika ibuknya Azzam ini orangnya tidak tegaan dan selalu memanjakan Azzam sejak kecil. jadi Azzam ini nglunjak nak Amel. bapak minta tolong ya..?."


begitu ayahnya Azzam menjelaskan padaku tentang Azzam yang sering membolos.


"bukannya Azzam sering berangkat sekolah bareng Amel ya? tapi kok Amel masuk sekolah dan Azzam bisa membolos." tanya Bu Winda yang terlihat penasaran padaku.


"emm iya Bu winda, mohon maaf sebelumnya izinkan saya menjawab. hubungan saya dan Azzam memang sudah lumayan lama, namun saya juga tidak henti untuk menegur Azzam jika dia membolos. tentang saya dan Azzam yang sering berangkat bersama tapi Azzam membolos dan saya tidak. akun saya jelaskan Bu Winda. jadi Azzam pagi-pagi menjemput saya di rumah. Azzam mengantarkan saya sampai gerbang depan sekolah. disitu saya masuk kelas lewat loby, sementara Azzam selalu bilang ingin memarkirkan motornya sendirian, dan tidak mau setiap saya ingin menemaninya ke parkiran. jadi di situ dia gak markir motor Bu. dia gak masuk gerbang sekolah. seringnya seperti itu, tentu semua orang tau jika Azzam berangkat sekolah dengan saya. namun azzam tidak pernah sama sekali mengajak saya membolos, dia memastikan dulu saya sudah berjalan menuju loby. setelah itu saya tidak tau apakah Azzam berjalan menuntun motornya ke parkiran atau justru keluar gerbang." aku mencoba menjelaskan bagaimana cara Azzam membolos sementara absenku tidak pernah Alfa, tentu saja Azzam membolos sendiri.


"hmm maaf pak, saya tidak tahu pasti kemana Azzam membolos. karena saat Azzam membolos dia tidak chat saya, hapenya mungkin di matikan. jadi dia selalu menghubungi saya ketika sudah waktunya pulang sekolah. biasanya, Azzam sudah berada di samping sekolah saat jam pulang. dan saya yang diminta berjalan kesana" aku menjelaskan kepada orang tua Azzam dan Bu Winda.


"memang, saat Azzam ini membolos pak, Bu. WhatsApp dan aplikasi yang lain tidak bisa di hubungi. saya juga sudah sering meneleponnya, atau memberi pesan lewat WhatsApp namun tidak terkirim langsung karena mungkin di matikan ponselnya." Bu Winda juga menjelaskan kepada ayah dan ibu Azzam.


tiba-tiba seorang guru yang kukenal sebagai pak Dayat. tak lain pak Dayat ini adalah wali kelas Azzam. sementara Bu Winda adalah guru BK sekaligus wali kelasku.


"selamat pagi pak, Bu." sapa pak Dayat sambil duduk di kursi ruang tamu BK yang masih kosong."


"pagi pak Dayat." terlihat Bu Winda, dan kedua orang tua Azzam tersenyum menyapa pak Dayat.

__ADS_1


"bapak dan ibu wali muridnya Azzam ya?." tanya pak Dayat kepada orang tua Azzam.


"iya pak." saya ayahnya dan ini ibunya. ucap ayahnya Azzam.


"begini pak, saya akan menjelaskan tentang Azzam. jadi, sebenarnya Azzam ini anak yang pintar pak. soal pelajaran saya akui Azzam ini anaknya gampang merespon pelajaran dengan cepat. hanya saja pak, Bu. absensi kehadiran Azzam ini sangat berantakan. Azzam sering sekali tidak masuk kelas tanpa keterangan. jadi, Azzam ini dinyatakan naik kelas dengan bersyarat. artinya, Azzam naik ke kelas sebelas. namun, jika di kelas sebelas nanti Azzam masih sering tidak masuk kelas tanpa alasan. dengan sangat terpaksa Azzam tidak bisa di naikan ke kelas dua belas nantinya." pak Dayat selesai menjelaskan.


tiba-tiba saja ayahnya Azzam menoleh ke arah Azzam dan memarahi Azzam.


"Azzam! kamu mau berubah gak? kalo kamu terus-terusan membolos dan sering bermalam di jalanan lagi. bapak tidak akan merestui hubunganmu dengan amel. bapak tidak tega jika nak Amel harus bersama dengan orang yang tidak mau bersyukur sepertimu. sudah di sekolahkan bukannya bersyukur malah membolos. lihat di luar sana banyak anak-anak yang susah payah bekerja karena ingin bersekolah."


ucap ayah azzam, sambil menatap ke arah Azzam yang menunduk sejak tadi.


aku hanya diam, aku takut menyaksikan ayah Azzam yang sedang marah.


"Azzam.. lihat orang tuamu. yang susah payah mencari rezeki hingga keluar kota. tidak bisa kumpul dengan keluarga itu untuk masa depanmu Azzam.. ibu minta tolong hargai jerih payah orang tuamu dengan prestasimu. ibu yakin kamu bisa zam." Bu Winda memberi semangat kepada Azzam.


"sudah nak Amel, jika nanti di kelas sebelas Azzam masih suka membolos dan bermalam di jalan tidak pulang kerumah. bapak tidak merestui hubungan kalian sampai Azzam menjadi baik." jawab ayah Azzam.


"ini tidak ada urusannya dengan hubunganku dan Amel pak, aku yang memilih untuk touring dengan teman-temanku. aku yang membolos bukan Amel. kenapa hubunganku dan Amel yang harus di pertaruhkan pak?." Azzam kini menjawab. matanya kini berani menatap sang ayah.


"rupanya kamu benar-benar cinta dengan Amel ya zam. kalau begitu buktikan dengan absensimu. jika di kelas sebelas absensimu bagus. bapak akan senang dengan hubungan kalian." ayah Azzam menepuk pundak Azzam.


"baik. akan Azzam buktikan." Azzam menatap ayahnya kali ini.

__ADS_1


__ADS_2