
suatu siang di bulan juni 2018
"melll!!!!" teriak fia dari arah belakang. aku yang sedang berjalan menuju perpustakaan sontak terkejut dan menoleh.
"apa fii..." ucapku seraya menoleh ke arah fia.
"Ang Anggie!!!." ucap fia terbata-bata.
"Anggie kenapa?." ucapku yang penuh rasa penasaran.
"Anggie di keluarin dari sekolah." ucap fia seraya mengatur nafasnya yang terlihat ngos-ngosan karena mengejarku tadi.
"yang bener kamu?. kok bisa?." tanyaku heran.
"kamu inget gak waktu itu terjadi perselisihan Anggie dan Azzam. nah pihak sekolah sudah memutuskan untuk mengeluarkan Anggie." ucap fia.
"jadi, Azzam masih bertahan di sekolah kita?." ucapku dengan mata terbelalak memandang fia.
"iya dong mel, kasian juga si Anggie." ucap fia tetapi raut wajahnya tersenyum puas.
"kasihan kok senyum-senyum." ucapku sambil tertawa kecil.
"yaa abis gimana mau kasihan tapi Anggie termasuk orang yang jahat banget sih menurutku." ucap fia.
"berarti mulai besok udah gak ada yang ngejahilin Azzam lagi dong fi. akhirnya, Anggie pembalasan semua perlakuannya kepada Azzam." ucapku seraya mengelus dada dan sangat merasa lega karena Azzam bisa naik ke kelas dua belas dan Anggie di keluarkan dari sekolah.
aku tidak sabar bertemu Azzam. pasti dia sangat senang mendengar berita ini.
sore hari,
aku dan Azzam pulang bersama. aku dan Azzam saling bercerita seraya menikmati suasana sore di desa kami. tidak kusangka, Anggie tidak terima jika di keluarkan dari sekolah. Anggie bersama segerombolan pemuda menghadang aku dan Azzam di jalan tengah sawah yang mungkin sedikit jauh dari pemukiman warga.
Anggie dan segerombolan temannya meletakkan motor di tengah-tengah jalan sehingga aku dan Azzam tidak dapat melewatinya.
"bagus ya, bisa naik kelas." ucap Anggie di atas motornya.
aku dan Azzam masih terdiam saja, berharap ada beberapa orang yang lewat sini agar membantu mengusir Anggie dan segerombolan temannya ini.
"puas Lo!!!!. puas Lo zammm lihat gue di keluarin dari sekolah!!!!." ucap Anggie yang menuruni motornya lalu menghampiri aku dan Azzam yang masih berada di atas motor kami.
Azzam tidak menjawab sepatah katapun. nampaknya, Azzam tidak ingin memancing keributan baru.
__ADS_1
"aaarrrgggghhhtttt..." ucap Anggie di depan Azzam.
"plakkkkk" suara tangan Anggie memukul pipi kiri Azzam.
"brengsek Lo. maksud Lo apa!!!!." ucap Azzam yang terlihat emosi.
seketika segerombolan teman Anggie turun dari motor dan hendak mengeroyok Azzam.
aku yang merasa sangat takut sontak turun dari motor dan berdiri tepat di depan Azzam.
"kalian lawan gue kalo berani." ucapku di depan Anggie dan segerombolan temannya.
"kamu gak usah ikut campur Mel." ucap Anggie.
"kamu berani sama Azzam. artinya kamu juga berani sama aku." teriakku di depan Anggie.
Anggie yang tidak tahu harus berbuat apa lagi karena yang di hadapannya sekarang bukanlah Azzam, melainkan aku.
"gak mungkin gue mukul Lo Mel!." ucap Anggie yang melambaikan tangannya mengkode teman-temannya untuk meninggalkan tempat ini. Anggie pun menyusul mengendarai motornya dan pergi meninggalkan aku dan Azzam disini.
aku berbalik badan dan menoleh kepada Azzam.
"kamu gakpapa?." tanyaku seraya mengelus pipi kirinya yang terlihat membiru.
"Anggie gak bakal mukul cewek. dan biarpun Anggie mukul aku. aku gak nyesel belain kamu." ucapku kepada Azzam.
"uh..." terlihat Azzam mengelus memarnya karena di pukul Anggie.
"sakit ya sayang?." tanyaku yang terlihat sangat khawatir.
"gakpapa kok sayang. yuk kita lanjut perjalanan pulang." ucap Azzam yang mulai menyalakan mesin motornya.
Azzam mengendarai motor ke rumahnya.
"kok kerumah kamu sayang?." tanyaku heran.
"bapak ibuku lagi keluar kota, pulangnya nanti malem. kamu temenin aku sebentar ya." ucap Azzam sambil melepaskan helmku.
"iya sayang." ucapku menimpali Azzam.
aku dan Azzam memasuki rumah, Azzam menutup pintu karena angin berhembus sedikit kencang di luar. jika pintu di buka, maka akan banyak sampah dedaunan yang terbawa angin dan masuk ke rumah.
__ADS_1
aku dan Azzam duduk di sofa ruang tamu. kami duduk satu sofa karena terdapat sofa yang panjang dan bisa di duduki dua orang.
"aku ambil kompres dulu ya buat luka kamu." aku beranjak menuju dapur untuk mengambil wadah, handuk kecil, dan air hangat untuk mengompres memar di pipi kirinya.
Azzam hanya mengangguk saat aku pamit ke dapur. terlihat wajahnya menahan rasa perih karena pukulan Anggie tadi.
"Anggie, Anggie. ini udah kelas dua belas. Anggie juga di keluarin dari sekolah karena ulahnya sendiri. kenapa masih mengincar Azzam sih nggie." gumamku dalam hati seraya mengambil wadah.
aku kembali ke ruang tamu, kukompres pelan-pelan memar di pipi kiri Azzam.
"aduh sayang." ucap Azzam sembari tangannya memegang tanganku yang sedang mengompres.
"sakit ya sayang?." tanyaku khawatir karena melihat raut wajahnya yang terlihat kesakitan.
"pelan-pelan ya." ucap Azzam kepadaku.
"iya ini aku pelan-pelan sayang." ucapku sembari terus mengompres memarnya agar tak membengkak.
Azzam menatapku tak berkedip. aku pun membalas tatapan mata azzam.
"makasih ya sayang, kamu udah baik banget sama aku." ucap Azzam tersenyum.
"aku takut Anggie akan terus mengganggumu. Anggie tidak mungkin memukul wanita. tapi saat kamu lagi gak sama aku. aku takut dia berulah lagi." ucapku khawatir.
"aku akan berusaha agar tetap tenang melawan Anggie. aku tidak akan balik memukul kecuali jika Anggie memang sudah sangat keterlaluan. sungguh aku sangat malas ribut karena aku takut jika aku akan di keluarkan juga dari sekolah. dampaknya bukan hanya aku yang malu, tetapi kamu dan kedua orang tuaku pasti akan malu." ucap Azzam.
tatapan matanya kini semakin tajam padaku. aku tidak bisa memalingkan muka dari tatapan Azzam.
Azzam mendekatkan wajahnya kepada wajahku. sedikit demi sedikit wajahnya semakin mendekati wajahku. detak jantungku berdebar tak berirama.
"apa Azzam akan menciumku?." tanyaku dalam hati.
semakin dekat wajahnya depadaku. semakin aku tidak bisa mengendalikan diri. aku memejamkan mataku sehingga kini tidak lagi bisa melihat tatapan tajam Azzam.
benar saja, beberapa detik kemudian Azzam melabuhkan bibirnya di bibirku. jantungku sangat berdebar karena ini adalah ciuman bibir pertamaku.
beberapa detik mataku masih terpejam merasakan ciuman bibir dari Azzam.
aku merasakan nafasnya yang sangat dekat denganku. sehingga kini, hidungku dan hidungnya saling bersentuhan. Azzam mengelus pipi kananku dengan jari-jemarinya. semakin aku terlena dalam ciuman ini. azzam mendekatkan tubuhnya padaku. kini, tangan kiri Azzam menarik tubuhku yang mungil ini.
Azzam memelukku erat, akupun bisa merasakan detak jantungnya dan Azzam mungkin merasakan detak jantungku yang berdebar tak beraturan sejak Azzam mulai menciumku.
__ADS_1
tiba-tiba saja, terdengar suara mobil dari arah depan. sontak aku membuka mata dan menjauhkan diri dari Azzam.
Azzam yang juga terkejut sontak meminta maaf padaku. "maaf sayang aku menciummu." ucap Azzam seraya membuka pintu karena mengetahui suara mobil tadi adalah suara mobil dari bapak dan ibuk Azzam, mereka pulang lebih awal dari luar kota.