Sumpah Serapah Mantan Kekasih

Sumpah Serapah Mantan Kekasih
bab 10


__ADS_3

Aku melanjutkan menyapu ruang tamu yang dari tadi belum kelar karena hembusan angin yang lumayan besar.


kini, didalam rumah hanya ada aku dan Azzam saja. pintu rumah di tutup agar sampah yang kusapu tidak terkena angin.


selesai menyapu. Azzam tiba-tiba terbangun dari duduknya dan mencium pipi chubbyku.


"ihhh sayang!! cium-cium. gak boleh!!." ucapku kesal sambil mencubit lengannya.


"aku kan cuma nyium pipi aja sayang. masa gitu aja gak boleh. hehe." Azzam tersenyum lebar.


"ya gak boleh, nanti bisa-bisa cium yang lain juga." aku melirik Azzam sambil meletakan sapu ke tempat dimana Azzam mengambil sapu tadi.


"kamu pasti capek, dah duduk dulu." Azzam mempersilahkan aku untuk duduk di sofa panjang. aku duduk di samping Azzam.


Azzam menuangkan air dingin yang diambilnya tadi dan memberikannya padaku.


"di minum dulu.." ucap Azzam.


"makasih.." aku menimpali


hingga beberapa menit telah berlalu, pintu tak juga di buka oleh Azzam.


"pintunya gak kamu buka sayang?." aku bertanya.


"nanti dulu deh sayang. di luar banyak daun-daun kering. kalo kena angin bisa masuk rumah." jawab Azzam.


"yauda deh, gak baik tau berduaan di rumah gak ada orang lain." aku menatap Azzam.


"aku gak bakal ngapa-ngapain kamu sayang." Azzam mengelus rambutku dengan lembut.


memang angin bertiup kencang di siang hari ini.


aku dan Azzam menghabiskan waktu hanya duduk di sofa saja.


Azzam duduk di sampingku sambil bermain game kesukaannya. ya, apalagi kalau bukan mobile legend. kini dia menyandarkan kepalanya di pundakku.


"lelah ya sayang?." tanyaku.


"halah kalah terus nih aku yang." Azzam merasa kesal dan meletakkan handphonenya di meja.


kini dia kembali duduk di sebelahku dan menyenderkan kepalanya di pundakku.


"kamu kenapa sayang? kita sudah pacaran 6 bulan. gak boleh ya aku bersandar di pundak mu? Azzam memandangiku dan wajahnya sangat dekat denganku.

__ADS_1


"hmm gapapa kok sayang." aku menjawab dengan nada lirih.


Azzam memejamkan matanya. dia tertidur di pundakku.


"lho, di temenin kok malah tidur, lalu aku disuruh ngapain nih disini. gak ada temen ngobrol pula." aku bergumam sendiri.


waktu menunjukkan pukul 14.00 wib. sudah satu jam aku menemani Azzam. kini dia terbangun dari tidurnya


"sudah selesai tidurnya?" aku berkata sambil melirik ke arahnya.


"eh, maaf sayang. aku ketiduran saking nyamannya bersender di pundak kamu. hehe." jawabnya sambil tertawa kecil.


"harusnya aku yang bersandar di pundak mu. ini malah kebalik." ucapku dengan nada kesal.


Azzam terbangu dari duduknya dan pergi ke kamar mandi untuk cuci muka. seteah itu, azzam kembali duduk di sampingku. kini tangan kirinya merangkul pundakku.


"sekarang boleh gantian. sini senderan di pundakku." ucap Azzam padaku.


aku mulai nyaman dan menyenderkan kepalaku di pundaknya. suasana yang sepi membuat suasana amat damai. aku dan Azzam saling bercanda berdua.


sambil mengusap-usap rambutku. Azzam sesekali memberiku kata-kata yang sangat manis.


"aku sayang banget sama kamu Mel, jangan pernah tinggalin aku ya?. apapun nanti masalah yang akan kita hadapi kedepannya" ucap Azzam.


kami menghabiskan siang ini bersama. bermanja-manja, bersendau gurau, memang sangat nyaman sekali.


tak terasa waktu menunjukkan pukul 15.00 wib.


aku mengangkat kepalaku. "lenganmu pasti capek ya sayang kalo aku teru-terusan bersandar." sambil kembali menata rambutku yang sedikit berantakan. kini Azam menaikan kakinya ke kursi panjang yang kami duduki dan menghadapkan posisi tubuhnya kepadaku. aku memandanginya dan berkata. "kamu ngapain??" sambil tertawa aku bertanya. karena aku benar-benar tidak tahu apa maksud dari Azzam.


Azzam menarik tanganku dan kini aku juga menghadapnya (aku dan Azzam kini saling berhadap-hadapan).


sontak aku berdiri. aku takut Azzam akan mengajakku untuk berciuman.


"kenapa sayang?." Azzam bertanya padaku sambil memegang lenganku. kini dia juga ikut berdiri di depanku.


Azzam terus memandangiku. dan tiba-tiba.


"Brakkkkk!!!!"


terdengar suara seperti gelas jatuh dari dapur.


Azzam berlari menuju dapur. dan ternyata "kucing ibuku menyenggol gelas." teriak Azzam.

__ADS_1


sontak aku berlari menuju dapur, aku takut jika terjadi sesuatu terhadap Azzam dan kucingnya. jika kuncingnya terluka, tentu ibunya Azzam akan sangat marah. mengingat itu adalah kucing kesayangannya.


"kamu gapapa sayang?. kucingnya gimana?." tanyaku khawatir.


"gapapa, syukurlah kucingnya bisa lompat dan gak jatuh kena pecahan gelas. bisa dimarah ibu jika terjadi sesuatu dengan mitti. (mitti adalah nama kucing milik ibunya Azzam)


"yaudah, kubantu bereskan pecahan gelasnya." aku membungkuk mengambil beberapa pecahan kaca yang masih bisa di ambil dengan tangan. sisanya di sapu oleh Azzam.


"akhirnya bersih juga." ucap Azzam. raut wajahnya melambangkan kekesalan terhadap kucing itu.


aku dan Azzam kembali ke ruang tamu, Azzam membukakan pintu yang dari tadi memang di tutup sejak aku menyapu ruang tamunya yang kotor tadi.


kami kembali duduk di ruang tamu. Azzam menyalakan televisi yang kebetulan juga berada di ruang tamu.


tetapi, pandangannya tidak terfokus kedalam televisi. justru Azzam dari tadi memandangiku.


"apa sih sayang." ucapku sambil kutatap juga wajahnya.


Azzam semakin mendekatkan wajahnya kepadaku.


"apasih sayang, kamu mau apa?." tanyaku sambil mengerutkan dahi.


kini hidung mancungnya menyentuh hidungku yang minimalis.


aku sudah tidak bisa berkata-kata lagi. "ini si fiks Azzam bakal menciumku. aduh gimana nih" gumamku dalam hati.


aku memejamkan mataku, tak berani menatap matanya lagi. "aku harus gimana nih." ucapku dalam hati.


suara nafasnya kini bisa kudengar karena memang wajahnya berada tepat di depanku.


rupanya Azzam mencium keningku.


kubiarkan saja aku memejamkan mata, menikmati ciuman pertama yang belum pernah kurasakan sebelumnya.


jantungku berdebar, mungkin karena benar-benar sudah tumbuh rasa cintaku kepada Azzam yang sangat besar.


cukup lama dan Azzam tak kunjung melepaskan ciumannya di keningku. dia kini mulai menarik tubuhku agar semakin dekat dengan tubuhnya. Azzam memelukku. kini aku tak bisa beranjak dari tempatku berdiri ini. Azzam kali ini memelukku dan semakin mempererat pelukannya. jantungku semakin berdebar. kini azzam mencium pipiku, pipi kananku yang dia cium. cukup lama Azzam tidak melepas ciumannya di pipiku. mungkin Azzam juga sangat menikmati ciuman pertama ini. kini aku dan Azzam merasakannya sekarang. setelah itu Azzam berpindah mencium pipi kiriku. cukup lama dan tak kunjung di lepas.


"sayang." aku membuka mata dan menyadarkan Azzam dari ciuman di pipi kiriku.


"eh, iya sayang. maaf aku menciummu." Azzam menatapku.


"jangan cium-cium dulu sayang, lihat pintu ruang tamu terbuka lebar. nanti kalau ada orang lewat terus lihat kamu sedang menciumku gimana?." ucapku sambil menatap Azzam.

__ADS_1


"yaudah, gak lagi deh sayang.." jawab Azzam sambil mengelus rambutku.


__ADS_2