Sumpah Serapah Mantan Kekasih

Sumpah Serapah Mantan Kekasih
bab 30


__ADS_3

"Mel!!." suara fia mengagetkan lamunanku.


"eh kalian." aku menoleh ke arah fia dan Nisa yang muncul dari belakang.


"Azzam sama Anggie gimana?." tanya Nisa.


"hufff....belum tau, mereka masih berada di ruang BK." ucapku dengan nada lemas.


"eh Mel, kita ada satu bukti lagi ni buat bantuin Azzam." ucap fia padaku.


"bukti apa fi?." tanyaku kepada fia, terlihat dahiku mengerut menandakan perasaan penasaranku.


"tadi aku sama Nisa mau ke kantor guru kan, ngumpulin buku tugas yang tadi. eh gak sengaja lihat Azzam sama Anggie. kita penasaran aja. yaudah Nisa videoin deh tu. ternyata bener mereka mau berantem. dan yang mulai tadi Anggie Mel. ini bisa buat bukti penguat juga kalo emang Azzam gak salah selama ini." ucap fia padaku.


"yang bener kamu fi?." tanyaku kepada fia.


"iya, nih videonya ada di handphoneku." Nisa menimpali.


"yaudah, kita nunggu Azzam keluar dari ruang BK dulu yah." ucapku sembari tersenyum kepada Nisa dan fia.


beberapa saat kemudian. Azzam, Anggie, bersama orang tuanya keluar dari ruang Bimbingan Konseling.


ibu Azzam terlihat perpamitan untuk pulang. dan Azzam berjalan kembali menuju kelas.


"eh Mel, Mel, itu Azzam udah berjalan ke kelas. kamu samperin dih. sebelum dia sampai ke kelasnya." ucap Nisa.


"iya, aku susul Azzam dulu ya." ucapku kepada Nisa dan fia sembari berlari meninggalkan mereka.


"take care Amel!!." ucap mereka padaku.


aku berlari menyusul Azzam yang sedang berjalan menuju kelasnya.


"Azzam...!!" teriakku memanggil Azzam sembari terus berlari.


Azzam yang tidak mendengar masih berjalan ke arah kelasnya.


"Azzam...!!." teriakku sekali lagi.


Azzam menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang, tepatnya ke arahku. aku yang merasa lelah membungkukkan badanku dan meletakkan kedua tanganku di atas lutut dengan nafas yang terengap-engap.


"Amel, maaf aku tadi gak denger." ucap Azzam yang tersadar jika aku sedari tadi berlari mengejarnya. Azzam membalikkan badannya dan menghampiriku.

__ADS_1


"kamu gakpapa?." tanyaku kepada Azzam.


"aku gakpapa kok." ucap Azzam padaku.


"ada yang mau aku bicarain sama kamu zam." ucapku.


"yaudah, kita duduk di situ gimana?." Azzam mengajakku untuk duduk di kursi yang berada di dekat taman.


aku mengangguk menimpali ajakan Azzam.


kami berdua duduk di kursi tepat di bawah pohon mangga.


"Amel mau bicara apa?." tanya Azzam padaku.


"lukamu gak perih zam?." tanyaku kepada Azzam seraya ku sentuh bagian bawah matanya masih terlihat biru karena di pukul oleh anggie.


"gakpapa, aku kan cowok. harus strong dong hehe." ucap Azzam sembari tertawa kecil.


"kamu nih, aku kuatir tahu." ucapku dengan bibir manyunku.


"iya sayang, makasih perhatiannya yah. emm tadi mau bicara apa?." tanya Azzam.


"belum tau nih, nunggu keputusan dari pihak sekolah. maafin aku ya, aku berbuat salah lagi. kali ini aku sudah pasrah Mel. ternyata Anggie bener-bener nekad untuk ngebuat aku gak naik kelas." ucap Azzam dengan tatapan kosongnya.


"aku bakal bantuin kamu sebisaku. pokoknya kamu harus naik kelas. kali ini, aku akan berjuang." ucapku kepada Azzam.


"gimana caranya?." tanya Azzam sembari menoleh kepadaku.


"kamu inget gak zam, waktu Anggie ngerjain kita di parkiran. di parkiran kan ada cctv. itu bisa jadi bukti kalo yang selalu mulai dulu tu si Anggie." ucapku kepada Azzam.


"tapi, itu kan udah lumayan lama. bahkan aku udah gak inget tanggalnya." jawab Azzam dengan wajah pasrah.


"tenang, aku udah catat tanggal, hari, sama waktunya di buku ini." ucapku sembari mengeluarkan sebuah buku diary kecil dari dalam saku rok.


"hah??, yang bener?." ucap Azzam heran. Azzam tidak menyangka jika semua yang Anggie perbuat sudah kucatat di dalam buku ini.


"iya, kejadian waktu di lapangan juga sudah kucatat. bahkan, aku juga punya rekaman suara Anggie yang pengen buat kamu gak naik kelas. beberapa waktu lalu di loby. dan tadi, Nisa juga ternyata ngevideoin pas Anggie gangguin kamu. ini udah cukup jadi bukti untuk pihak sekolah supaya mempertimbangkan lagi siapa yang pantas keluar atau tidak naik kelas nantinya. aku yakin, kamu pasti bisa naik." aku menjelaskan kepada Azzam semua catatan yang ada di dalam buku diary ini.


"makasih banget ya. besok kita temuin Bu Winda buat kasih semua bukti-buktinya." ucap Azzam yang kini sudah sedikit menampakkan senyumnya.


"kamu berdo'a ya biar kita bisa sama-sama terus. aku gak pengen cinta kita terhalang restu orang tua, hanya karena kamu gak naik kelas." ucapku kepada Azzam.

__ADS_1


"makasih ya, udah ngebuktiin cinta kita." ucap Azzam seraya memegang erat jari jemariku.


"cieeee..." tiba-tiba datang fia dan Nisa dari arah belakangku dan Azzam.


"eh kalian." ucapku dan reflek melepas genggaman tangan Azzam.


"dih, gapapa kali pegangan tangan." ucap Nisa.


Azzam hanya tersenyum menanggapi kedua sahabatku ini.


"Mel, aku kirim videonya ya. semoga ini bisa menambah bukti-bukti agar Azzam bisa terus sekolah di sini." ucap Nisa kepadaku.


"iya nis. makasih banget ya kalian udah peduli sama Azzam." ucapku kepada mereka.


"makasih ya. kalian sudah membantuku untuk mencari bukti." ucap Azzam kepada Nisa dan fia.


"iya sama-sama. tapi janji ya, kalian harus bareng-bareng terus sampai nanti setelah lulus. cinta kalian itu bener-bener banyak banget pengorbanannya." ucap Nisa.


"Mel, jangan sia-siain Azzam ya. begitu pula kamu zam. awas ya kalo kamu berani nyakitin Amel." ucap fia kepada aku dan Azzam.


"aku gak akan sia-siain Azzam fi." ucapku tersenyum kepada fia.


"iya, aku janji gak bakal buat Amel kecewa." ucap Azzam kepada fia.


"udah aku kirim ya Mel. semoga besok lancar ya dan Azzam tetep bertahan di sekolah ini." ucap Nisa sembari menunjukkan layar handphonenya kepadaku. terlihat video sudah terkirim ke handphoneku melalui aplikasi WhatsApp.


"iya Nis..." ucapku kepada Nisa.


"yaudah, kita mau lanjut ke kelas dulu ya. semangat buat kalian." ucap fia.


"iya fi." ucapku menimpali fia.


fia dan Nisa melanjutkan jalannya menuju kelas. sementara aku dan Azzam masih berada di tempat duduk ini.


"ternyata, orang yang kukira akan menjadi musuhku. justru kini menjadi sahabat terbaikku." ucapku dengan tatapan fokus ke arah sebuah pohon yang tidak jauh di depanku.


"Nisa dan fia bukan?." tanya Azzam padaku.


"dulu, Nisa hadir sebagai pacarnya Anggie di saat Anggie dan aku sangat dekat. aku bahkan sempat ada rasa benci dengan Nisa. ternyata di balik itu, Nisa adalah korban dari Anggie. disitu aku merasa beruntung karena aku dan Anggie tidak sampai menjalin hubungan pacaran. sementara fia, aku dulu tidak tahu kalau fia suka denganmu zam. aku mengetahuinya setelah kita jadian. bahkan, fia sempat mendiamkanku berminggu-minggu. kulihat lama-lama fia sudah mulai ikhlas dan kini berteman baik denganku. begitu juga Nisa yang ternyata ingin terbebas dari Anggie. tapi kini, karena Anggie juga hubungan kita berada di ambang kehancuran. aku berharap semua bukti ini benar-benar bisa membebaskan mu dari surat peringatan ketiga yang kamu tahu juga itu surat peringatan terakhir yang akan membuat kamu keluar dari sekolah ini. tentu hubungan kita juga harus berakhir karena aku pasti akan terhalang restu orang tuamu zam." ucapku kepada Azzam dengan ekspresi datar, aku berharap masalah dengan Anggie ini akan segera selesai.


"kita sama-sama berjuang ya. aku gak pengen keluar dari sekolah ini dan mengakhiri hubungan kita." ucap Azzam.

__ADS_1


__ADS_2