
Senin, di bulan Agustus 2017
"yeiy, hari ini betku udah ganti kelas sebelas." ucapku seraya berdandan di dalam kamar.
aku sangat bersemangat untuk berangkat sekolah hari ini. ini adalah hari pertama aku duduk di kelas sebelas.
aku mempersiapkan buku, pena, dan beberapa keperluan sekolah yang harus aku bawa hari ini.
tepat pukul 06.30 aku berjalan keluar rumah. seperti biasa, aku duduk di gazebo depan rumahku seraya menunggu sang kekasih hati menjemput.
"bremmm..." sudah terdengar suara motor Azzam dari kejauhan.
tidak membutuhkan waktu lama aku dan Azzam langsung berangkat menuju sekolah.
kuhirup udara segar di pagi ini, kulihat jalanan pagi ini sangat ramai. mengingat hari ini adalah hari pertama para anak sekolah memulai tahun ajaran baru. tidak terasa, aku dan Azzam sudah sampai di depan gerbang sekolah.
Azzam mematikan mesin motornya tepat di depan gerbang sekolah.
aku turun dari motor, dan hendak berjalan menuju loby.
"eh tunggu." ucap Azzam sambil menarik tanganku.
"kenapa sayang?, ada yang tertinggal?." tanyaku heran.
"kamu tunggu di sini sebentar. kamu boleh berjalan ke loby saat aku sudah mulai memasuki parkiran." Azzam berkata sambil menatap mataku.
"lho, kenapa?." aku mengerutkan dahiku, raut mukaku terlihat jika saat ini aku sedang tercengang.
"setiap hari harus seperti ini, aku akan jalan dahulu menuju tempat parkir. setelah itu baru kamu boleh berjalan ke loby. aku ingin membuktikan jika di kelas sebelas ini, aku akan menepati janjiku kepada ayah." jawab Azzam padaku.
"baguslah, semangat ya sekolahnya sayang." aku berkata seraya mengelus lengan kanan Azzam.
selanjutnya, Azzam mulai berjalan menuntun motor antiknya menuju parkir motor yang berada di belakang. sementara aku, berjalan menuju loby setelah kulihat Azzam memasuki area parkir motor. dengan begitu, Azzam tidak mungkin membolos karena dia sudah berada di lingkungan sekolah.
mustahil jika ada siswa membolos dengan menaiki dinding pembatas. karena disini, dinding di bangun sangat tinggi. sehingga tidak ada siswa yang membolos dengan menggunakan cara tersebut.
"lega sekali rasanya, melihat Azzam sudah mau berubah menjadi lebih baik." aku berucap lirih sambil berjalan menuju loby.
di loby, aku tidak sengaja berpapasan dengan Bu Winda (wali kelasku serta merangkap sebagai guru Bimbingan Konseling).
"pagi Bu Winda." sapaku sambil menundukkan sedikit kepalaku.
"pagi juga, Mel. tunggu dulu." sahut Bu winda.
__ADS_1
"iya Bu?." aku berhenti dari langkahku.
"Azzam berangkat hari ini?." tanya Bu Winda padaku.
"Azzam berangkat Bu, tadi berangkat bareng sama saya." jawabku sambil tersenyum.
senyumku kali ini melambangkan rasa senang karena Azzam benar-benar mau berubah untuk tidak membolos lagi.
"syukurlah. semoga Azzam bisa berubah dan tidak membolos lagi ya Mel." ucap Bu Winda sambil mengelus dadanya. menandakan perasaan Bu Winda yang sangat lega.
"semoga ya Bu, mari.." aku menundukkan lagi kepalaku seraya berpamit kepada Bu Winda.
"iya. semangat ya." ucap Bu Winda sambil tersenyum.
kulanjutkan jalanku menuju kelas baru. aku tiba di depan kelas baru, terlihat teman-temanku sudah berada di dalam kelas. mereka sibuk memamerkan peralatan sekolah baru, foto selama liburan dua pekan kemarin, serta ada juga yang memamerkan handphone baru. hadiah dari orang tua karena naik kelas.
"sini Mel." fia memanggilku dari bangku nomor dua yang sedang di dudukinya.
"iya fi." jawabku sambil berjalan menuju ke arahnya.
"duduk sini aja, bareng sama aku lagi." ucap fia sambil tersenyum. saat kelas sepuluh, aku memang sudah duduk satu meja dengan fia. kini, aku dan fia duduk satu meja bersama lagi.
"Amel, liburan kemana aja nih dua pekan." ucap fia padaku.
"langgeng terus ya kalian." ucap fia sembari tersenyum.
senyumnya terlihat sangat tulus, tidak memperlihatkan kebencian sama sekali terhadap hubunganku dan Azzam.
"makasih fi." ucapku sambil meletakkan tas ke atas meja.
"baru pertama masuk kelas baru, harus pasang topeng pura-pura senang lagi. capek sih kalo kaya gini terus. kapan aku bisa membuang perasaanku kepada Azzam. sebenarnya aku sayang dengan sabahatku ini (Amel). tapi aku juga mencintai Azzam. meskipun aku tersenyum di depanmu Mel, tapi aku sebenarnya nyesek banget lihat kamu dan Azzam berpacaran. lagipula, kenapa harus kamu sih Mel, yang jadi pacar Azzam. kenapa gak orang lain aja. sehingga aku tidak perlu berpura-pura bahagia seperti ini." ucap fia di dalam hati.
"kriiiiinggg..." tepat pukul 07.00 wib tanda bel di mulainya pembelajaran di kelas berbunyi.
"selamat pagi anak-anak." sapa Bu Winda yang tiba-tiba berjalan memasuki kelas.
"pagi juga Bu.." ucap siswa satu kelas.
"bagaimana liburan kalian?, pasti menyenangkan bukan. di kelas sebelas ini, Bu Winda yang akan menjadi wali kelas kalian." ucap Bu Winda kepada semua siswa di kelas ini.
"Bu Winda lagi?." ucap lirih salah satu siswa.
tidak terduga, ternyata ucapan salah satu siswa tadi di dengar oleh Bu Winda.
__ADS_1
"iya, Bu Winda lagi." jawab Bu Winda.
Bu Winda memang kadang terlihat tegas, kadang juga terlihat ramah. tergantung pada situasi dan dengan siapa Bu Winda berbicara.
tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 wib. bel tanda berakhirnya pembelajaran juga sudah terdengar.
"waktunya pulang." aku berkata lirih sambil memasukkan buku pelajaran kedalam tas.
"Mel." ucap fia yang masih berada di sebelahku.
"iya fi?." aku menoleh ke arah fia.
"Azzam naik kelas?." fia bertanya kepadaku.
"naik kok, fi. emm kenapa?." tanyaku balik.
"eee, gapapa kok Mel. syukurlah kalo Azzam naik kelas. semoga gak bolos-bolos lagi seperti waktu kelas sepuluh ya." jawab fia.
"iya fi, semoga saja. karena jika Azzam masih membolos lagi, dan Azzam tidak naik ke kelas dua belas nantinya. hubunganku dan Azzam tidak akan di restui oleh kedua orang tuanya." ucapku dengan wajah lemas.
"sabar mel, Azzam pasti mau berubah demi kamu." ucap fia sambil mengelus lengan kananku.
"yaudah fi, kamu belum mau pulang?." aku bertanya kepada fia yang masih duduk di bangku. fia belum merapikan bukunya di atas meja yang digunakan untuk pelajaran tadi.
"belum, aku masih harus merapikan bukuku Mel." jawab fia padaku.
"aku duluan ya fi." ucapku sambil berjalan keluar kelas.
sampai di parkiran.
"sayang...." sambut Azzam yang sudah menunggu di atas motor antiknya.
aku berjalan mendekatinya dengan wajah sumringah.
tidak pernah lupa Azzam memakaikan helmku.
"gini terus ya sayang, jangan bolos-bolos lagi di kelas sebelas ini." ucapku menatap Azzam.
"apapun, akan aku lakukan untukmu." ucap Azzam sambil menatapku.
aku dan Azzam saling bertatapan, Azzam menampakkan senyum manisnya. senyum yang menandakan ketulusan cintanya padaku.
sementara itu, fia juga sedang berjalan menuju parkiran motor. fia terkejut saat dirinya melihat aku dan Azzam sedang saling bertatapan.
__ADS_1
"astaga, pemandangan apalagi yang kulihat sore ini. nyesek sekali rasanya." ucap fia di dalam hati. fia memalingkan mukanya dan pura-pura tidak melihat aku dan Azzam yang berada di depannya.