Sumpah Serapah Mantan Kekasih

Sumpah Serapah Mantan Kekasih
bab 18


__ADS_3

Desember, 2017


Azzam benar-benar membuktikan ucapannya.


semenjak Azzam naik ke kelas sebelas, sekalipun belum pernah membolos. absensinya tidak berantakan seperti dahulu saat Azzam masih kelas sepuluh. nampaknya, Azzam benar-benar takut jika dia tidak di naikan ke kelas dua belas nantinya. atau bahkan hubungannya denganku tidak akan di restui lagi oleh orang tuanya.


sore ini, Azzam mengajakku untuk pergi makan malam bersama.


kali ini, aku tidak tahu Azzam akan mengajakku makan dimana, karena Azzam tidak menyebutkan tempatnya.


tepat pukul 19.30 wib, Azzam menjemputku.


aku dan Azzam menikmati perjalanan dari desa menuju kota dengan hembusan angin yang lumayan dingin ini.


sudah sekitar 30 menit aku dan Azzam berjalan dengan motor antiknya.


"kita mau kemana sih sayang?." tanyaku kepada Azzam.


"kita jalan-jalan sebentar, abis itu kita makan malam ya." jawab Azzam.


setelah menikmati suasana malam hari di kota, Azzam berhenti di sebuah kafe yang tentunya tidak asing.


ya, ini adalah kafe tempat dimana dahulu Azzam menyatakan cintanya padaku. kami turun dari motor, tak lupa Azzam melepaskan helmku. Azzam menggandeng tanganku, dan kami berjalan menuju pintu masuk kafe. suasana hari ini nampak lumayan rame.


Azzam terus menggandengku dan melewati tempat untuk memesan menu.


"lho, kita gak pesen menu dulu?." tanyaku sambil berjalan karena Azzam berjalan sembari menggandengku dengan erat.


"gak, sayang." ucap Azzam.


raut wajahku menampakkan raut wajah yang sangat heran.


"Azzam mau bawa aku kemana sih?. kok meja-meja di outdoor yang biasanya kami duduki saat dinner malah di lewati juga." ucapku dalam hati sambil melihat suasana outdoor kafe yang lumayan rame. kafe ini mempunyai dua spot untuk makan, yaitu outdoor dan indoor. tetapi biasanya, aku dan Azzam lebih menyukai outdoor karena sejuk walaupun Kafe kadang sangat ramai. sedangkan jika ingin indoor, harus reservasi beberapa jam sebelum datang ke kafe. karena indoor hanya di khususkan untuk mereka yang mempunyai acara saja. seperti ulang tahun, anniversary dan lain-lain. yang memfokuskan pada suatu acara.


Azzam terus saja berjalan, kini kami sudah melewati outdoor dan Azzam masih saja berjalan ke belakang.


"bukannya di belakang outdoor ini adalah indoor?. Azzam mau mengajakku indoor?. privatroom untuk acara khusus. tapi acara khusus apa?." tanyaku dalam hati.


kami terhenti di depan sebuah pintu.


"kak Azzam ya?." tanya seorang pelayan kafe.


"iya." Azzam menjawabnya.


"silahkan kak." pelayan kafe tadi membukakan pintu ruangan.


Azzam menggandengku masuk. betapa terkejutnya aku, terlihat meja bundar dengan di hiasi bunga, serta hidangan juice dan beberapa makanan pendamping di sebelahnya. terdapat juga kue tart yang sudah di hiasi lilin yang menyala. di tambah dengan tulisan dinding ruangan bertuliskan happy first anniversary.


ternyata azzam tidak lupa dengan anniversary pertama hubunganku, tapi aku sendiri yang lupa.


"yaampun sayang, ini bagus baget." aku tercengang melihat apa yang kulihat di depanku.


"silahkan duduk tuan putri."


ucap Azzam mempersilahkan aku untuk duduk di kursi.


aku duduk di kursi sambil melihat isi ruangan sang di hias sangat indah.


kulihat kue tart yang berada di meja, bertuliskan happy anniversary sayang.


"di tiup dong sayang lilinnya." Azzam berkata padaku.

__ADS_1


kutiup lilin di atas kue tart itu.


"ini adalah tepat satu tahun setelah kamu menerima cintaku. aku berharap, kamu bisa terus mencintaiku. menerima baik dan burukku. tidak bosan-bosan untuk terus mengingatkanku tentang hal baik. aku sendiri akan terus berusaha untuk menjadi yang terbaik demi hubungan kita." ucap Azzam dengan senyum manisnya. matanya tak henti-hentinya menatapku dengan mesra.


"tentu, aku akan selalu menemanimu." jawabku sambil tersenyum.


Azzam meraih tanganku di atas meja. diusapnya jariku dengan jarinya.


tiba-tiba Azzam mengeluarkan sesuatu dari bawah meja. di angkatnya sebuah bingkisan. bingkisan yang terlihat lumayan besar.


"untuk Amel." Azzam berkata sambil memberikannya padaku.


"untukku?." tanyaku.


"iya, spesial untuk Amel. dibuka nanti ya kalo sudah di rumah." Azzam tersenyum kepadaku.


"banyak sekali yang Azzam beri padaku di anniversary yang pertama ini. sementara aku, aku tak membawa apapun karena aku saja lupa jika hari ini tepat satu tahun hubunganku dan Azzam. karena dulu, aku menerima Azzam hanya untuk obat pelampiasan saat Anggie menyakitiku. sebelum aku benar-benar bisa mencintai Azzam seperti sekarang ini." ucapku dalam hati.


aku dan Azzam menikmati hidangan, sesekali Azzam menyuapiku dan aku menyuapinya.


waktu menunjukkan pukul 22.00 wib. aku dan azzam memutuskan untuk pulang.


(sampai di depan rumahku)


"makasih ya sayang atas semuanya." ucapku sambil turun dari motor.


"iya sayang, ini adalah bukti dari cintaku yang sangat besar." ucap Azzam seraya membukakan helmku.


Azzam berpamitan pulang. aku berjalan masuk ke rumah.


(di dalam kamar)


kubuka bingkisan yang Azzam berikan tadi.


"happy first anniversary Amel dan Azzam" tiba-tiba boneka ini mengeluarkan suara.


"waw!. ternyata berisi suara juga." ucapku terkejut.


"ahhh Azzam baik banget sih..." ucapku sambil kupeluk lagi boneka ini. tak lupa aku mengirim pesan WhatsApp untuk mengucapkan terimakasih lagi kepada Azzam.


beberapa hari kemudian, di sebuah malam.


"drtttt drttt drttt" suara panggilan WhatsApp dari Azzam.


"halo sayang?." jawabku menerima panggilan.


"lagi apa sayang?." tanya Azzam padaku.


"aku lagi rebahan aja." ucapku.


"aku mau izin berangkat touring sayang." ucap Azzam tiba-tiba.


"besok kan masih rabu. kenapa gak touring di hari Sabtu Minggu saja?." jawabku, karena sejak kelas sebelas ini Azzam touring di hari Sabtu sore dan pulang di hari Minggu sore. sehingga Azzam tidak pernah membolos sekolah. tidak seperti dahulu saat kelas sepuluh. Azzam touring kapan saja. bahkan di hari aktif sekolah.


"hmm acara ini aku suka banget yang." ucap Azzam.


"lho, kalo kamu besok ikut touring berarti kamu membolos dong besok." ucapku kesal.


"hmmm gimana ya yang." Azzam sangat bingung, terlihat dari cara berbicaranya.


"terserah." ucapku dan ku tutup panggilan WhatsAppnya.

__ADS_1


beberapa kali Azzam mencoba menghubungiku lagi. tapi aku mengabaikannya.


keesokan harinya.


benar saja, Azzam tidak menjemputku. rupanya Azzam nekad ikut touring. dan aku berangkat sekolah sendiri pagi ini.


benar saja, saat jam istirahat Bu Winda memanggilku untuk ke ruangannya.


"permisi." aku mengetuk pintu ruang Bu Winda.


"iya masuk." jawab Bu winda.


"ibu memanggil saya?." tanyaku.


"iya, hari ini Azzam tidak berangkat. apakah amel tahu alasannya?."tanya Bu Winda padaku.


aku terdiam sejenak, wajahku terlihat kebingungan.


"harus kujawab apa ini, aku tidak mungkin berbohong jika Azzam ikut touring. tapi jika aku bilang Azzam ikut touring, tentu saja Azzam terancam tidak naik kelas karena membolos. aduh gimana nih. harus ku jawab apa." ucapku dalam hati.


"Mel." Bu Winda memecahkan lamunanku.


"eh, iya bu. maaf tapi Amel belum tahu Azzam tidak masuk hari ini karena apa." ucapku kepada Bu Winda.


"yasudah, seandainya hari ini Azzam sakit dan tidak masuk sekolah. Amel nanti bisa tolong di kabarkan ke Azzam ya besok saat berangkat sekolah membawa surat pernyataan sakit dari dokter." bu Winda berkata padaku.


"baik Bu." jawabku.


"yasudah, sekarang Amel boleh balik ke kelas." ucap Bu Winda sambil tersenyum.


"makasih Bu, permisi." aku berpamitan kepada Bu Winda.


aku berjalan menuju kelas sambil memegang handphoneku, aku ingin menghubungi Azzam.


tiba-tiba seseorang menabrakku. "dyarr!!!" handphoneku terjatuh ke lantai.


"duh maaf gak sengaja." ucap seseorang yang menabrakku.


tangannya meraih handphoneku, begitu juga tanganku ingin mengambil handphoneku di lantai. sehingga tangan kami bersamaan ingin mengambil handphone. aku mendongakkan kepalaku. ingin kulihat siapa orang yang menabrakku ini.


"Anggie." ucapku lirih.


rupanya yang menabrakku adalah Anggie.


"maaf Mel, aku terburu-buru tadi. tidak sengaja menabrakmu."


Anggie kembali berdiri.


"iya gakapapa nggie. aku juga gak lihat jalan karena terfokus ke handphone."


ucapku sambil mengelap-elap handphone yang baru terjatuh tadi.


"ada yang rusak?." tanya Anggie padaku.


"emm enggak ada nggie, masih nyala kok." jawabku sambil memperlihatkan layar handphoneku yang masih bisa menyala.


"iya Mel." jawab Anggie yang masih terdiam di depanku.


"aku duluan dulu nggie." ucapku sambil berjalan lagi menuju kelas.


di sisi lain, ternyata Nisa menyaksikan adegan tabrakan ku dengan Anggie tadi.

__ADS_1


"mereka tidak sengaja bertabrakan, tapi di lihat dari tatapannya, Mereke seperti saling memendam rasa. hmm semoga hanya pikiranku saja." ucap Nisa.


__ADS_2