
tepat pukul 16.00 wib
"kriiingg." bel tanda berakhirnya pembelajaran hari ini telah berbunyi.
aku keluar kelas, terlihat Azzam sudah menungguku di depan kelas.
"selamat sore sayang." ucap Azzam menyambutku.
"sore.. yok pulang." jawabku seraya tersenyum.
aku dan Azzam berjalan menuju parkiran. tanpa sengaja, aku dan Azzam berpapasan dengan Anggie yang berjalan keluar dari parkir motor.
firasatku sudah tidak enak, karena lirikan Anggie terhadap Azzam yang sangat sinis.
"coba aja berani nglirik gitu di luar sekolah, udah tak hajar tu anak!." ucap Azzam yang melihat tatapan sinis dari Anggie saat berpapasan.
"udah, sabar sayang. jangan di ladenin." ucapku menenangkan Azzam.
aku dan Azzam tiba di depan motor Azzam. betapa terkejutnya Azzam, melihat roda motornya sudah kempes. bukan hanya satu. tetapi kedua roda motornya kempes.
"astaga!!!!, ini pasti kerjaan si Anggie. apa sih maunya anak itu!!!, biar kuberi pelajaran dia!!!." ucap Azzam yang kesal melihat kedua ban motornya sudah kempes.
Azzam yang marah hendak menyusul Anggie. namun, sebisanya kuhentikan. kuraih tangannya yang sudah beranjak akan berjalan keluar dari parkir motor.
"sayang, udah sabar... sabar dulu... jangan suudzon dulu." ucapku sambil kutarik tangan Azzam agar tidak melanjutkan langkahnya untuk menyusul Anggie.
"tapi ini udah keterlaluan banget sayang." ucap Azzam yang terlihat masih memendam emosinya.
"udah, jangan terpancing emosi dulu. kita dorong motornya bareng-bareng ya." kugandeng tangan Azzam dan berjalan menuju motor yang kedua rodanya sudah kempes.
"aku kasihan sama kamu kalo kamu harus ikut dorong motor." ucap Azzam kepadaku.
"gakpapa, kita naik motor berdua. ya dorongnya harus berdua dong biar adil." ucapku sambil tertawa kecil agar Azzam tak larut dalam amarah emosinya.
"beruntung banget punya pacar kayak kamu." ucap Azzam yang tersenyum seraya mengelus rambutku.
"kamu yang sabar ya sayang." ucapku tersenyum.
"pasti. aku akan bersabar demi kamu, demi hubungan ini. dan demi orang tuaku. aku gak mau ngelihat kamu dan mereka sedih karena aku gak naik kelas. aku pasti bakal buktiin kok." ucap Azzam.
"di ruang otomotif ada penambah angin ban motor kan sayang?." tanyaku kepada Azzam, yang tiba-tiba aku teringat dengan jurusan otomotif.
"ada kok sayang. yaudah aku dorong motornya sampai depan ruang otomotif ya." azzam berkata sembari mendorong motornya dari parkiran.
__ADS_1
"aku bantu sayang." ucapku sambil membantu Azzam mendorong motor. Azzam mendorong motor dari setir depan, sementara aku mendorong dari belakang.
setelah beberapa menit aku dan Azzam mendorong motor bersama. akhirnya kami tiba di depan ruang otomotif.
"huft" aku mengelap keringatku.
"kamu capek ya sayang. kan aku udah bilang biar aku aja yang dorong tadi." ucap Azzam sambil mengelap keringatku yang keluar di dahi.
"kamu sempet-sempetnya ngelap keringat aku. nih keringat di dahimu juga pada keluar." ucapku tertawa kecil sambil ku elap keringat Azzam yang juga keluar dari dahi.
Azzam dan aku tertawa kecil. hal kecil seperti inilah yang membuat hubunganku dan Azzam tidak pernah membosankan. Azzam selalu memberi perhatian-perhatian kecil yang tidak semua laki-laki bisa lakukan.
Anggie yang berada di balik pintu ruangan otomotif merasa kesal, lantaran Azzam tidak merespon perbuatannya. Azzam justru semakin mesra dengan Amel.
"udah kubuat motor mereka gak bisa jalan juga masih sempet-sempetnya bermesraan. siall!!!." ucap Anggie dalam hatinya.
"aku ambil pompa aja ya sayang. kita isi angin ban pake pompa aja." Azzam memasuki ruang otomotif untuk mencari pompa motor.
Anggie tiba-tiba keluar dan menghampiriku.
"itu ban bukannya kempes Mel. itu bocor. lihat aja di ban itu. pasti ada pakunya hahaha." ucap Anggie sambil tertawa.
"ini pasti ulah kamu ya!!." ucapku marah.
"ada apa sayang." Azzam berkata seraya berlari ke arahku.
aku terdiam melihat Anggie yang tersenyum sinis di depanku.
"ngapain kamu disini!!!." ucap Azzam kepada Anggie.
Anggie masih tersenyum dengan sinisnya. Azzam yang sudah menemukan pompa motor bergegas memompa roda motor yang kempes.
"pompa aja terus. tu motor bocor goblok!." teriak Anggie.
Azzam yang sudah tidak dapat membendung emosinya sontak membuang pompa motor dan menghampiri Anggie.
"mau Lo apa anjingg!!." ucap Azzam, satu tangannya menarik baju Anggie. dan satu tangannya lagi di naikkan, bersiap untuk memukul Anggie.
"pukul dong. masak gak berani mukul." ucap Anggie dengan santainya.
"sayang jangan." teriakku kepada Azzam.
Azzam yang mendengar teriakanku sontak menurunkan tangannya dan melepaskan Anggie.
__ADS_1
"awas Lo ya!!!." ucap Azzam yang meninggalkan Anggie dan kembali berjalan ke arahku.
"gitu aja gak berani, wuuu Cemen jadi cowok." teriak Anggie kepada Azzam.
"udah sayang, sabar dulu ya. aku mohon." ucapku kepada Azzam.
"emm iya." Azzam menimpali.
tiba-tiba Nisa dan fia muncul entah dari mana. rupanya, mereka mengikuti sejak aku dan Azzam mendorong motor dari parkiran. Nisa dan fia yang juga hendak ke parkiran. terhenti melihat aku dan Azzam yang mendorong motor bersama. mereka mengikuti dari belakang secara diam-diam.
"stop Anggie!!. jangan ganggu mereka lagi. mereka salah apa sama kamu." ucap Nisa.
"Lo gak usah ikut campur nis. kita udah putus. inget!, kita udah putus!." teriak Anggie kepada Nisa.
"nggie. berhenti ngedapetin sesuatu yang Lo mau pake cara curang." Nisa menimpali Anggie.
"agghhhrrr!!!." teriak Anggie seraya berbalik badan dan meninggalkan kami.
Nisa dan fia menghampiri aku dan Azzam.
"gak habis fikir sama si Anggie. apa sih yang ada di otaknya." ucap Nisa yang terlihat kesal.
"udah nis, kita gakpapa kok." ucapku kepada Nisa.
"kalian pake motorku ya. zam, kamu pulang sekalian anterin Amel pake motorku aja. besok baru bawa lagi ke sekolah." tiba-tiba fia menawarkan motornya untuk Azzam.
"gak usah fi. repotin kamu. nanti biar aku sama Amel naik ojek aja pulangnya." ucap Azzam yang terlihat sungkan menerima tawaran dari fia.
"gakpapa zam, ini aku yang nawarin kok. bukan kalian yang minta." ucap fia.
"makasih ya fi." ucap Azzam.
"nanti aku pulang bareng Nisa, rumahku dan Nisa kebetulan satu arah ya kan nis." ucap fia seraya tersenyum.
"emm." Nisa mengangguk dan tersenyum.
"motor kalian di titip di bengkel sebelah aja, sekalian di tambal. kayaknya masih buka kok." ucap fia.
"makasih ya nis, fi. kalian baik banget." ucapku kepada Nisa dan fia.
aku menemani Azzam mendorong motor sampai di bengkel, sementara fia dan Nisa mengikuti dari belakang dengan motornya masing-masing.
Azzam menitipkan motor di bengkel samping sekolah. Azzam dan aku pulang dengan sepeda motor milik fia. sementara fia pulang di antar oleh Nisa yang kebetulan satu arah untuk pulang kerumah.
__ADS_1