
"Pemirsa, kami saat ini ada di lokasi kecelakaan maut yang menewaskan 100 orang. Saat ini kami akan mewawancarai salah satu saksi mata yang ada di tempat kejadian."
Reporter wanita melirik ke samping, dan mewawancarai seorang pria tua berumur 40 tahun.
"Pak, boleh tahu siapa namanya Pak? Bagaimana kecelakaan maut ini berawal?"
Reporter wanita menyerahkan mix pada pria itu.
"Nama saya Vitnah, pake V bukan F ya ..."
"Iya, Pak Vitnah, boleh diceritakan kronologi kecelakaan maut ini terjadi?"
"Apa saya bakal dapat uang?"
Reporter wanita mendecakkan lidah dan tak bisa berkata-kata dengan pertanyaan saksi kejadian, tapi ia masih menganggukkan kepalanya.
Pak Vitnah lalu mengarang kronologi kejadian.
"Sebuah mobil Maserati muncul dari belokan dengan ngebut tanpa menyalakan lampu sen dan tanpa menekan tombol apa itu namanya yah ... ya, sebut saja tombol tidid-tidid."
"Karena ngebut di belokan, wajar saja kalo terjadi tabrakan. Itu si pengemudi mobil Maserati bener-bener bego gak ketulungan! Ngebut kok di belokan?!"
"Mobil Maserati Akhirnya bertabrakan dengan mobil Toyota Agya dan akhirnya hancur dah hancur pastinya!"
"Trus, mobil bus pariwisata bertingkat yang ada di belakang mobil Toyota berusaha mengerem dan menghindari menabrak mobil di depan sambil akselerasi ke samping. Tapi ya itu ... malah jatuh ke jurang. Apes bener dah, padahal tuh bus ada banyak orangnya. Bus penuh muat 100 orang lebih, pada mati semuanya! Bener-bener sialan tuh si pengemudi Maserati sialan!"
Si saksi berhenti sejenak sambil mendesah dengan wajah memerah marah seolah ingin memukul penagih pinjaman uang. Napasnya dipercepat seolah ia sangat emosional. Reporter wanita dan kerumunan yang menyaksikan cerita si bapak juga terbawa emosi dan mulai merasa ikut marah.
Tapi suasana hati mereka langsung berubah saat si Pak Vitnah mengatakan kata-kata selanjutnya.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, berapa uang jajan saya dari memberikan kesaksian?"
Reporter wanita: "..."
Kerumunan: "..."
"Ayolah, jangan pelit-pelit ngasih duit! Saya sudah berakting dengan baik, saya harus memasang wajah yang emosional! Saya harus menampar wajah saya hingga merah agar terlihat sedang marah, itu sakit! Ada pepatah yang mengatakan seorang aktor yang berdedikasi itu harus dibayar mahal!"
Reporter wanita: "..."
Kerumunan: "..."
Kameramen: "..."
Pemirsa TV di rumah: "..."
(Author ingin berkata: Pak Vitnah, itu tidak tepat saat Anda mengatakan soal uang saat kamera masih menyala dan disiarkan ke seluruh Indonesia!)
___________
Warganet (warga internet) mengutuk si pelaku yang menyebabkan kecelakaan maut, adik si pelaku dibully di sekolah dan akhirnya berhenti sekolah dan pindah ke sekolah lain saat situasi menjadi terkendali atau tepatnya saat keadaan mulai hening. Sementara Ayah si pelaku diejek dan dicaci-maki karena dianggap tidak bisa mendidik anaknya yang berkelakuan bebal.
Warga berbondong-bondong memprotes di jalanan meneriakkan kata 'keadilan keluarga korban yang ditinggalkan' atau 'keadilan untuk korban tragedi Virus Mabuk' mereka menuntut pemerintah agar keluarga si pengemudi mabuk membayar ganti rugi dengan kekayaan mereka berhubung si pelaku adalah anak orang kaya.
Warga juga menuntut agar peredaran minuman keras di Indonesia dilarang! Warga juga menuntut agar pabrik-pabrik minuman keras ditutup selamanya dan bila perlu diusir saja pengusaha yang ngeyel tatap memproduksi minuman keras keluar dari Indonesia!
Pemerintah seperti menganggap protes warga sebagai angin kosong yang masuk ke telinga kanan dan keluar lewat telinga kiri.
Protes keadilan semakin menggema di jalanan berbagai kota di Indonesia, dan semakin banyak warga yang ikut-ikutan protes menuntut keadilan di jalanan berbagai kota dan juga demo-demo yang terjadi di gedung DPR, DPRD dan MPR.
__ADS_1
Pada akhirnya banyak demo yang berakhir rusuh menyebabkan jalanan macet dan tawuran dengan petugas kepolisian yang berusaha menekan demo agar tidak seenak jidat terjadi.
Banyak demo rusuh dengan pendemo yang melempari batu ke arah polisi yang menjaga ketertiban demo. Tidak Sudi dilempari batu, polisi membalas dengan siraman air yang membuat pedih di mata. Saat demo semakin tak terkendali polisi menggunakan tongkat satpam untuk memukuli para pendemo!
Di salah satu demo, banyak warga yang terluka, hampir 3.000 terluka dari ringan hingga patah tulang. Hal ini menimbulkan kemarahan warga lainnya terutama keluarga pendemo yang putra dan putri mereka terluka diinjak dan dipukuli. Mereka akhirnya ikutan demo sambil mengajak tetangga mereka dan tetangga mereka mengajak sanak keluarga dan tetangga lainnya sehingga jumlah pendemo semakin banyak yang menyebabkan kerusuhan akibat demo semakin parah.
Akhirnya akibat demo yang terus menerus, Negara RI menderita kerugian ekonomi karena bisnis terganggu akibat demo.
Pemerintah akhirnya bereaksi. Presiden RI akhirnya bersuara akan menjatuhkan hukuman pada keluarga si tersangka berupa ganti rugi masing-masing 10 Miliyar untuk setiap korban yang berjumlah 199 orang.
Adapun si tersangka, dia tidak akan dieksekusi karena langsung meninggal di tempat kejadian.
Pengumuman Presiden RI tidak membuat puas warga RI, karena petugas kepolisian yang menggunakan tongkat memukuli ribuan warga hingga harus dilarikan ke rumah sakit tidak disanksi atau dihukum. Demo akhirnya berlanjut dan semakin membesar, pada akhirnya ekonomi RI pada bulan itu menderita devisit.
Pemerintah pusat akhirnya berusaha menenangkan masyarakat dengan mengumumkan penjatuhan sanksi pada oknum aparat yang melakukan kekerasan dan penutupan seluruh pabrik minuman keras dan peredaran minuman keras di Indonesia dilarang sepenuhnya. Juga, sejumlah uang kompensasi untuk korban yang terluka akibat tongkat satpam polisi yang menjaga ketertiban demo.
____________
"Hiks... Ayah, kenapa kita harus jatuh miskin?! Ini kesalahan kakak yang sering mabuk-mabukan dan keluarga kita yang harus menanggung akibat ulahnya!"
Seorang pemuda menangis tersedu-sedu, tapi Ayahnya tidak mengatakan apapun ...
Pada akhirnya Ayah si pemuda pergi ke kamarnya meninggalkan putranya yang menangis sendirian.
Pemuda yang menangis itu bernama Layi Isnan, anak kedua dan juga anak bungsu. Ibunya sudah meninggal saat dia berumur 3 tahun, dan baru-baru ini kakaknya meninggal di kecelakaan maut yang dikenal sebagai tragedi Virus Mabuk. Ya, kakaknya adalah si pengemudi mabuk yang menyebabkan hampir dua ratus orang meninggal.
Keesokan harinya.
Layi bangun karena perut lapar. Ia menuju dapur dan mendapati tidak ada makanan apapun di meja makan.
__ADS_1
Biasanya ada koki yang memasak makanan untuknya setiap pagi, tapi keluarganya baru-baru ini jatuh miskin sehingga kini tidak ada siapapun di rumahnya kecuali ia dan Ayahnya.
Rumah yang besar dan nyaman juga telah dijual untuk biaya kompensasi korban tragedi Virus Mabuk. Kini, ia dan Ayahnya hanya menempati sebuah rumah kecil.