Susuk Tato Ular

Susuk Tato Ular
Layi Berlatih Penempaan Tubuh Dalam Mimpi


__ADS_3

Pada malam hari, Layi dan Ratna makan bersama.


Suasana makan serasa muram karena bayi yang ada di perut Ratna.


Layi memperhatikan Ratna hanya makan sedikit. "Ratna, kamu harus makan banyak agar tidak sakit. Kasian pula bayimu jika kamu hanya makan sedikit."


Ratna tersadar dari lamunannya. "Maaf, Bang. Ini karena saya hanya--"


Ratna ingin mengatakan beberapa kata, tapi ia tidak tahu bagaimana harus mengatakannya.


"Hanya apa?" tanya Layi.


Ratna terdiam.


"Baiklah, kamu makan dulu, kita bisa mengatakan apa yang ingin kita katakan nanti setelah makan."


Ratna mengangguk.


Setelah makan, Layi mengajak Ratna untuk minum teh bersama di ruang santai.


"Ada yang ingin aku katakan padamu."


"Aku juga memiliki hal yang ingin aku katakan padamu, Bang."


"Aku yang akan mengatakan terlebih dahulu."


Ratna mengangguk, dia sudah memperkirakan apa yang akan ditanyakan Layi padanya.


"Aku ingin bertanya. Apa kamu sangat menyayangi bayi kita yang ada di perutmu?"


Ratna mengangguk. "Tentu saja aku menyayanginya, bahkan sangat menyayanginya!"


"Jika aku menyuruhmu untuk memilih antara aku dan bayi itu, siapa yang ingin kamu pilih?"


"Ini pertanyaan sulit, Bang. Aku menginginkan kalian berdua."


"Jika aku memaksamu untuk memilih satu saja diantara aku dan bayi kita, siapa yang akan kau pilih?"


Ratna, "..."


"Jika aku memintamu untuk menggugurkan bayi kita, apa kamu akan menuruti ucapanku?"


Ratna menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa menggugurkannya."


"Kenapa? Meskipun kita menggugurkannya, kita masih bisa membuat bayi yang lain setelah kamu menggugurkan bayi yang sekarang??" tanya Layi.


"Aku tidak mau menggugurkan kandunganku!"


Layi menghirup napas panjang sebelum memuntahkan napasnya. "Huh ..."


"Aku sudah selesai menanyakan apa yang ingin aku ketahui. Sekarang giliranmu untuk berkata."


"Aku tahu kamu begitu mencintaiku, Bang. Aku juga sangat mencintaimu sehingga bahkan aku rela masuk neraka menyusulmu jika suatu hari kamu masuk neraka."


"Aku juga tahu kamu sangat mengkhawatirkan keselamatanku karena bayi yang ada di dalam perutku."


"Tapi Bang, buah hati yang ada di dalam perutku adalah hasil dari cinta kita. Aku tidak ingin kehilangan bayi kita. Aku tidak akan pernah menggugurkannya kecuali kamu membunuhku, Bang!!"

__ADS_1


Ratna menjadi emosional, matanya mulai menitikkan air mata.


"Please, Bang! Jangan minta aku menggugurkan bayiku. Aku tidak ingin hidup dengan perasaan menyesal, bersalah, dan berdosa seumur hidupku. Aku tidak akan hidup dengan damai jika kamu memaksaku menggugurkan bayiku!"


Ratna mengambil tissue dan mengusap air matanya yang mulai deras terjatuh.


"Ratna-- kamu sangat egois. Kamu tidak memikirkan perasaanku."


"Maaf, Bang. Bukannya aku egois, tapi aku tidak bisa menggugurkan bayiku, hanya itu."


"Aku juga tidak ingin membuatmu menggugurkan bayi kita. Bayi itu tidak bersalah, dan selama masih ada harapan untuk bisa terus hidup. Ayo kita berjuang bersama!"


Ratna, "!! Maksud Abang??"


"Ayo kita biarkan bayi itu lahir ke dunia. Kita akan rawat bersama-sama dan menumbuhkan bayi kita menjadi wanita yang cantik dan bahagia."


"Abang serius?"


Layi tersenyum, "Tentu saja aku serius. Kita suami istri harus selalu mendukung satu sama lain. Bahagia dan susah ditanggung bersama selamanya. Aku juga ingin membesarkan bayi yang cantik dan ingin rasanya dipanggil ayah oleh anak kita kelak."


"Abang beneran mendukung keputusanku untuk tidak menggugurkan bayi kita??" Ratna bertanya seolah ia salah mendengar.


Layi mengangguk, "Ya."


Ratna menangis menitikkan air mata, ia memandang suaminya dengan penuh syukur.


"Terimakasih Bang atas pengertiannya. Aku memang tidak salah memilihmu sebagai suamiku. Kamu selalu mendukungku. Aku sangat bahagia."


Ratna bangkit dan berlari menuju Layi lalu memeluknya sambil menangis sesenggukan.


Layi menepuk punggung Ratna dengan pelan, "Sudah sudah, berhenti Jangan menangis teru, kasian bayi kita."


Malam itu, Ratna yang berencana untuk kabur dari rumah telah mengurungkan niatnya karena suaminya ternyata selalu ada di sisinya.


Ia tidur dengan nyaman dalam pelukan Layi.


Sementara Ratna tidur dengan nyaman, tidak begitu dengan Layi.


Layi malam itu kembali bermimpi, mimpi yang menyambung dari mimpi sebelumnya.


Di mimpinya, Layi diajarkan cara berkultivasi oleh gurunya.


"Jalur kultivasi adalah jalan yang menentang surga dan surga. Oleh karena itu, saat kamu mencapai ketinggian tertentu di jalur kultivasi dan melangkah ke tahap yang lebih tinggi, akan turun kesusahan petir yang merupakan ujian sekaligus hukuman dari langit."


"Guru, bukankah itu menakutkan jika sampai kita tersambar petir kesusahan surgawi? Bagaimana kita bisa melewati ujian kesusahan petir, Guru?"


"Ada beberapa metode yang bisa digunakan untuk menangkal petir kesusahan surgawi, tapi kamu tidak perlu memikirkan itu sekarang karena petir surgawi hanya akan turun saat seseorang naik ke tahap nascent soul. Kamu masih jauh dari menjadi nascent soul kultivator, kamu bahkan belum mencapai tahap Body forging, tahap terdasar dari kultivasi."


"Lalu Guru, bagaimana aku bisa masuk tahap Body Forging?"


Chen Fan tersenyum, "Dimulai dengan menempa tubuhmu dengan latihan fisik berat."


Setelah itu, Layi yang baru berumur tiga tahun memulai latihan fisik dengan bimbingan gurunya, Chen Fan.


"Lari kelilingi danau ini sebanyak 3 kali."


Beberapa hari kemudian, Chen Fan menginstruksikan perintah lain.

__ADS_1


"Lari kelilingi danau ini sebanyak 10 kali."


Di hari yang lain.


"Kuda-kuda macam apa itu? perbaiki posisi kuda-kudamu!"


Di hari yang lain.


"Lari kelilingi danau sebanyak 100 kali!"


Di hari yang lain.


"Lari kelilingi danau sebanyak 1.000 kali!"


Di hari lainnya.


"Ini hanya beban seberat 10 Kg, kenapa kamu sangat lemah?"


Di hari lainnya lagi.


"Lari turun gunung dan naik lagi ke sini sebelum sore."


Di hari kesekian.


"Tambahkan beban di tubuhmu, dan lakukan push up sebanyak 1.000 kali!"


Di hari yang lain.


"Luruskan pukulanmu, tegapkan badanmu, tendang dengan benar!"


"Kaitkan kakimu pada kaki lawan agar ia tidak bisa melemparmu."


"Lemparkan pasir atau tanah ke mata lawan dan kabur saat kamu tidak bisa mengalahkan lawanmu!"


Immortal Chen Fan tidak hanya mengajarkan Layi cara menempa tubuhnya. Ia juga mengajarkan Layi cara membaca dan menulis.


"B a ba b i bi, babi. Ulangi!"


"Baik, Guru. B a ba b i bi, babi."


"Bagus, sekarang ikuti ucapanku dan lihat hurup di buku!"


"B a ba b i bi babi, o on oon, babi oon."


Layi mengikuti ucapan Gurunya.


"B a ba b i bi babi, o on oon, babi oon."


"Bagus, kemampuan mengejamu telah menjadi lebih baik. Murid yang cerdas!"


"Sekarang baca kalimat yang ada di kertas ini. Aku tidak akan membantumu kali ini."


"Baik, Guru."


Layi mulai membaca tulisan, "Saya makan naga ayam."


Chen Fan, "..."

__ADS_1


"Itu bukan dibaca naga, tapi dada ayam."


__ADS_2