Susuk Tato Ular

Susuk Tato Ular
31. Bayi Layi Jatuh ke Lantai


__ADS_3

Nanang dan Maria memutuskan untuk mengunjungi rumah Ferry keesokan harinya. Keduanya ingin melihat bayi itu dengan mata kepala mereka sendiri.


Mereka berdua juga telah menyusun rencana untuk mencelakai bayi yang bernama Layi itu.


Keesokan harinya.


Nanang dan Maria memutuskan membawa anak bungsu mereka yang berumur 3 tahun mengunjungi rumah Ferry.


Ada alasan khusus kenapa mereka membawa anak bungsu mereka. Alasannya sederhana karena mereka ingin anak bungsu mereka mencelakai anak angkat Ferry.


Keduanya menghabiskan waktu selama 3 jam penuh untuk melatih anak bungsu mereka cara mencelakai bayi Layi.


Nanang, Maria dan anak bungsu mereka yang bernama Jaja naik delman menuju Desa Babi Mati. Selama perjalanan Maria tak henti-hentinya mengingatkan Jaja untuk mencelakai bayi itu saat mereka sampai ke rumah Ferry.


"Nak, kamu harus ingat apa yang ibumu katakan kemarin, kan?"


Jaja mengangguk dengan polos.


Maria mengusap kepala anaknya, "Bagus, bayi itu adalah ancaman untuk kelangsungan hidup keluarga kita, kamu harus mencelakainya agar keluarga kita tetap aman di masa depan."


Jaja kembali mengangguk.


Jaja adalah anak yang patuh dan masih polos. Jaja akan selalu mendengarkan perkataan ibunya. Baginya, kata-kata ibunya tak boleh dibantah.


Setelah 15 menit naik delman, ketiganya memasuki Desa Babi Mati.


Mereka turun dari delman setelah membayar biaya ongkos sebesar 1 perak.


Nanang menggendong Jaja dan ketiganya melangkah memasuki Desa Babi Mati enuju kediaman Ferry.


Karena Nanang dulunya warga Desa Babi Mati, sebagian besar orang di desa masih mengenalinya dan menyapanya.


"Hei, bukankan ini kamu Nanang. Kamu kembali datang mengunjungi Kakakmu, yah?"


Nanang tersenyum mengangguk, "Iya, bagaimanapun ia adalah kakakku satu-satunya."


"Kamu sangat perhatian pada Kakakmu meskipun ia hampir tidak pernah mengunjungimu di Desa Sawo Alpukat."

__ADS_1


Nanang tersenyum canggung, "Yah, itu tidak masalah. Tidak baik meminta orang yang lebih tua untuk mengunjungi yang lebih muda. Itu akan lebih benar jika aku yang pergi mengunjungi Kakakku."


"Kamu benar-benar adik yang pengertian dan baik."


Setelah basa-basi sesaat, Nanang meneruskan kakinya melangkah menuju rumah Ferry.


Sepanjang jalan saat bertemu warga yang menyapa, ia balas menyapa secara singkat hingga akhirnya ia tiba di rumah Ferry.


Ferry dan Parwati menyambut kedatangan mereka, dan mempersilahkan mereka masuk.


"Kakak, kudengar kamu mengambil seorang bayi yang tidak jelas asal usulnya ke dalam rumah tanggamu?"


"... bukan urusanmu," jawab Ferry.


"Kakak, jika kamu menginginkan anak, kenapa tidak mengambil anak bungsu kami saja? Jaja masih berumur 3 tahun dan sangat patuh. Ia juga pintar sudah bisa mandi sendiri dan sangat menggemaskan. Dibanding mengurus bayi itu yang masih belum bisa mandi dan makan sendiri, lebih baik mengambil anak kami saja."


Istri Nanang juga ikut berbicara. "Benar kakak ipar, Jaja kami masih berumur tiga tahun tapi ia sangat patuh dan bisa melakukan banyak hal sendiri seperti makan, minum, mandi, dan juga tidak rewel. Tentu saja Jaja kami juga sangat menggemaskan dan cerdas, saat ia dewasa nanti ia pasti akan merawatmu dengan baik."


"Benar, Jaja kami adalah anak yang berbakti," tambah Nanang.


"Layi? Apa itu nama bayi itu?" tanya Nanang.


Ferry mengangguk.


"Kakakku tersayang, itu hanya anak dari bajingan, kenapa kamu harus mengambilnya saat kami memiliki Jaja?"


Maria juga menambahkan, "Benar! Bayi itu tidak jelas asal usulnya! Bagaimana jika bayi itu ternyata anak dari seorang pembunuh? Tidakkah bayi itu kelak akan menjadi pembunuh saat dia dewasa nanti?"


Ferry dan Parwati: "...?"


"Jika pun bayi itu bukan anak dari seorang pembunuh, bagaimana jika bayi itu anak dari seorang pelacur? Bukankah itu akan memalukan bagi keluarga kami?"


"Benar apa yang dikatakan istriku dan masih ada kemungkinan lain. Bagaimana jika bayi itu ternyata adlah bayi idiot yang dibuang orang tuanya karena keterbelakangan mental? Kakak, akan lebih baik jika kamu merawat anak kami, anak kami Jaja pasti akan menjadi anak yang berbakti."


Ferry dan Parwati merasa gerah dengan apa yang dikatakan adik dan adik iparnya.


Baik Ferry maupun istrinya menyadari apa yang diinginkan Nanang dan Maria yaitu kekayaan mereka.

__ADS_1


Memikirkan bahwa Nanang sendiri sudah memiliki tanah yang lebih dari cukup dari warisan orang tuanya dan masih serakah hingga menginginkan hartanya, Ferry tidak bisa menatap Nanang dengan tatapan jijik.


"Kami tidak peduli apa asal usul bayi kami, yang kami tahu bahwa kami benar-benar menyayangi bayi kami," kata Ferry.


"Tapi Kakak bayi itu ...."


"Kami tidak menginginkan bayi lainnya, kami hanya akan merawat bayi kami!"


"Kakak, lebih baik merawat Jaja dibanding merawat bayi itu."


"Jaja adalah anakmu. Sudah menjadi kewajiban mu untuk membesarkannya. Kami tidak mengambil Jaja sebagai anak kami karena kami tidak mau memisahkan Jaja dari kalian. Juga, istriku tidak mandul, ia pasti akan mengandung suatu hari nanti."


Mereka akhirnya berdebat satu sama lain, dan di tengah perdebatan mereka, Maria menyuruh anaknya masuk ke dalam.


'Semoga Jaja bisa menyelesaikan apa yang telah kami perintahkan tadi malam,' kata Maria dalam hatinya.


Jaja pergi masuk ke dalam dan segera ia melihat bayi Layi yang sedang terbaring di ranjang bayi.


Jaja memandang bayi Layi dan berpikir ia sangat menggemaskan dengan kulit putih bersih dan kulit pipi yang sedikit memerah karena masih bayi.


Jaja pikir bayi ini sangat cantik dan mengambilnya sebagai adiknya. Tapi memikirkan apa yang disuruh orangtuanya padanya, ia yakin orangtuanya tidak akan mau mengambil bayi Layi sebagai anak mereka yang menjadikan bayi Layi tidak akan pernah menjadi adiknya.


Jaja mengambil kursi kecil dan naik ke kursi. Ia menjulurkan jarinya ke pipi Layi dan berpikir, 'Sangat menggemaskan.'


Bayi Layi memandang Jaja dengan tatapan seperti ikan koi, Jaja berpikir matanya tampan dan ia akhirnya melupakan apa yang diperintahkan orangtuanya tadi malam.


Jaja bermain dengan bayi dan dengan sabar layaknya seorang kakak yang sedang bermain dengan adiknya. Jaja menjaga bayi.


Setelah lama bermain dengan bayi, ia merasa bosan dan akhirnya tiba-tiba teringat ancaman ayahnya. Ayahnya menyuruhnya untuk mendorong tempat tidur bayi agar bayi itu terjatuh ke lantai. Jika ia tidak menjalankan perintah ayahnya, maka ia akan dihukum dan tidak akan mendapatkan uang jajan lagi selama sebulan penuh.


Jaja yang senang jajan tentunya tidak mau kalau ia kehilangan uang jajannya. Maka Jaja mendorong tempat tidur bayi sehingga bayi Layi jatuh ke lantai.


Tidak hanya bayi Layi yang jatuh ke lantai, tapi juga kursi dan tikar tidur. Saat kursi jatuh, itu menimbulkan suara yang nyaring.


Bukk!! suara barang jatuh dari atas ke lantai.


Parwati kaget mendengar suara jatuh dari kamar bayinya. Ia segera bergegas masuk ke kamar.

__ADS_1


__ADS_2