Susuk Tato Ular

Susuk Tato Ular
Layi Belum Mandiri


__ADS_3

Selama tiga hari ini, Orang tua Layi menemani Layi. Semakin dekat waktu mereka untuk berpisah dari Layi, semakin berat rasanya hati mereka.


"Suamiku, rasanya berat jika kita harus menyerahkan anak kita padanya (Chen Fan)."


Ferry memeluk istrinya Parwati, "Ini untuk kebaikan anak kita."


"Tapi ...."


"Aku tahu berat rasanya. Aku sendiri tidak ingin dipisahkan dari Layi. Orang tua mana yang mau dipisahkan dengan anak mereka yang masih kecil?"


"Aku tahu Layi harus pergi untuk kebaikannya, tapi ini terlalu berat untuk hatiku menanggung beban rindu yang kelak akan datang saat Layi pergi, Suamiku."


Ferry memeluk dan menepuk bahu istrinya.


"Kita tidak boleh egois, kita tidak bisa menentang kehendak surga. Hanya ada kesengsaraan bagi mereka yang menentang kehendak surga."


"Hiks..." Parwati menangis.


"Ini malam terakhir Layi di sini. Aku akan pergi ke kamarnya dan menemaninya."


"Aku ikut. Aku ingin melihat anakku untuk terakhir kalinya sebelum ia pergi ke gunung Emei."


Ferry dan Parwati pergi ke kamar Layi.


Layi ternyata belum tidur.


"Ayah, Ibu."


Ferry dan Parwati buru-buru memeluk Layi sehingga membuatnya kebingungan. Parwati bahkan memeluknya sambil menangis.


"Layi putraku, apa kamu ingin pergi dengan Immortal Chen besok?" tanya Parwati.


Layi mengangguk.


"Kenapa kamu ingin pergi dengannya? Kamu hanya bertemu dan mengenalnya selama beberapa menit sebelumnya."


"Karena ...."


Layi menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tahu. Aku hanya ingin mengikutinya."


Malam itu, Layi tidur dengan dipeluk oleh kedua orang tuanya.


Sementara Layi tertidur, Ferry dan Parwati sama sekali tidak bisa tidur. Keduanya hanya terus memandangi putra mereka yang tertidur pulas.


Keesokan harinya.


Parwati dan Ferry memiliki mata merah yang bengkak karena semalam mereka menangis dan tidak bisa tidur.


Hari ini adalah hari di mana mereka akan berpisah dengan Layi. Hari di mana Immortal Chen Fan akan datang ke rumah mereka membawa bayi mereka, Layi.


Immortal Chen Fan datang ke manor mereka pada pukul 10.


"Aku datang untuk membawa muridku yang ditakdirkan oleh surga."


Layi melihat kedatangan gurunya, ia langsung berlari dan memeluk kaki gurunya.


Melihat Layi yang sangat menyukai Chen Fan membuat hati orang tuanya patah hati.


"Immortal, tidak bisakah kau membiarkan Layi bersama kami untuk beberapa hari lagi?" tanya Parwati.


"Aku sudah menunda keberangkatanku selama beberapa hari ini. Aku tidak bisa menundanya lagi."


"Baik, kami mengerti."


Kali ini giliran Ferry yang bersuara. "Immortal Chen Fan, bisakah kamu mengunjungi Gunung Emei untuk melihat putra kami di masa depan?"


"Tentu. Bagaimana pun kalian orang tuanya." Chen Fan mengangguk.

__ADS_1


Chen Fan pergi dengan Layi.


Di tengah jalan, ia mengambil pedang dan berdiri di atas pedang. Pedang terbang dengan Chen Fan dan Layi sebagai penumpangnya.


Chen Fan berdiri di atas pedang terbang dan saat cuaca menjadi panas karena sengatan matahari siang.


Ia memutuskan untuk turun ke sebuah desa.


Ia masuk ke kedai warung makan. Dan memesan beberapa makanan untuknya dan Layi.


"Apa yang ingin kamu makan Layi?"


"Aku akan makan apapun yang dipesan oleh guru."


"Pelayan, tolong buatkan daging kuda goreng dan telur puyuh yang direbus matang. Dua piring nasi uduk dan juga segelas susu kambing dan segelas teh hitam hangat dan dua gelas air putih."


"Baik, Tuan. Segera dibuat."


***


Setelah menunggu selama 40 menit, semua pesanan hidangan sudah tersedia di meja makan.


Chen Fan makan dengan anggun satu per satu memakan daging kuda dan telur puyuh.


Chen Fan tiba-tiba menyadari kalau Layi tidak menyentuh makannya.


"Kenapa kamu tidak menyentuh makananmu?"


"Aku ...."


"Ya, ada apa muridku?"


"Suapi."


Chen Fan, "??"


"Suapi aku ... "


"Aku masih tiga tahun, belum bisa makan sendiri, Ibuku menyuapiku setiap hari."


'Ah, kenapa surga memberiku seorang murid yang masih sangat kecil? Ini merepotkanku. Apakah aku bisa menuntut surga untuk biaya kompensasi karena telah memilihkan anak balita sebagai muridku?'


"Baiklah, aku akan menyuapiku. Tapi kamu harus belajar makan sendiri ke depannya."


Layi mengangguk.


Setelah makan.


"Ada apa dengan ekspresi wajahmu?"


"Aku ingin BAB, Guru."


"Kalau begitu pergilah ke toilet."


"Aku tidak tahu toiletnya."


"Lihat tulisan yang di sana."


Chen Fan menunjuk papan yang bertuliskan -Toilet 24 Jam-


"Tulisan di sana tertulis toilet."


"Aku belum bisa membaca," kata Layi dengan malu-malu.


"Jadi begitu. Kalau begitu karena sudah tahu di sana toilet, kamu bisa pergi ke sana sendiri. Aku masih ingin menikmati tehku."


Layi tidak pergi ke toilet, tapi terus menatap gurunya.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan? Bukankah kamu bilang ingin ke toilet? Kenapa belum pergi?"


"Aku takut! temani aku ...."


Chen Fan, "..."


Chen Fan akhirnya bangun dari kursi duduknya dan berjalan mengantar Layi ke toilet.


"Aku hanya akan menunggumu di pintu masuk. Kamu masuklah sendiri."


"Baik, Guru."


Setelah dua puluh menit.


"Guru, bantu aku!"


"Ya, ada apa Layi?"


"Ada kotoran."


"Terus?"


"Aku tidak tahu cara membersihkannya."


!!


Chen Fan, 'F.u.c.k! apa ia bilang ia tidak tahu cara membersihkan diri?!'


Chen Fan bertanya untuk memastikan.


"Layi, maksudmu kamu tidak tahu cara membersihkan diri setelah BAB?"


"Ya," jawab Layi dengan malu-malu.


"... lantas, siapa yang membersihkanmu setelah kamu BAB setiap harinya?"


"Para pelayan. Orang tuaku kaya dan memiliki banyak pelayan untuk mengurusku dan membersihkan toilet."


"Apa kamu sedang menyombongkan diri? Untuk kamu sombong sementara kamu tidak bisa membersihkan diri sendiri?"


Chen Fan akhirnya masuk ke toilet dan membersihkan Layi.


"Kamu bau sekali ee_mu?"


Layi menunduk malu, wajahnya memerah.


"Siap yang memberimu makanan yang menyebabkan bau sekali pada ee?"


Layi menatap gurunya.


"Guru memberiku daging goreng kuda dan telur. Tersangkanya adalah Guru."


Chen Fan, "...!!"


Chen Fan membersihkan Layi dan membawanya ke meja makan. Chen Fan kembali makan daging goreng kuda.


Setelah makan dan membayar harga makanan. Chen Fan membawa Layi masuk ke dalam sebuah delman yang ia sewa beserta supir delmannya.


Ada alasan khusus kenapa Chen Fan menyewa Delman. Itu karena cuaca hari ini sangat panas dan itu tidak baik untuk kesehatan Layi jika ia membawanya terbang di pedang.


Delman melaju dan Chen Fan mendekap Layi agar tidak terjatuh karena guncangan delman di jalan. Bagaimanapun Layi hanya balita umur tiga tahun, jadi ia belum terbiasa menahan guncangan delman yang ditarik kuda.


Setelah seharian, Chen Fan menemukan penginapan dan menyewa kamar untuk ia dan Layi tinggali untuk sementara waktu.


Hotel ini adalah tempat beristirahat bagi para pelancong yang melewati desa ini.


ada dua lantai di hotel ini.

__ADS_1


Lantai dua adalah tempat untuk beristirahat.


Sedangkan lantai satu adalah tempat orang-orang datang untuk makan dan bersantai.


__ADS_2