Susuk Tato Ular

Susuk Tato Ular
30. Orang Terkaya di Desa Babi Mati


__ADS_3

Keesokan harinya Ferry langsung pergi ke kantor pencatatan sipil mendaftarkan bayinya dan memasukkannya ke dalam rumah tangganya.


Ferry pulang dengan senang hati. Ia kerap tersenyum bodoh di sepanjang jalan dan orang-orang menganggapnya sedang gila.


"Kenapa dia tersenyum-senyum sendiri? Apa dia gila?"


"Jangan berkata terlalu keras, nanti dia mendengarnya dan marah!"


Ferry mendengar beberapa cibiran orang-orang, tapi ia tidak mempedulikannya karena hatinya sedang senang.


Bibi Reina menceritakan kepada warga di Desa Babi Mati saat ia sedang bergosip dan mengobrol dengan teman-temannya.


"Apa kalian tahu? Ferry dan Parwati sekarang sedang membesarkan bayi!"


"Apa? Kapan mereka memiliki anak?"


"Iya, benar, bukankah mereka tidak memiliki anak sebelumnya? Kenapa tiba-tiba mereka sedang membesarkan bayi?"


"Kapan Parwati hamil? Aku tidak pernah melihat perutnya membesar!"


"Betul betul betul!"


"Oh, benar! Itu mungkin keponakannya yang masih balita! Ia pasti setuju untuk mengambil keponakannya dari adiknya sebagai anak angkatnya!"


"Benar! Adiknya sudah memiliki dua anak, dan memberikan anak bungsunya pada Ferry bukanlah masalah karena Ferry adalah orang terkaya di Desa Babi Mati dan kelak anaknya akan mewarisi kekayaan pamannya."


"Memberikan anakmu pada saudaramu yang kaya adalah strategi yang cerdas! Kelak saat anak yang diberikan nanti akan mewarisi kekayaan keluarga angkatnya dan ia harus berbagi kekayaan pada orang tua kandung mereka!"


Karena mereka mulai berbicara yang tidak-tidak, Bibi Reina langsung menegur mereka!


"Kalian salah!" tegur Bibi Reina Diana Primata.


"Salah? Maksudmu anak kecil pada Ferry itu bukan anak adiknya??"


"Kapan aku mengatakan Ferry mengambil anak adiknya?!"


Bibi Reina memelototi teman-temannya lalu berkata, "Ferry menemukan bayi di hutan kemarin."


Bibi Reina menghela napas panjang sebelum kembali berbicara.

__ADS_1


"Bayi itu penuh luka goresan pisau di tubuhnya dan dalam keadaan dehidrasi. Sepertinya ibunya menolak untuk menyusui bayi itu dan membuangnya ke hutan."


"Apa?! Wanita mana yang tega tidak menyusui bayinya sendiri? Kenapa pula ia membuang bayinya ke hutan?!"


"Apakah bayi itu bayi tidak sah atau bayi haram?"


"Itu bisa saja, kalau bayi itu bayi sah, tidak mungkin ia akan dibuang!"


"Bisa juga bayi itu bayi dari pelacur atau bayi hasil pemeriksaan, kan? Jika benar, tentu saja ibunya menolak membesarkannya dan memilih membuangnya ke hutan!"


"Itu tidak benar! Bahkan jika itu bayi hasil perkosaan, itu harus digugurkan saat kandungannya masih muda. Kenapa ia harus menunggu untuk melahirkannya sebelum ia membuangnya??"


"Bayi tidak sah atau sah, tidak ada yang salah dengan meraka. Yang salah adalah orang tuanya yang tidak bertanggung jawab!"


"Benar, semua bayi itu suci lahir tanpa dosa."


Salah seorang wanita bertanya pada Bibi Reina.


"Bibi Reina, kamu bilang Ferry dan Parwati membesarkan bayi, apakah mereka bermaksud membesarkan bayi itu dan memasukkannya ke dalam rumah tangga mereka?!"


Bibi Reina mengangguk.


"Itu bagus membiarkan mereka berdua membesarkan bayi itu, mereka kaya dan sangat menginginkan anak. Bagaimanapun mereka mandul."


Bibi Reina memberitahu temannya, dan dari teman-temannya mereka memberitahu warga lainnya hingga hanya dalam sehari seluruh warga Desa Babi Mati telah mengetahui kalau Ferry kini sedang membesarkan bayi.


Ferry pulang ke rumah, ia tidak mempedulikan tatapan warga padanya di sepanjang jalan.


Ferry membuka pintu dan disambut oleh istrinya yang sedang menyusui Layi dengan susu kambing.


Istrinya gembira melihat Ferry.


"Mas, kamu sudah mendaftarkan bayi kita ke dalam rumah tangga kita?"


"Ya, tentu saja. Urusan Layi sudah beres, ia sudah resmi menjadi anak kita."


Senyum istrinya semakin cerah.


"Bagus kalau begitu."

__ADS_1


Hari-hari Ferry dan Parwati ke depannya sibuk dengan mengurus bayi. Setelah satu minggu, luka goresan pada tubuh bayi menghilang. Mereka bahagia karena penampilan bayi Layi semakin imut dan tampan tanpa luka goresan di tubuhnya.


Perubahan terjadi pada pasangan ini, yaitu mereka merasa kehidupan rumah tangga mereka menjadi lengkap dengan kehadiran bayi Layi. Meskipun mereka harus bergantian mencuci popok bayi yang dikotori poop dan pipis Layi, mereka merasa itu tidak merepotkan sama sekali. Karena mereka benar-benar mencintai bayi Layi.


Kabar Ferry mengambil seorang bayi sebagai anaknya telah terdengar sampai ke desa tetangga.


Di Desa Sawo Alpukat.


"Mas, apa kamu tahu kalau ada desas-desus bahwa kakakmu saat ini telah mengambil bayi untuk ia besarkan?" tanya Maria.


Maria adalah penduduk Desa Sawo Alpukat, ia menikah dengan Nanang yang merupakan adik dari Ferry yang menjadikannya adik ipar dari Ferry.


"Aku baru mendengarnya tadi pagi," jawab Nanang.


Maria gelisah, "Apa kamu sudah memeriksa apakah kakakmu benar-benar membesarkan bayi yang ia pungut dari hutan?"


"Aku belum, tapi karena yang memberitahuku adalah tetangga kita yang telah masuk ke Desa Babi Mati kemaren dan telah melihat dengan matanya sendiri bayi itu, bisa dipastikan bahwa kakakku benar-benar telah mengangkat bayi yang tidak jelas asal-usulnya sebagai anak angkatnya."


"Mas, kita tidak bisa membiarkan kakakmu membesarkan bayi itu! Kelak hartanya akan jatuh ke bayi itu dan kita tidak akan mendapatkan apapun!"


Nanang juga cemas seperti istrinya Maria. Ia memang menginginkan harta milik kakaknya sama seperti istrinya.


Orang tua Ferry dan Nanang adalah penduduk asli Desa Babi Mati. Keduanya lebih menyayangi Nanang dibanding Ferry. Oleh karena itu, sebelum kematian orang tuanya, mereka mewariskan tanah 50 hektar di Desa Sawo Alpukat pada Nanang dan hanya mewariskan 2 hektar tanah yang masih harus diolah pada Ferry di Desa Babi Mati.


Nanang dengan senang hati menerima tanah yang luas di Desa Sawo Alpukat dan kemudian menikahi wanita di desa tersebut dan akhirnya menjadi warga desa tersebut dan dikaruniai dua anak. Yang bungsu berumur 3 tahun dan yang sulung berkumur 10 tahun.


Sementara Ferry harus berjuang keras mengolah tanah 2 hektar untuk ditanami dan bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.


Ia akhirnya membuka usaha perdagangan dan telah sukses bebas dan akhirnya membeli tanah pertanian di desanya. Kini ia memiliki tanah pertanian seluas 209 hektar dan menjadi orang terkaya di desanya. Ia lalu menikahi Parwati warga setempat yang telah menjadi kekasihnya sejak ia masih dalam keadaan berjuang untuk sesuap nasi.


Perubahan hidup Ferry yang menjadi kaya telah menimbulkan kecemburuan adiknya dan adik iparnya.


Untunglah Ferry mandul sehingga tidak memiliki anak dan Nanang berpikir akan mewarisi kekayaan kakaknya begitu kakaknya mati tanpa ahli waris.


Ia juga berusaha menjadikan anak bungsunya agar dimasukan ke dalam rumah tangga Ferry untuk diasuh sebagai anak angkat Ferry agar ia bisa mengamankan harta Ferry ke depannya. Bukankah harta anak milik orang tuanya? itulah yang dipikirkan Nanang dan istrinya.


Sayangnya Ferry menolak anak mereka dengan alasan bahwa ia dan istrinya tidak mandul dan kelak akan memiliki anak kandung sendiri.


Nanang dan Maria kecewa, tapi memikirkan bahwa Ferry dan Parwati mandul dan tidak akan memiliki anak, mereka merasa lebih baik pada akhirnya.

__ADS_1


__ADS_2