
Setelah mengucapkan selamat tinggal pada Layi dan Ratna, Galuh dan Melinda akhirnya pamit pergi.
"Kami pamit pulang," kata Galuh.
Layi dan Ratna mengangguk.
Melinda memeluk Ratna, "Jaga baik-baik kandunganmu. Jangan terlalu banyak pikiran ...."
Ratna mengangguk.
Layi menutup pintu lalu mengajak Ratna untuk tidur.
Dalam tidurnya, Layi kembali bermimpi. Anehnya, mimpi ini adalah terusan dari mimpi yang sebelumnya.
Ferry dan Parwati yang pindah ke kecamatan dan memulai hidup baru dengan membawa bayi mereka Layi.
Ferry membuka usaha, dan dalam waktu beberapa bulan saja, ia telah menjadi sosok terkaya di kecamatan.
Ferry akhirnya membeli rumah yang lebih luas dan mempekerjakan lebih banyak pelayan juga dua orang baby sitter untuk merawat Layi.
Hal ajaib terjadi, di salah satu kebun yang dibeli Ferry beberapa bulan yang lalu. Kebun itu terdapat peti harta karun yang terkubur dalam tanah. Saat Ferry membuka peti tersebut, ia mendapati banyak batang emas di dalamnya. Ferry semakin kaya dan kaya.
Suatu hari Ferry mengajak istrinya Parwati bersama dengan bayi Layi yang kini berumur 6 bulan untuk berbelanja pakaian di pasar tradisional di kecamatan.
Seorang Peramal menghentikan Ferry dan Parwati di jalan.
"Tunggu."
Ferry dan Parwati menoleh pada si Peramal.
"Bayi itu, akan memberikan keberuntungan pada orang yang merawatnya."
"Apa maksudmu?" tanya Ferry.
"Bukankah hidup kalian akhir-akhir ini menjadi lebih baik?"
Mata Ferry dan Parwati berkedip.
"Bayi ini adalah bayi yang diberkati surga yang memberikan keberuntungan berupa kekayaan dan membuat orang yang merawatnya akan mendapatkan apa yang paling ia inginkan."
Ferry dan Parwati mulai tertarik dengan apa yang dikatakan si peramal. Mereka lebih tepatnya sangat senang mendengar orang lain memuji anak mereka, terlepas dari benar tidaknya selama itu adalah kata-kata yang bagus.
"Apa yang kalian inginkan?" tanya peramal itu.
"Kami ingin memiliki anak."
__ADS_1
"Tentu, kalian pasti akan mendapatkannya karena telah merawat bayi ini dengan baik."
Setelah mengatakan itu, si Peramal pergi.
Ferry dan Parwati melanjutkan mengunjungi toko-toko pakaian dan membeli banyak pakaian bagus.
Keesokan harinya, Parwati muntah-muntah. Ferry sangat khawatir dan ia tidak pergi bekerja hari ini untuk menemani Parwati.
Pelayan mengatakan bahwa mungkin Nyonya sedang hamil pada Ferry.
Ferry teringat perkataan Peramal bahwa bayi Layi akan membantunya memenuhi keinginannya.
Apa yang diinginkan Ferry adalah bahwa istrinya bisa hamil.
'Mungkinkah apa yang dikatakan Peramal itu benar?' tanya Ferry dalam hati.
"Pelayan, panggilkan tabib Mahlina ke sini untuk memeriksa istriku!"
Setelah 20 menit, seorang pelayan datang dengan tabib wanita bernama Mahlina.
Mahlina adalah tabib serba bisa yang bisa mengobati berbagai macam penyakit seperti kadas, kurap, kutu air, kutu rambut, dan panuan juga macam-macam penyakit lainnya seperti kerasukan jin dan lemah syahwat.
Beliau dipanggil serba bisa karena tabib Mahlina memiliki banyak keahlian seperti memasak, mencuci piring, pedicure, dan make up artist, model catwalk, juga membantu para suami berselingkuh dari istri-istri mereka.
Ferry adalah orang terkaya di kecamatan saat ini. Jadi tabib Mahlina tidak berani bersikap kurang ajar pada Ferry. Saat pelayan memanggilnya untuk datang ke Layi Manor yang merupakan kediaman keluarga Ferry, ia langsung datang bergegas secepatnya.
"Tuan, ada apa Tuan memanggil saya?" tanya tabib Mahlina.
"Aku ingin kamu memeriksa istriku, ia muntah tadi pagi."
"Baik, Tuan. Tabib ini akan memeriksanya dengan cermat."
Mahlina masuk ke kamar Parwati. Parwati sedang tiduran karena badannya lemas.
Mahlina memeriksa denyut nadinya dan menanyakan apakah haidnya sudah datang belum dan kapan terakhir kali dan berbagai pertanyaan lainnya mulai dari yang biasa sampai yang tidak biasa seperti sudah nikah cerai berapa kali atau berapa kali suaminya kuat dalam sekali jalan di kamar?
Parwati mengabaikan pertanyaan yang menurutnya tidak relevan. Hanya menjawab yang berhubungan dengan kondisinya saja.
Setelah pemeriksaan cermat selama 25 menit, akhirnya tabib Mahlina menyimpulkan bahwa Parwati sebenarnya tidak sakit, hanya sedang hamil saja.
"Tuan, selamat, istri Anda sedang hamil."
Ferry dan Parwati sangat senang mendengar kabar baik ini.
Parwati bahkan menangis karena ia akhirnya bisa hamil juga.
__ADS_1
Ferry sangat bersemangat hingga ia melompat ke langit sambil berteriak, "Istriku hamil! Aku akan punya bayi!"
***
Dua bulan kemudian, Ferry dan Parwati akhirnya menyadari keanehan bayi Layi.
Layi tidak pernah menangis. Bahkan saat ia haus, lapar, atau pipis, atau ee, ia sama sekali tidak menangis.
Ferry dan Parwati sangat khawatir dengan bayi Layi.
Ferry kembali memanggil tabib Mahlina ke kediamannya.
Setelah 10 jam memeriksa keadaan bayi Layi, tabib Mahlina menyimpulkan bahwa bayi Layi pasti sempat dilukai saat ia baru lahir. Luka itu membuatnya menjadi bayi yang tidak peka lingkungan dan membuatnya tidak tahu cara mengekspresikan perasaannya.
Singkatnya menurut tabib Mahlina, bahwa bayi Layi ditakdirkan menjadi anak bisu dan idiot seumur hidupnya.
Ferry dan Parwati sangat terpukul!
Meskipun bayi Layi bukan anak kandung mereka sendiri, mereka benar-benar menyayangi bayi Layi dengan setulus hati mereka.
Bahkan jika bayi Layi saat ini divonis menjadi bayi idiot, itu tidak akan menghentikan mereka untuk merawat bayi Layi.
Keduanya bertekad akan memberikan segala yang terbaik di dunia ini untuk pertumbuhan Layi.
Bahkan jika bayi Layi tidak bisa disembuhkan, mereka bertekad untuk merawat bayi Layi seumur hidup mereka.
Bagi keduanya, bayi Layi sangat spesial dan telah menempati hati mereka. Mereka berdua menyayangi bayi Layi dengan tulus.
***
Tiga tahun, saat ini bayi Layi telah menjadi balita Layi berumur tiga tahun.
Layi bisa berjalan normal dan bergerak normal, hanya saja ...
Hanya saja ia tidak bisa bicara dan ekspresi mukanya serasa tanpa ekspresi dan selalu berwajah dingin.
Ia tidak pernah menangis maupun mengeluh. Tapi bagi Parwati dan Ferry, Layi adalah dunia mereka.
Layi benar-benar membawa keberuntungan bagi keduanya. Dalam tiga tahun ini, Parwati telah melahirkan dua kali dan saat ini ia sedang hamil 2 minggu anak ketiga.
Bisnis Ferry berjalan lancar dan pundi-pundi kekayaanya telah bertambah pada tingkat astronomi. Konon katanya, Ferry telah menjadi salah satu orang paling terkaya di negara.
Sesibuk apapun Ferry, ia selalu menyediakan waktu untuk anak dan istrinya. Keluarga ini hidup harmonis, hanya satu hal penyesalan Ferry dan Parwati yaitu kondisi Layi. Mereka berharap dan berdo'a setiap hari agar suatu hari nanti Layi akan sembuh dan mengekspresikan apa yang ingin ia ekspresikan.
Suatu hari, seorang yang mengaku sebagai immortal datang ke manor.
__ADS_1
Ia memaksa ingin bertemu dengan Layi, Parwati, dan Ferry.