
Layi terbangun dari mimpinya di dalam mobil.
"Kamu sudah bangun, Mas?" tanya Ratna.
"Ya." Layi mengangguk.
Layi berpikir bahwa mimpinya barusan cukup unik karena ia bermimpi menjadi bayi dengan nama yang sama. Apa yang membuat mimpinya serasa unik karena ia merasa seolah itu adalah mimpi yang nyata.
****
Sementara itu, beberapa orang dari Klan Wolf datang memperhatikan dan mengawasi vila yang ditempati Layi dan Ratna.
"Jadi ini tempat tinggal wanita yin itu?" tanya salah satu manusia serigala.
"Benar, wanita itu dan suaminya tinggal di sini berdua."
"Menurut tetua di Klan, bayi itu tidak akan lama lagi akan terlahir! Kita harus membunuh bayi itu secepatnya setelah bayi itu lahir!"
"Ya." Kerumunan mengangguk.
Mereka tidak sadar kalau Layi dan Ratna telah pergi dari vila itu sesaat sebelum mereka datang.
"Kakak, kenapa kita tidak membunuh bayi itu selagi ia masih ada dalam kandungan? Kenapa kita harus membunuh bayi itu hanya ketika bayi itu lahir? Bukankah lebih cepat membunuhnya saat ia masih ada di kandungan?"
"Kita Klan Wolf pantang membunuh bayi dalam kandungan. Jika kita melakukan itu, kita akan dikutuk!"
"Dikutuk?!"
"Ya."
__ADS_1
"Dikutuk seperti apa misalnya?"
"Jangan banyak bertanya, aku sendiri tidak tahu, hanya Patriak dan Tetua Utama saja yang mengetahuinya."
"Oh." Serigala muda yang bertanya tidak puas. tapi ia hanya mengangguk dan berkata 'oh.'
"Kakak, kenapa aku tidak mendengar gerakan apapun di rumah itu?"
"Benar, ini terlalu sepi."
"Mungkin mereka sudah tidur?"
"Mungkin saja. Tapi kenapa aku merasa mereka sedang tidak ada di vila ini? Dudul, coba kau chek apa penghuni vila ada di dalam?"
"Baik," jawab manusia serigala yang bernama Dudul.
Ia berjalan perlahan dan mengintip ruang tamu yang lampunya masih menyala.
Tidak ada orang di ruang tamu.
Dudul memanjat tembok vila yang terbuat dari dinding kayu. Sebagai manusia serigala, memanjat adalah hal yang mudah untuknya, karena ada kuku tajam yang keluar dari tangannya yang mempermudahnya memanjat.
Dudul memanjat tembok kayu dan mengintip lewat jendela dan tidak menemukan orang di ruang santai di lantai dua. Ia bergerak ke samping melihat kamar di lantai dua dan tidak menemukan orang di kamar-kamar di lantai dua.
'Kenapa tidak ada orangnya?' pikir Dudul dalam hati.
'Ah, benar, aku belum mengecek kamar tidur di lantai satu.'
Dudul turun ke tanah dan dengan hati-hati bergerak perlahan mengintip melalui jendela kamar untuk melihat orang. Tapi tidak ada yang bisa ia lihat.
__ADS_1
Dudul berbalik dan menghampiri kawanan manusia serigala.
Dudul berkata, "Tidak ada orang di vila."
"Kemana mereka pergi?"
Kawanan manusia serigala saling memandang satu sama lain mencari jawaban.
Seorang manusia serigala berkata, "Mungkin ...."
"Mungkin apa?"
"Mungkin mereka sedang keluar mencari makanan."
"Tapi ini sudah cukup larut malam, sudah jam 11 malam."
"Benar, wanita hamil harus tidur cukup, jadi tidak mungkin keluar mencari makan."
"Tapi karena dia sedang hamil, bisa saja ia ngidam pengen makan di luar??"
"Itu mungkin juga ...."
\*\*\*
Sementara itu, Layi dan rombongan akhirnya tiba di Jakarta. Mereka langsung ke Apartemen Layi karena Ratna sangat lelah dan mengantuk.
"Jangan lupa untuk menemui Nyai Belut Radish secepatnya. Dia punya hal penting yang ingin ia sampaikan padamu," Kata Galuh.
Layi mengangguk, "Ya, aku akan segera ke sana begitu ada waktu."
__ADS_1