
"Karena ngebut di belokan, wajar saja kalo terjadi tabrakan. Itu si pengemudi mobil Maserati bener-bener bego gak ketulungan! Ngebut kok di belokan?!"
"Mobil Maserati Akhirnya bertabrakan dengan mobil Toyota Agya dan akhirnya hancur dah hancur pastinya!"
"Trus, mobil bus pariwisata bertingkat yang ada di belakang mobil Toyota berusaha mengerem dan menghindari menabrak mobil di depan sambil akselerasi ke samping. Tapi ya itu ... malah jatuh ke jurang. Apes bener dah, padahal tuh bus ada banyak orangnya. Bus penuh muat 100 orang lebih, pada mati semuanya! Bener-bener sialan tuh si pengemudi Maserati sialan!"
Si saksi berhenti sejenak sambil mendesah dengan wajah memerah marah seolah ingin memukul penagih pinjaman uang. Napasnya dipercepat seolah ia sangat emosional. Reporter wanita dan kerumunan yang menyaksikan cerita si bapak juga terbawa emosi dan mulai merasa ikut marah.
Tapi suasana hati mereka langsung berubah saat si Pak Vitnah mengatakan kata-kata selanjutnya.
"Ngomong-ngomong, berapa uang jajan saya dari memberikan kesaksian?"
Reporter wanita: "..."
Kerumunan: "..."
"Ayolah, jangan pelit-pelit ngasih duit! Saya sudah berakting dengan baik, saya harus memasang wajah yang emosional! Saya harus menampar wajah saya hingga merah agar terlihat sedang marah, itu sakit! Ada pepatah yang mengatakan seorang aktor yang berdedikasi itu harus dibayar mahal!"
Reporter wanita langsung mengambil mix dari Pak Vitnah dan menatap kamera lalu berkata, "Pemirsa demikian laporan terbaru dari tempat kejadian kecelakaan maut. Iya, Mas Sudrun dan Mbak Bubun di sana silahkan lanjutkan."
Layar beralih ke pembawa berita di studio Indosiar.
"Iya, sangat mengerikan sekali kecelakaan maut ini yang menewaskan 100 orang lebih. Kami dari pihak Indosiar turut berbela sungkawa semoga keluarga korban diberikan kekuatan dan ketabahan."
Pembawa acara di sebelah Sudrun juga turut berkomentar.
"Inilah sebabnya sebaiknya jangan ngebut saat berkendara. Karena keselamatan Anda bukan hanya yang Anda pertaruhkan, tapi juga keselamatan orang lain juga."
"Kami mengakhiri berita kami hari ini. Saya Bubun Embun Malam."
"Saya Sudrun Azzura."
"Kami mohon pamit, Selamat akhir pekan dan salam Indosiar."
Layi langsung mematikan berita. Berita ini adalah titik sakit hatinya. Kakaknya adalah pengemudi mobil Maserati, penyebab kecelakaan maut.
Kakaknya Penyebab dari keluarganya kehilangan harta bendanya yang akhirnya menjadi miskin dan Ayahnya bunuh diri karena tidak sanggup menanggung beban.
"Bang, kamu baik-baik aja? Kok, jadi murung setelah dengerin berita?"
"Gak apa-apa kok, yang."
"Beneran Bang?"
"Sebenarnya pengemudi Maserati yang ada di berita adalah kakakku ...."
__ADS_1
Mayi: "..."
"Keluarga kami jadi bangkrut untuk membayar uang kompensasi pada anggota keluarga korban meninggal. Triliunan rupiah kami hasil jerih payah ayah saya selama sisa hidupnya ludes begitu saja."
"Kehilangan kekayaan kamu adalah satu hal. Tapi ayah bunuh diri setelahnya karena tidak bisa menanggung beban dan cibiran dari orang-orang."
"Aku harus hidup sebatang kara saat usiaku 17 tahun. Aku dibully di sekolah karena kejadian itu, mereka menyebutku keluarganya di pembunuh. Aku pindah sekolah karena tak tahan Bullyan pada akhirnya."
"Sekolah sambil kerja sampe jam 12 malam setiap harinya untuk melanjutkan biaya sekolah dan biaya hidup. Hidupku seperti rollercoaster. Aku benci kakakku yang menjadi penyebab semua ini."
"Hidupmu pasti berat Bang pada waktu itu ...."
"Iya, sangat berat dan sangat frustasi. Tapi aku masih hidup pada akhirnya dan berhasil dalam karirku dan bisa membeli rumah dan mobil impianku pada akhirnya."
"Itu bagus," kata Mayi.
"Lantas, apa kamu datang ke Banyuwangi karena ingin ziarah ke makam ayah dan kakakmu?" tanya Mayi.
"Iya, aku sudah lama gak ziarah ke makam ayah, ibu, dan kakakku yang sudah aku ikhlaskan dan maafkan."
"Itu bagus jika kamu memaafkan, setelah semua jika kakakmu tahu bakal kejadian kecelakaan maut, aku yakin kakakmu tidak akan ngebut, dan tidak ingin hal seperti kecelakaan itu terjadi. Yang lalu biarlah berlalu."
"Kamu benar, itulah sebabnya aku memaafkan kakakku. Berjiwa besar, ikhlas, dan memaafkan adalah apa yang diajarkan Almarhum kakek dan nenekku."
"Tapi meskipun aku sudah ikhlas, arwah para korban belum pada tenang. Mereka menjadi arwah penasaran yang bergentayangan di jalanan tempat kejadian!"
Tok! tok! suara ketukan pintu.
"Masuk!"
Si Resepsionis masuk membawa dua porsi nasi uduk fried chicken plus dua jus.
"Pesanannya, Pak."
"Silahkan taro di meja saja."
Si resepsionis menaruh makanan di meja lalu keluar.
Saat si resepsionis keluar dari kamar setelah mengantarkan makanan, tanpa sepengetahuan Layi, warna matanya berubah menjadi merah dan taring muncul di mulutnya. Kuku jarinya memanjang, dan lidahnya terulur keluar seperti lidah ular.
Rambutnya berubah menjadi putih dan wajahnya menjadi banyak kerutan layaknya nenek berusia 1.000 tahun. Juga, ia tidak berjalan kaki, tapi mengambang 10 Cm dari permukaaan lantai.
Si resepsionis ternyata adalah arwah penasaran!!
Layi dan Mayi makan di kamar. Setelah makan, keduanya bercinta sejenak lalu tertidur. Karena hujan, mereka terpaksa menginap sehari lagi.
__ADS_1
Waktu berlalu, cuaca di luar gelap, sepertinya telah menjadi malam.
Tok! tok! suara ketukan pintu.
Layi terbangun, dan mengeluh karena tidurnya diganggu.
Ia berjalan ke pintu dan membuka pintu. Tapi saat pintu dibuka, tidak ada seorang pun ....
Layi segera menutup pintu. Kesal karena lagi-lagi ada yang ngerjain.
Saat ia akan berjalan kembali ke kasur, suara ketukan kembali terdengar.
Tok! tok! tok!
"Siapa?!" teriak Layi, kesal.
Layi membuka pintu dan hantu dengan tatapan maut dan mata merah adalah apa yang dilihatnya.
Layi panik, saat ia akan berlari si hantu wanita mencekik lehernya.
Layi memberontak memegang tangan yang mencekiknya dengan kedua tangannya berusaha membebaskan diri. Tapi tangan si hantu terlalu kuat sehingga Layi tidak bisa melepaskan diri.
Layi kesulitan bernapas, dan saat ia akan kehilangan kesadaran, hantu wanita melepaskan cekikkannya.
Layi yang telah terlepas, mengingat Mayi dan berlari ke arahnya hendak membangunkannya. Tapi saat ia berlari, lidah si hantu memanjang menuju kaki Layi dan mengikat kedua kaki Layi dengan lidah merahnya.
Layi berteriak dan berusaha membangunkan Mayi.
"Mayi, bangun! bangun!!"
Mayi tidak bangun seolah ia tidak bisa mendengar.
Lidah si hantu bergerak dan melempar Layi ke atap kamar.
Buk!
"Akh!"
Layi berteriak kesakitan karena badannya dibanting ke atap oleh si hantu.
Hantu wanita melepaskan lidahnya yang mengikat kaki Layi.
Layi yang terlepas dari ikatan lidah si hantu, berusaha berdiri.
Saat Layi akan berdiri dan bersiap untuk kabur, Hantu wanita mencekik lehernya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menjambak rambut bagian belakang kepala Layi sehingga kepala Layi miring ke samping.
__ADS_1