Susuk Tato Ular

Susuk Tato Ular
Jalan Cabang Dua


__ADS_3

"Apa Ayah telat bangun hingga belum masak apapun?"


Layi pergi ke kamar ayahnya dan berteriak kaget saat melihat pemandangan yang ada di depannya.


Ayah Layi sedang menggantung di udara dengan tali kawat di lehernya. Ia telah mati karena gantung diri ....


"Enggak! gak mungkin! ini gak mungkin! Ayah bangun! Ayah!"


"Hiks... Sekarang semuanya dah gak ada! Kalian ninggalin Layi sendirian! Kalian tega!"


____________


Namaku adalah Layi Isnan, umurku 27 tahun, 11 tahun yang lalu Kakakku meninggal di tragedi Virus Mabuk dan sebulan kemudian Ayahku mati bunuh diri.


Aku berasal dari keluarga kaya dengan kekayaan triliunan rupiah, tapi karena harus ganti rugi pada keluarga korban yang bernilai triliunan rupiah ... Keluarga kami jatuh miskin karena harus menjual semua properti dan perusahaan keluarga kami untuk melunasi ganti rugi.


Aku hidup sebatang kara dari usiaku 17 tahun. Sekolah sambil kerja serabutan apa saja yang penting menghasilkan uang untuk biaya sekolah dan makan.


Kini sudah 11 tahun berlalu dan aku saat ini sudah bekerja di sebuah perusahaan swasta dan sudah bisa membeli apartemen pribadi plus sebuah mobil mewah.


Ada satu rahasia yang tak pernah aku beritahukan pada siapapun kecuali seorang teman baikku. Rahasia itu adalah aku bisa melihat hantu.


Hantu biasanya seram? itu betul dan betul sekali!


Tapi tidak semua hantu memiliki penampilan yang menyeramkan seperti yang ada di Tv - tv.


Ada juga hantu cantik dengan kaki panjang mulus dan leher putih bersinar. Ada juga hantu yang cantik secantik Youtuber cantik di YouTube. Hanya saja ... mereka jarang dan sangat jarang. Kebanyakan hantu memang jelek dan seram!


Kali ini aku akan menceritakan kisahku yang menikahi gadis cantik dan hantu sekaligus.


Menikahi manusia dan hantu sekaligus berarti aku mempunyai dua istri? Tidak dan juga Iya.


Istriku adalah setengah manusia dan setengah hantu.


Aku akan menceritakan kisah ini kembali pada dua tahun yang lalu, saat aku pertamakali bertemu seorang hantu yang kukira adalah manusia dan gadis biasa pada awalnya. Tapi aku tertipu ... Namun aku senang!


____________


Layi Isnan sedang mengemudi dari Jakarta ke Banyuwangi menggunakan mobil Ferrari 456 yang ia beli tahun lalu. Meskipun yang ia beli adalah mobil second, tapi ia puas berhasil membeli mobil impiannya.


"Akh ...!" Layi bergidik merinding. Sebab ketika ia melewati jalan di tikungan tajam tempat kecelakaan 10 tahun lalu yang dikenal sebagai tragedi Virus Mabuk terjadi, ia melihat sekumpulan hantu yang melayang-layang di jalanan layaknya sedang bermain.


Tragedi Virus Mabuk, itu adalah tragedi dimana kakaknya Slipi meninggal karena kecelakaan mobil yang disebabkan oleh kakaknya sendiri.


Tragedi yang menyebabkan ia selama hampir 10 tahun ini hidup dengan kesulitan yang sangat.


Keluarganya menjadi bangkrut, tabungan, perusahaan dan properti ludes habis dijual untuk mengganti kompensasi pada keluarga korban kecelakaan.

__ADS_1


Ayahnya tak sanggup hidupnya menjadi miskin sehingga mati bunuh diri meninggalkannya seorang diri berjuang untuk kelangsungan hidupnya sendiri.


"Kakak ... aku ingin tahu jika kamu tahu apa yang terjadi padaku dan ayah akibat ulahmu ... apakah kamu menyesali perbuatannya di alam sana? Tapi yang lalu biarlah berlalu, aku sudah memaafkanmu kakak ...."


Layi kembali ke Banyuwangi karena ia ingin berziarah ke makam ayah dan kakaknya.


Jalanan tiba-tiba menjadi gelap karena awan mendung. Hujan turun dan jalanan mulai licin.


Layi menurunkan kecepatan mengemudinya, ia tidak mau terjadi sesuatu selama ia berkendara. Lebih baik mengemudi pelan tapi aman daripada mengemudi cepat tapi celaka.


Layi melihat seorang gadis berteduh di bawah pohon nangka di pinggir jalan. Tidak ada kendaraan mobil maupun motor di pinggir jalan, itu artinya gadis itu berjalan kaki di jalanan sebelum akhirnya berteduh.


Layi menghentikan mobilnya, lalu ia membuka kaca jendela mobil.


"Hei, sendirian aja?" tanya Layi


"Iya," jawab gadis itu.


"Mau dianter pulang?"


"Iya? bolehkah ...?"


"Ya, ayo masuk."


Layi membuka pintu dan gadis itu masuk kedalam mobil duduk di kursi depan di samping Layi yang mengemudi.


"Kok, sendirian aja? Pacarnya gak nganterin?"


"Enggak Bang, saya gak punya pacar, jomblowati istilahnya."


"Oh, masa sih? Pantesan sendirian aja di pinggir jalan di bawah pohon nangka, kayak Kunti aja ... haha."


"Ah, si Abang ada-ada aja becandaannya ...."


"Rumahnya di mana Neng?"


"Di Jakarta Bang."


"Eh, di Jakarta? Kok bisa ada di Banyuwangi? Sendirian pula?!"


"Iya Bang, ceritanya begini, Saya ma temen-temen saya sedang liburan bersama naik bus pariwisata. Lalu busnya berhenti karena istirahat 15 menit kata si sopir.


Aku gak betah donk terus-terusan di bis, jadi saya keluar menghirup udara bebas dan tiba-tiba ada kelinci putih yang bersih dan ngegemesin."


"Terus?"


"Terus saya kejer kelincinya pengen saya jadiin hewan peliharaan. Tapi kelincinya lari terlalu cepat jadinya saya nyerah. Pas saya balik, bisnya dah berangkat ninggalin gw yang sendirian tanpa teman dan HP karena HP dan tas gw ada di mobil ...."

__ADS_1


Layi ingin tertawa begitu mendengar cerita sial gadis itu, tapi ia menahan sekuat tenaga, dan saat gadis itu menatapnya yang sedang menahan tawa, Layi akhirnya ia pura-pura batuk sambil berdehem.


"Ehem, malang banget nasibmu Nak, apa kamu ingin menjadikanku Ayah Emasmu?"


"Apa itu Ayah Emas?"


"Ayah Emas itu Sugar Daddy haha."


"Ah, si Abang gak lucu candaannya!"


"Oh, iya, mamamu siapa? Trus saya nganterin kamu ke mana kalo rumahmu gak ada di Banyuwangi?"


"Mamamu? Namamu kali Bang ...!"


"Ya, maksudnya namamu."


"Nama saya Mayi Bang."


"Mayi? Namamu aneh sekali ... kok, gak sekalian mayit haha."


"Ah, Abang ngeledek aku, Abang sendiri siapa namanya?"


"Guwa? guwa (guwa artinya gw atau saya) Layi."


"Nah, kan, si Abang sendiri namanya aneh! Layi sekalian aja jadi Layu wkwkwk."


"Eh, ke mana saya harus nganterin kamu kalo rumahmu ada di Jakarta sementara kita di Banyuwangi?!"


"Abang, boleh gak saya nginep di rumah Abang?" tanya gadis itu dengan mata berkaca-kaca, seolah akan menangis. Ia berusaha agar terlihat senyedihkan mungkin.


"Rumah guwa? Rumah saya di Banyuwangi dah dijual Non."


"Yah, terus Abang kita tidur di mana donk?"


"Tidur? di hotel? gimana?" tanya Layi dengan alis terangkat dan tersenyum seolah sedang bermain-main.


"Terserah Abang aja deh ...."


"Abang, ada jalan cabang dua di depan, sepertinya yang benar jalan ke kanan deh Bang."


"Oh, iya, kok bisa ada jalan cabang dua? perasaan dulu cuman satu. Yah, mungkin karena dah lama gak tinggal di Banyuwangi, jadi wajar aja kalo jalanan di Banyuwangi sudah agak berubah."


Mobil melaju dan memilih jalan cabang ke kiri.


"Abang, kok, ngambil ke kiri sih?"


"Kalo ke kanan dah tahu jalannya, jadi ambil ke kiri sekalian pengen tahu juga. Lagian jalanan Banyuwangi saya hapal semua. Jadi kalo nyasar juga gampang nyari jalan terusannya."

__ADS_1


__ADS_2