
"What the hell ada apa Bang yang terjadi sekarang ini?! Padahal ngitungin waktu kita bercinta aja dah ngabisin berjam-jam! Tapi ini waktunya gak berubah!"
"Kita harus chek out dari hotel ini besok pagi."
"Baik," kata Mayi sambil mengangguk.
Dua jam kemudian.
"Yi, Abang gak bisa tidur nih ...."
"Sama Bang, Mayi juga gak bisa tidur mikirin keanehan jam di kamar ini, takut ada hantunya."
Mayi bangun dari tidur dan duduk di ranjang. Saat ia bangun, Layi secara tidak sengaja melihat tato ular. Seketika, Layi serasa kesurupan, hasratnya kembali bangkit.
Mayi menggigit bibirnya karena tiba-tiba tangan Layi mencubit lembut bagian ujung s.u.s.u kirinya.
"Hujan sudah reda Bang, jangan kau buat deras lagi dengan kenakalanmu," kata Mayi dengan suara parau seraya tangannya mengelus pipi Layi.
"Tadi hujannya deras sekali, ya?"
"Iya, tapi lebih deras lagi karena kemesraanmu."
"Oh, ya? beneran?"
Mayi mengangguk dengan bangga. Hal selanjutnya yang terjadi adalah main cinta-cintaan beneran antara keduanya. Saling menggigit dan mengusap dan gerakan variasi layaknya atlet gulat dengan banyak gerakan di ring gulat.
Keesokan harinya, keduanya bangun dan bersiap-siap untuk chek out.
Keduanya berjalan ke luar kamar dan tidak melihat siapapun bahkan resepsionis wanita yang biasanya ada di depan kini menghilang entah ke mana.
"Ke mana yah kira-kira resepsionis itu pergi? kita jadi gak bisa chek out kalo kayak gini."
"Kita tunggu aja bentar Bang, mungkin dia lagi di kamar mandi."
Keduanya akhirnya menunggu dengan duduk di bangku.
Satu menit, dua menit, tiga menit, sepuluh menit. Si resepsionis tidak muncul.
11 menit, 15 menit, 20 menit, masih belum muncul juga.
"Kok, lama sekali datangnya? Emang gak ada yang gantiin apa si resepsionisnya? Masa iya hotel kayak gak ada yang jagain gara-gara gak ada pegawai lain? Ini hotel melati gak ada kokinya, gak ada satpamnya, gak ada cleaning service-nya, gak ada OB dan gak ada siapapun selain si resepsionis. Ini hotel aneh."
"Mungkin hotelnya hotel hantu Bang, jadi gak perlu ada banyak yang jagain, cukup seorang saja."
__ADS_1
"Kalo ini hotel hantu, kok, kita masih hidup aja sampe sekarang?"
"Mungkin karena mereka takut sama aku, aku kan cantik, hantu takut sama wanita cantik." Kata Mayi sambil berkedip mata pada Layi.
Layi mencubit hidung Mayi, "Kamu ini, justru hantu doyannya ma yang cantik-cantik."
"Bang, kalo ini misalnya hotel berhantu, dan kita tersesat di sini selamanya, dan tak bisa keluar dari sini kecuali mati, apa saat Abang jadi hantu nanti Abang akan tetap bersamaku?"
"Jangan bicara seperti itu! kita akan tetap hidup dan keluar dari hotel ini!"
"Tapi Bang, aku telah jatuh cinta padamu, aku ingin jaminan darimu."
"Jaminan apa sih? kok, pake jaminan-jaminan segala?"
"Jaminan kalo Abang akan selamanya selalu mencintaiku dan akan selalu berada di sisiku."
Layi: "..."
"Kau tahu Bang, aku tidak bisa hidup tanpamu lagi, aku tipe yang egois yang selalu ingin disayang dan dicintai oleh pria yang aku cintai."
"Aku juga cinta kamu Mayi."
"Bang, kalo kita celaka di sini, aku tidak ingin kau tinggalkan Bang. Aku ingin selalu bersamamu baik hidup atau mati! Maukah kau membawaku bersamamu ke mana pun kau pergi?!"
"Bang, benarkah itu?! Benar itu Layi ...?!"
"Lebih dari benar Mayi ...! Kau akan tahu kesungguhanku saat kita keluar dari sini dan kembali ke Jakarta. Di sana aku akan secepatnya menyiapkan lamaran untukmu."
Sementara mereka berucap janji-janji cinta, cuaca di luar tiba-tiba menjadi gelap dan mendung, seolah akan turun hujan.
"Lho, kok, tiba-tiba jadi gelap cuaca di luar Yi?"
"Entahlah Bang, perubahannya terlalu mendadak dan terlalu cepat, hampir seperti sihir."
Layi berjalan ke dekat jendela dan melihat keluar. Langit mendung dan gelap, dan ada kabut yang tiba-tiba muncul di halaman hotel yang menghalangi pandangan.
"Lho, kok, tiba-tiba muncul kabut? Kabutnya tebal sekali sampe guwa gak bisa liat apapun yang ada di luar?!"
Gelegar! petir!
"Akh, petir! Ngagetin aja tiba-tiba muncul kayak hantu!" teriak Layi!
"Bang, aku agak takut ma petir! Bisa gak kamu ke sini?"
__ADS_1
Layi menghampiri Mayi dan memeluknya.
"Sebaiknya kita kembali ke kamar, cuaca buruk seperti ini kita gak bisa ngapa-ngapain meski kita keluar sekarang pun. Jadi lebih baik kita istirahat lagi di kamar, semalam hanya tidur sebentar gara-gara kelamaan maen penganten-pengantenan."
"Gombal, tapi alasannya masuk akal juga."
Layi membawa Mayi ke kamar. Tepat saat mereka akan melangkah si resepsionis muncul menyapa.
"Halo, Pak, apa ada yang bisa saya bantu? Mau pesan makanan?"
"Ya, pesan dua nasi uduk pake fried chicken, minumnya jus timun suri sama jus terong belanda. Kirimin ke kamar, ya."
"Baik, Tuan."
Layi lalu langsung membawa Mayi ke kamarnya.
"Hujan gini enaknya ngapain yah ...? Oh, iya, ada Tv di kamar, 10 hari nginep di sini lum sempet guwa nyalain tuh Tv."
Layi menyalakan Tv dan menonton berita di Indosiar.
"Halo pemirsa, kami menerima berita kecelakaan maut yang telah menewaskan lebih dari 100 orang. Reporter kami Bubun Noer Amy ada di tempat kejadian, mari kita dengarkan laporan dari tempat kejadian."
Layar beralih ke tempat perkara, seorang reporter wanita dengan rambut pendek dan terlihat tomboi muncul di layar.
"Iya, terimakasih Mas Sudrun di studio Indosiar di sana."
"Pemirsa, kami saat ini ada di lokasi kecelakaan maut yang menewaskan 100 orang lebih. Saat ini kami akan mewawancarai salah satu saksi mata yang ada di tempat kejadian."
Reporter wanita melirik ke samping, dan mewawancarai seorang pria tua berumur 40 tahun.
"Pak, boleh tahu siapa namanya Pak? Bagaimana kecelakaan maut ini berawal?"
Reporter wanita menyerahkan mix pada pria itu.
"Nama saya Vitnah, pake V bukan F ya ...."
"Iya, Pak Vitnah, boleh diceritakan kronologi kecelakaan maut ini terjadi?"
"Apa saya bakal dapat uang?"
Reporter wanita mendecakkan lidah dan tak bisa berkata-kata dengan pertanyaan saksi kejadian, tapi ia masih menganggukkan kepalanya.
Pak Vitnah lalu mengarang kronologi kejadian.
__ADS_1
"Sebuah mobil Maserati muncul dari belokan dengan ngebut tanpa menyalakan lampu sen dan tanpa menekan tombol apa itu namanya yah ... ya, sebut saja tombol tidid-tidid."