Susuk Tato Ular

Susuk Tato Ular
32. Keluarga Ferry vs Keluarga Nanang


__ADS_3

Parwati langsung masuk ke kamar.


Di kamar ia melihat bayi Layi terbaring di lantai.


Sementara itu, Jaja yang berumur tiga tahun hanya menggaruk kepala bagian belakangnya sambil tersenyum pada bibinya.


Parwati Shock! Ia langsung bergegas mengambil Layi dari lantai dan memeriksa tubuhnya. Untunglah tidak ada luka di tubuhnya. Ini mungkin karena bayinya di bedong dan jarak jatuhnya tidak tinggi, juga untungnya ada sprei tebal di lantai yang menjadikan bayinya tidak terluka.


Parwati menatap Jaja yang tersenyum bodoh.


'Dia pasti melakukannya dengan sengaja atas perintah ibunya! Bagaimanapun ibunya berhati hitam dan jahat yang selalu mengincar harta kami!' pikir Parwati dalam hati.


Ia menampar Jaja karena kesal!


Plak!! Suara tamparan!


Tamparan itu sebenarnya tidak terlalu keras, bagaimanapun Parwati berhasil mengurangi tenaganya saat menampar Jaja. Tapi Jaja sudah terlanjur tertampar.


Jaja menangis keras!


Tangisan keras Jaja membuat ibunya Maria langsung masuk ke kamar dan langsung memeluk anaknya.


Maria memelototi Parwati.


"Apa yang kamu lakukan pada putraku?!" tanya Maria dengan nada marah.


"Kamu yang memintanya, pasti kamu, kan, yang menyuruh Jaja untuk melukai bayiku?"


"Omong kosong!"


Maria maju menyingsingkan lengan kanannya dan hendak menampar Parwati. Tapi Parwati sudah siap dan menangkap pergelangan tangannya.


Plak!! suara tamparan!


Parwati menampar Maria sementara tangisan Jaja menjadi lebih keras!


Maria tidak mau kalah, ia balas menampar Parwati!

__ADS_1


Plak! tampar!


Keduanya saling bergiliran menampar hingga 13 kali putaran tamparan berturut-turut.


Suara gaduh pertengkaran keduanya terdengar oleh suami mereka.


Ferry dan Nanang bergegas masuk dan melerai mencoba memisahkan keduanya dari saling menampar lagi.


"Kenapa kamu bertengkar? Kita masih keluarga, tidak baik bertengkar sesama anggota keluarga."


"Jaja melukai bayi kita! Dia menjatuhkan bayi kita ke lantai! Itu pasti dia yang menyuruh anaknya!"


Sementara itu, Maria juga mengadu pada suaminya.


"Dia menampar Jaja! tentu saja aku harus menamparnya!"


Kedua pasangan suami istri akhirnya saling adu mulut dan adu argumen.


Kedua pasangan ini saling memelototi dan saling mengutuk dan menyalahkan.


Buk!!


Bugh!


Plak!


Duar!!


Tendang!


Tinju!


Menampar!


Menyikut!


Memukul!

__ADS_1


Kini giliran istri mereka yang khawatir dan berusaha melerai dan memisahkan keduanya.


Muka memar dan tampak warna kulit yang menjadi ungu akibat adu jotos juga darah yang keluar dari hidung dan bibir keduanya.


Keduanya saat ini memiliki wajah yang jelek.


Sementara Parwati dan Maria memiliki wajah mereka membengkak karena adu tamparan.


***


Beberapa hari kemudian, ada gosip di Desa Babi Mati bahwa Ferry dan Nanang saling bertarung. Gosip yang beredar serasa simpang siur. Ada yang mengatakan keduanya bertengkar karena adiknya menginginkan harta kakaknya, ada juga yang mengatakan bahwa Nanang bercumbu dengan Parwati dan dipergoki Ferry sehingga keduanya saling adu jotos.


Ada juga yang mengatakan bahwa itu bukan Nanang dan Parwati, tapi sebenarnya Ferry dan Maria yang berselingkuh dan tertangkap oleh Nanang.


Gosip lainnya mengatakan bahwa alasan mereka bertengkar karena Nanang mengajak Ferry untuk saling berbagi kehangatan istri di ranjang yang langsung ditolak Ferry dan akhirnya terjadi keributan.


Ada juga yang mengatakan mereka bertengkar karena Maria kedapatan mencuri kalung di rumah Ferry.


Apapun gosipnya, tidak ada yang benar! Yang pasti, penduduk Desa Babi Mati memang orang-orang yang suka bergosip!


Ferry dan Parwati mulai merasa tidak nyaman tinggal di Desa Babi Mati dan keduanya akhirnya memutuskan pindah ke desa yang lebih besar dengan suasana yang nyaman di kecamatan.


Ferry dan Parwati menjual rumah dan tanah luas yang mereka miliki di Desa Babi Mati lalu membawa mereka ke kecamatan Embun Pagi.


Kecamatan Embun pagi adalah sebuah desa sekaligus kecamatan. Penduduk di sini umumnya hidup dari bertani dan perdagangan.


Alasan Ferry pindah ke sini karena ia ingin memiliki toko di sini dan ia ingin memulai usaha baru berupa penjualan retail yang menjual kebutuhan sehari-hari warga di sini.


Ferry juga membeli kebun salak dan mempekerjakan warga setempat untuk merawat kebun salaknya.


Kecamatan Embun Pagi memiliki populasi 20.000 ribu dan memiliki pasar yang memenuhi kebutuhan harian warganya dan warga dari desa-desa tetangga. Jauh lebih maju dalam hal ekonomi dibanding dengan Desa Babi Mati yang penduduknya hanya berkisar 5.000 dan tidak ada pasar tradisional di Desa Babi Mati.


Ferry membeli rumah besar, dan mempekerjakan beberapa pelayan untuk membantu istrinya di rumah.


Karena pertengkaran antara keluarga Ferry dan Nanang, kini keluarga tersebut menjadi asing satu sama lain dan tidak berhubungan lagi. Ferry tidak mempermasalahkan karena ia pikir adiknya adalah orang yang serakah dan selalu memiliki niat buruk pada keluarganya.


Tanpa gosip-gosip aneh dari warga Desa Babi Mati dan gangguan keluarga adiknya, hidup Ferry dan Parwati mulai tenang dan damai.

__ADS_1


__ADS_2