Susuk Tato Ular

Susuk Tato Ular
Tiga Opsi Pembayaran


__ADS_3

"Tidak masalah, karena aku cinta kamu apa adanya. Lagian dunia ini dah penuh sesak ma orang-orang. Tar kalau nambah anak lagi di masa depan manusia bakalan kekurangan makanan!"


"Aku seneng dengernya Bang ...."


Layi mengelus rambut kepala Mayi dengan keras.


"Akh! Abang ngelusnya terlalu keras! Sakit tahu Bang!"


"Iya, iya, maaf dech Yang ...."


"Yuk, tidur, besok kita chek out."


"Tapi sebelum tidur ... kita maen beberapa ronde yuk?" kata Layi sambil berkedip mata sebelah.


"Jangan Bang, besok kita harus chek out, tar kebablasan lagi!"


"Iya, dech, kita nahan diri dulu malam ini."


Saat tertidur, Layi tiba-tiba bermimpi. Mimpi buruk!


Ia bermimpi bahwa keesokan harinya saat chek out, si resepsionis meminta bayaran hal lain dan menolak bayaran berupa uang.


"Lho, kok gak bisa bayar pake kartu ATM?"


"Iya, Pak, soalnya gak ada mesin EDC-nya di sini."


"Ya, udah, kalo gituh saya bayar pake uang cash! berapa totalnya?"


"Maaf Pak, kami juga tidak menerima pembayaran berupa uang cash."


"Lho, kok, gak bisa bayar pake uang??! Emangnya ini hotel apaan??! Trus saya bayarnya pake apaan?? Pake keperjakaan saya??!!"


"Hotel di sini memang tidak menerima pembayaran berupa uang Pak, soal hotel apa ini? Ini adalah hotel kelas melati yang hanya menyediakan layanan pada hantu dan orang yang masuk. Juga untuk pembayaran kami tidak menerima pembayaran dengan keperjakaan, apalagi si Bapak dah gak perjaka, mana saya mau haha."


"Apa tadi?! Hotel hanya menyediakan layanan pada hantu dan orang yang masuk? Emangnya ada pelanggan hantunya di sini."


"Ada Pak, bukannya tiap hari Bapak juga di temenin hantu di sini."


Resepsionis wanita tersenyum, sementara Layi jadi merinding.


'Ukh! Apa maksudnya ditemenin hantu tiap hari?' pikir Layi dalam hati.


"Jadi, untuk membayar biaya nginep di hotel ini saya harus bayar pake apa?"


"Ada tiga opsi pembayaran Pak. Pertama, si Bapak tidak perlu chek out dan terus menginap di hotel ini selamanya sampe tua dan mati. Kedua, si Bapak bisa bayar pake nyawa keluarga bapak, sayangnya si Bapak anak yatim piatu dan belum berumah tangga, jadi si Bapak gak bisa bayar pake nyawa orang keluarganya."


"Dan opsi ketiga, si Bapak bisa bayar dengan nyawamu sendiri. Si Bapak saya bunuh dan jadi hantu penunggu di hotel ini sama kayak saya dan yang lainnya ...!"


"-A -apa yang kamu bicarakan?"

__ADS_1


"Saya sudah berbicara dengan jelas, hotel ini adalah hotel berhantu dan hanya menerima pembayaran dengan nyawa customernya."


Layi memiliki firasat buruk, dia mundur 3 langkah.


Dan benar saja si resepsionis tiba-tiba tertawa cekikikan.


"Hi hi hi"


Suara tawa si resepsionis yang mengerikan dengan suara yang tidak enak didengar kayaknya suara Kunti!


Warna matanya berubah menjadi merah dan taring muncul di mulutnya. Kuku jarinya memanjang, dan lidahnya terulur keluar seperti lidah ular.


Rambutnya berubah menjadi putih dan wajahnya menjadi banyak kerutan layaknya nenek berusia 1.000 tahun. Juga, ia tidak berjalan kaki, tapi mengambang di udara.


Si resepsionis ternyata adalah arwah penasaran!!


"--K --kamu --kamu sebenarnya hantu!"


"Benar. Hi hi hi! Ayo kalian para penghuni hotel silahkan keluar!"


Satu persatu berbagai arwah penasaran tiba-tiba muncul di ruangan dan mengepung Layi.


Layi ketakutan dan tak tahu harus lari kemana. Dia dikelilingi sosok-sosok mengerikan seperti pocong dengan wajah hijau, kuntilanak, hantu kepala buntung dengan kepala di tangannya, sundel bolong, tuyul, dan hantu-hantu lainnya.


Tangan-tangan hantu memegang baju dan berusaha meraih setiap bagian daging dari Layi seolah dia adalah makanan!


Setelah usaha keras sekuat tenaga, Layi berhasil membebaskan diri dari pengepungan dengan luka di sekujur tubuhnya. Kebanyakan adalah luka akibat cakaran kuku tajam dari hantu, dan sebagian karena gigitan pada dagingnya yang menyebabkan sekujur tubuh Layi dipenuhi darah.


Layi lari lewat tangga naik ke kamarnya, tapi bajunya di terkam oleh salah satu hantu!


Layi mendorong tubuhnya dengan sekuat tenaga dan berhasil lepas meskipun pakaiannya harus tertinggal di tangan si hantu karena robek!


Layi lari di tangga dan para hantu mengikutinya.


Layi menggenggam gagang pintu tapi pintu tak mau terbuka!


"Sialan! Kenapa tak mau terbuka?!!"


Pada akhirnya para hantu menyusul dan menangkap Layi. Layi tak bisa lolos dari Kematian pada akhirnya.


"Huft! huh ...! huh ...!"


Layi terbangun dari mimpinya, napasnya berat dan sekujur tubuhnya penuh dengan keringat.


Merasakan Layi yang terbangun, Mayi membuka matanya.


"Bang, kamu mimpi buruk?!"


Layi menatap Mayi yang duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Iya! Mimpi buruk dikepung arwah-arwah penunggu hotel ini!"


"... untungnya cuman mimpi."


"Ada sesuatu yang salah tentang hotel ini! Kita sebaiknya chek out sekarang juga!"


"Tapi sekarang masih malam Bang, apa gak apa-apa? Malam-malam begini di luar mungkin ada begal Bang, kalau kita kenapa-kenapa nantinya gimana Bang?"


"Kalau begitu kita chek out nanti pas jam 5 pagi saja, gak usah nunggu matahari terbit segala!"


"Iya, Bang, terserah kamu saja."


"Ini hotel apaan sih? Jam gak ada yang bener, karyawan cuman satu. Sinyal HP gak pernah muncul! Masa iya bangun hotel di tempat yang gak ada sinyalnya?? Nama hotel ini apa sih?!"


"Nama hotel ini hotel Tiren Bang."


"Tiren? Singkatan dari mati kemaren??!"


"Mungkin ...."


"Benar saja! Gak ada yang bagus soal hotel ini! Ini dipastikan hotel berhantu!!"


"Kita harus pergi sekarang juga!"


Layi mengganti piyama hotel dengan baju yang ia kenakan, begitu juga Mayi.


Keduanya segera keluar dari kamar menuruni tangga dengan hati-hati agar tidak ketahuan si resepsionis saat melangkah keluar.


Begitu turun di lantai bawah, mereka berdua tidak melihat si resepsionis yang biasanya berjaga dan duduk di kursi chek in.


"Untung wanita itu gak ada! Kita bisa langsung pergi!"


Saat mereka menyentuh pintu keluar, tiba-tiba suara menegur terdengar dari belakang.


"Mau kemana kamu?! Kamu harus bayar dulu sebelum pergi!"


Layi dan Mayi berhenti melangkah, mereka berdua berbalik dan melihat si resepsionis dengan wajah marah sambil tangannya terlipat di dadanya.


"Kami tidak bermaksud pergi tanpa membayar. Berapa biaya menginap di hotel ini?!"


"Kamu bisa membayarnya dengan nyawamu!"


"Hi hi hi."


Suara tawa si resepsionis yang mengerikan dengan suara yang tidak enak didengar karena mirip suara Kunti!


Warna matanya berubah menjadi merah dan taring muncul di mulutnya. Kuku jarinya memanjang, dan lidahnya terulur keluar seperti lidah ular.


Rambutnya berubah menjadi putih dan wajahnya menjadi banyak kerutan layaknya nenek berusia 1.000 tahun. Juga, ia tidak berjalan kaki, tapi mengambang di udara.

__ADS_1


__ADS_2