Susuk Tato Ular

Susuk Tato Ular
Layi Sembuh


__ADS_3

Parwati, "Kamu mencarinya selama tiga tahun?! Umur anakku baru tiga tahun, kamu sudah mencarinya saat ia baru dilahirkan??"


"Ya," jawab Immortal Chen Fan.


"Apa maksudmu kamu memiliki ikatan karma dengan anakku?" tanya Ferry.


Untuk sesaat hening sebelum Chen Fan menjawab, "Surga telah menuntunku untuk menemukannya dan surga memilihku untuk menjadi gurunya. Ini adalah rahasia langit, aku hanya mengikuti kehendak langit."


Layi yang berumur tiga tahun terus menatap Immortal Chen Fan, ia terpana dengan ketampanan Chen Fan yang seolah mengeluarkan aura yang mulia.


Untuk pertama kalinya, di wajah Layi terdapat ekspresi ketertarikan.


Ferry dan Parwati menyadari perubahan ekspresi di wajah anaknya. Mereka bergembira karena setelah tiga tahun, ini pertama kalinya mereka melihat putra mereka tidak berwajah es atau wajah tanpa ekspresi.


Layi mengulurkan kedua tangannya ke atas, ia berjalan dan ingin digendong oleh Immortal Chen Fan.


Chen Fan menggendongnya.


Ini mengejutkan Ferry dan Parwati. Ini pertama kalinya mereka melihat putra mereka menunjukkan keinginan untuk digendong oleh orang lain. Anaknya bahkan tidak pernah menunjukkan keinginan untuk digendong oleh Orangtuanya maupun baby sitter sebelumnya!


"Anak baik. Mulai sekarang kamu akan ikut denganku ke Gunung Emei."


Chen Fan meletakkan dahinya pada dahi Layi. Kedua dahi mereka saling bersentuhan.


Tiba-tiba tubuh Layi mengeluarkan cahaya.


Cahaya ini berlangsung selama 20 menit.


Ferry dan Parwati akhirnya percaya melihat keajaiban yang dilakukan Immortal Chen Fan pada Layi.


"Siapa namamu murid kecilku?"


"Na- namaku La- Layi."


Untuk pertama kalinya Layi berbicara setelah tiga tahun!


Ini mengejutkan Ferry dan Parwati.


Ferry berkata dengan gemetar, "Layi kamu berbicara??"


Layi menatap Ayahnya dan mengangguk.


"Layi, panggil aku Ibu," Parwati menyela.


Layi memandang Parwati lalu berkata dengan pelan.


"...ibu."


"Layi anakku memanggilku Ibunya! Sayang, kau dengar itu??! Ia memanggilku Ibu!!"


Ferry juga ingin dipanggil Ayah oleh putranya untuk pertama kalinya.


"Panggil aku Ayah Layi. Kemari, Ayah ingin memelukmu."


Layi menatap Immortal Chen Fan seolah minta persetujuannya.


Immortal Chen Fan mengangguk.


Immortal Chen Fan menurunkan Layi dari gendongannya dan Layi berjalan ke arah Ayahnya.


Ferry langsung memeluk Layi.


Layi berkata dengan pelan, "Ayah ...."

__ADS_1


Ferry tertegun sejenak! Ini adalah kata yang ia nantikan selama tiga tahun ini!!


Ferry dan Parwati menangis karena putra kesayangan mereka akhirnya sembuh.


Parwati bersujud di tanah, dan suaminya mengikutinya ikut bersujud di hadapan Immortal Chen Fan.


"Trimakasih Immortal! Terimakasih telah menyembuhkan Layi kami!!" Kata Ferry dan Parwati secara bersamaan.


"Kalian, angkat kepala kalian. Tidak seharusnya kalian bersujud padaku. Aku bukan Dewa, aku hanya manusia sama seperti kalian."


Ferry dan Parwati mengangkat kepalanya.


Kening Parwati baik-baik saja, tapi kening Ferry berdarah ....


Ferry ternyata menghentakkan dahinya ke tanah dengan penuh semangat! Tak disangka saat dahinya menyentuh tanah, ternyata ada pecahan beling yang membuat keningnya berdarah ....


"Kamu berdarah," kata Immortal Chen Fan.


Parwati melirik ke samping, dan benar saja! Suaminya berdarah dan darah menetes dari keningnya membasahi wajah dan sebagian dari pakaiannya.


Parwati panik!!


"Sayang, kamu berdarah!"


Parwati berbalik ke belakang, "Apa yang kalian lihat?! Cepat bawa suamiku ke dalam untuk diobati!"


Dua orang pelayan membantu Fery berdiri dan membawa Ferry masuk ke dalam manor.


"Immortal, apa kamu akan membawa putraku pergi?"


"Ya. Ia harus mengikutiku ke gunung Emei untuk mempelajari kultuvasi."


"Tapi kami belum rela berpisah dengan putra kami. Kami baru saja melihatnya sembuh dan memanggil kami Orangtuanya. Hiks ...."


"... baiklah, aku akan membiarkan kalian bersama muridku untuk tiga hari ke depan."


"Terimakasih Immortal. Terimakasih."


Chen Fan mendekati Layi dan mengusap kepalanya.


"Aku akan menjemputmu dalam tiga hari."


Layi mengangguk.


Setelah itu Immortal Chen Fan berjalan ke luar. Ia pergi keluar entah ke mana.


***


Selama tiga hari ini, kedua orang tua Layi selalu menemani Layi. Mereka ingin menghabiskan waktu selama tiga hari ini untuk menemani Layi dan memanjakannya.


"Layi, apa kamu ingin mainan seperti yang dimiliki adikmu?" tanya Parwati.


Layi menggeleng.


Kali ini giliran Ferry yang berbicara.


"Layi putraku, apa kamu ingin makan permen? Ayah akan membeli banyak permen untukmu. Tapi kamu tidak bisa memakan permen kopi. Mengerti?"


"Aku ... tidak mau permen."


"Layi, apa yang ingin kamu makan? Ibu akan menbuatkanmu ayam goreng dan terong goreng?"


"Aku mau ayam goreng."

__ADS_1


Parwati segera mencium pipi Layi yang masih kemerahan seperti bayi.


Cup! Cium kecupan di pipi!


Parwati mencubit perut bagian sisi Ferry membuat Ferry terkaget sedikit.


"Lihat itu, anak kita kini bisa mengekspresikan apa yang ia inginkan! Aku akan pergi memasak ayam goreng, kamu sebaiknya merawat bayi kita dengan baik!"


Setelah mengatakan itu, Parwati pergi ke dapur dan mulai memasak.


Sementara Parwati pergi, Ferry memanfaatkan itu untuk menjadi lebih dekat dengan Layi.


Semenjak Layi sembuh, ia dan istrinya telah bersaing untuk menjadi lebih dekat Layi.


Setelah semua, Layi akan diambil dan dibawa pergi oleh Immortal Chen Fan ke gunung Emei.


Baik Ferry maupun Parwati ingin memanfaatkan waktu tiga hari ini untuk menjadi lebih dekat dengan anak mereka, Layi.


Oleh karena itu, mereka berdua berebut perhatian dari Layi.


"Layi putraku, apa boleh Ayah menggendongmu?"


Layi menatap kosong pada Ayahnya.


"Layi, Ayah belum olahraga beban hari ini, jadi biarkan Ayahmu menggendongmu. Itu bisa dihitung sedang melakukan olahraga angkat beban."


Layi, "..."


"Layi, jika Ayahmu tidak berolahraga angkat beban, ototnya akan melemas dan Ibumu kelak tidak akan menyukaiku lagi. Jadi biarkan Ayahmu menggendongmu okey?"


Layi mengerutkan kening, ia dengan enggan mengangguk.


"Baiklah ... Tapi sebentar saja."


Ferry langsung memeluk Layi dan menggendongnya di depan dadanya. Memposisikan Layi duduk di lengannya sedangkan tubuh Layi menghadap ke depan.


Ferry membawa Layi berkeliling taman di manor besar yang mereka tinggali.


Ferry mengajaknya melihat ikan di kolam, memetik bunga, dan menangkap kupu-kupu.


Ketika mereka sedang menikmati momen kebersamaan ayah dan anak, Parwati datang manggil anaknya.


"Layi putraku, ayo makan. Ibumu membawa nasi merah dan ayam goreng."


"Ck," Ferry kesal karena kebersamaannya dengan putranya diganggu oleh istrinya.


Parwati menaruh piring yang berisi ayam goreng dan nasi di meja di taman.


Ia lalu menjulurkan kedua tangannya untuk mengais Layi. Tapi Ferry menghentikannya.


"Apa yang kamu lakukan?? Serahkan Layi padaku. Aku akan memberinya makan."


"Aku juga bisa menyuapi anakku makan. Jadi sebaiknya kamu duduk saja menontonku menyuapi putraku."


"Bagaimana bisa?! Itu adalah kebiasaan ibu untuk menyuapi anaknya. Kamu sebaiknya duduk dan menontonku menyuapi putraku, hemm!"


"Justru karena kamu sudah terbiasa menyuapi Layi, maka sekarang adalah giliranku untuk menyuapinya."


"Tidak bisa, itu harus aku ibunya!


"Tidak bisa, itu harus aku ayahnya!"


Keduanya akhirnya saling memelototi dengan kesal!

__ADS_1


__ADS_2