
Ferry terus melangkah menuju rumahnya tanpa memedulikan cibiran orang-orang disekitar yang mencibirnya selama ia di Desa Babi Mati.
Saat ia akan sampai ke rumahnya, wanita paruh baya yang merupakan tetangganya menanyainya.
"Ferry, apa yang kamu bawa? Apa itu bayi?"
"Ya, Bibi Reina."
"Ya Tuhan, darimana kamu mendapatkan bayi itu? Boleh aku melihatnya?"
Ferry mengangguk.
Bibi yang bernama lengkap Reina Diana Primata melangkah maju menghampiri Ferry untuk melihat bayi.
Awalnya hatinya serasa manis melihat bayi putih yang imut yang matanya belum terbuka. Bayi yang kecil dan kecil sekali dan rentan hancur karena masih lemah tulangnya.
Tapi setelah ia memperhatikan dengan s.e.k.s.ama, ia melihat luka goresan seperti goresan pisau pada tubuh si bayi. Ia tertegun!
"Apaan ini? Kenapa bayinya terdapat luka goresan? Bajingan mana yang tega menganiaya bayi?! Aku akan membunuhnya hingga ia merasa menyesal karena menyakiti seorang bayi!"
"Itu seperti ini ... Saat aku menemukannya di hutan, ia sudah tergores pada kulitnya di beberapa bagian tubuhnya. Aku tidak tahu siapa yang keji hingga menyakiti bayi yang tak berdosa seperti ini! Aku mencoba menunggu sesaat dan mencari di sekitar orang yang membuang bayi ini, tapi aku tidak menemukannya."
Ferry menghela napas panjang dan mengeluarkannya untuk menenangkan diri.
Huh ... Huh ...!
"Bayi ini terluka dan aku khawatir dengan kondisinya, jadi aku buru-buru kembali ke desa. Bibi Reina, tolong panggilkan dokter, aku akan membawanya masuk dan membersihkan tubuhnya yang kotor."
"Tentu!"
Bibi Reina pun berlari pergi mencari dokter di desa tetangga.
Ferry masuk ke rumah, dan istrinya baru saja selesai memasak. Merasakan kepulangan suaminya, Parwati langsung berjalan ke arah ruang tamu menyambut suaminya.
"Mas, kamu sudah pulang? Apa yang kamu bawa, Mas?"
"Aku membawa bayi."
"Astaga, ya Tuhan, bayi siapa yang kamu bawa?"
Ferry hendak menjawab, tapi istrinya sudah terlanjur menangis.
"Hiks ...! Ini salahku yang belum juga mengandung. Mas, jika kamu begitu menginginkan anak, kita bisa mengadopsi anak terlantar atau kamu bisa menikah lagi, meski hati ini sakit dan tak rela dimadu, aku rela jika itu untuk kebahagiaanmu, Mas. Hiks ...."
"Omong kosong apa yang kamu katakan? Aku tak akan menikah lagi! Juga, kamu dan aku tidak mandul, kita sudah memeriksakan diri ke beberapa dokter dan mereka semua mengatakan bahwa baik aku dan kamu tidaklah mandul! Kita hanya belum dikaruniai anak saja!"
"Tidak usah berbohong Mas! Aku tahu kamu sangat menginginkan anak, aku ...."
__ADS_1
Belum sempat Parwati menyelesaikan kalimatnya, ia sudah langsung dipotong oleh kata-kata Ferry!
"Berhenti. Jangan diteruskan! Aku akan cerita soal bayi ini."
Ferry pun menceritakan soal pertemuan aneh dengan si bayi di hutan. Ia menceritakan kondisi si bayi.
Parwati kaget mendengar suaminya menemukan bayi di hutan. Orang stress mana yang membuang bayinya jauh-jauh ke hutan? Begitu banyak orang yang ingin punya bayi tapi belum juga dikaruniai anak, tapi bayi ini dibuang oleh orang tuanya. Sungguh ironi ....
"Orang tua mana yang begitu kejam membuang bayi yang murni dan tak berdosa ini??!"
Parwati mengambil bayi dari gendongan Ferry.
"Lihatlah bayi ini, begitu murni dan kulitnya putih bersinar begitu menyenangkan mata. Matanya bagus, hidung dan wajahnya begitu imut dan tampan. Tapi kenapa ada goresan di tubuhnya? Orang sialan mana yang tega melukai bayi yang cantik ini??! Mas, cepat panggil dokter!"
"Aku sudah memanggil Bibi Reina untuk memanggil dokter, kita tunggu sebentar lagi, dan ia pasti akan datang dengan membawa dokter."
Setelah menunggu selama 20 menit, Bibi Reina datang dengan seorang dokter yang bernama Shohib.
Dokter Shohib langsung memeriksa bayi.
"Bagaimana Dok bayinya?" tanya Ferry yang cemas. Pertanyaan Ferry juga apa yang ingin ditanyakan oleh istrinya dan Bibi Reina.
"Kondisi bayi sedang dehidrasi. Kalian harus mencari ibu yang memiliki air s.u.s.u atau kalian bisa memeras s.u.s.u dari kambing untuk bayi ini. Adapun luka goresan pada tubuhnya, itu untungnya hanya luka dangkal dan akan menghilang setelah seminggu."
"Aku akan membeli s.u.s.u kambing dari tetangga," kata Parwati.
"Aku memiliki pakaian bayi bekas pakaian cucuku ketika masih bayi. Aku akan memberikannya padamu," kata Bibi Reina.
Ferry mengangguk karena ia memang tidak memiliki pakaian bayi.
Bibi Reina dan Parwati istrinya pergi ke luar, dan Ferry memanfaatkan waktu untuk berkomunikasi dengan dokter bertanya soal perawatan bayi juga soal membesarkan bayi.
Bibi Reina dan Parwati kembali. Langsung meminumkan s.u.s.u kambing dan mengganti pakaian bayi.
"Mas, aku akan memelihara bayi ini. Mari kita rawat dan besarkan bayi ini bersama-sama?"
Ferry mengangguk.
"Ya, tentu. Kita akan membesarkan bayi ini dan merawatnya seperti kita merawat bayi kita sendiri. Namun, bayi ini sungguh malang, mungkin ini sudah rejeki kita untuk membesarkan bayi ini. Kita akan membesarkannya dan membuatnya merasa bersyukur karena telah dilahirkan di dunia ini."
Parwati langsung mengangguk berkali-kali dengan berat.
Reina yang hanya mengamati juga mulai bersuara, "Karena kalian telah memutuskan untuk merawatnya, kalian harus mendaftarkannya ke kantor catatan sipil agar bayi ini dimasukan ke daftar rumah tangga keluarga kalian."
Ferry dan Parwati langsung mengangguk.
"Kami akan mendaftarkannya segera. Sayang, aku akan pergi dulu ke kantor pencatatan sipil. Tunggu kepulanganku dan aku akan membuat bayi kita menjadi milik kita secepatnya."
__ADS_1
Ferry hendak berjalan, ketika suara Bibi Reina menghentikannya.
"Tunggu, berhenti. Kalian bisa mendaftarkannya besok pagi. Saat ini kantor pencatatan sipil sudah tutup."
"Oh, iya, aku lupa," kata Ferry dengan malu.
"Juga, sebelum kalian mendaftarkannya kalian harus menamai bayinya terlebih dahulu."
"Ah, benar. Kenapa kita bisa lupa, Sayang? Bagaimana dengan ...."
"Sutrisno."
"Tidak, Heri."
"Randi."
"Suasana Ozora."
"Shi Zhu."
"Shikamaru."
"Rambutan."
"Joko."
"Asep."
"Indomil."
"Tidak, nama itu jelek, bagaimana dengan Onsiwari?"
"... tidak."
Karena keduanya belum menemukan nama yang cocok, Bibi Reina tidak tahan menjadi pengamat dan akhirnya ikut-ikutan memberikan nama.
"Bagaimana dengan nama Babi Mati?"
Ferry dan Parwati langsung menoleh pada Bibi Reina.
"Kalian tahu desa ini dinamakan Desa Babi Mati, jadi aku rasa tidak salah menamai bayinya Babi Mati."
"Tidak!!" Ferry dan Parwati langsung menyalak tidak setuju.
Pada akhirnya butuh waktu 9 jam untuk ketiganya sebelum menemukan nama yang cocok yang disetujui oleh ketiganya.
Ferry, Bibi Reina, dan Parwati bergiliran menyebutkan nama hingga akhirnya ketiganya memutuskan untuk menamai bayi ini dengan nama Layi Laki. Dinamakan Laki pada akhir nama karena keduanya berharap Layi akan menjadi bayi yang beruntung (Lucky).
__ADS_1