
Saat ini sudah jam 8 malam, Aso mendatangi The University of Tokyo Hospital untuk mencari keberadaan Nara. Namun beberapa tenaga medis mengatakan jika Nara sudah meninggalkan rumah sakit semenjak 2 jam yang lalu.
Aso juga beberapa kali mencoba menghubungi Nara, namun tidak ada satupun panggilannya yang diangkat. Hal ini tentu saja membuat Aso semakin khawatir. Beberapa perbincangan para tenaga medis itu sesekali juga masih terdengar samar oleh Aso, sebelum dia meninggalkan rumah sakit.
"Wah siapa pria itu? Mengapa dia mencari dokter Nara? Tampan dan gagah sekali dia! Apa mungkin dia kekasih dokter Nara?" celutuk salah satu tenaga medis itu yang masih terdengar oleh Aso.
"Kekasih? Lalu bagaimana dengan ketua Yuuma? Bukankah selama ini ketua cukup dekat dengan dokter Nara?" sahut tenaga medis lainnya lagi.
"Wah ... beruntungnya dokter Nara dikelilingi para pria tampan. Aku rasa pria yang mencarinya tadi juga bukan sembarang pria. Dia terlihat sangat tampan, mempesona, baik dan kaya!"
"Hhm. Kamu benar! Tidak seperti mantan kekasih dokter Nara yang brengsek! Dia meninggalkan dokter Nara dan menikahi wanita kaya raya. Dasar lelaki hidung belang dan brengsekk!!"
Memuji berujung memaki. Aso yang samar-samar mendengarnya hanya menghela nafas dan mengabaikan perbincangan para wanita itu. Saat ini dia hanya fokus untuk mencari Nara. Meskipun sebenarnya ucapan para tenaga medis itu ada yang membuatnya terus berpikir.
Ketua Yuuma? Apa dia adalah pria yang saat itu berada di rumah sakit bersama Nara dan mengantarnya pulang? Aku sama sekali belum pernah bertemu dengannya. Namun mendengar perbincangan para tenaga medis itu, sepertinya mereka cukup dekat ... ahhh ... bukan saatnya memikirkan hal itu. Aku harus segera menemukan Nara!
Batin Aso semakin mempercepat langkah kakinya.
Aso menyisiri sekitar rumah sakit hanya untuk mencari Nara. Namun sudah beberapa saat mencarinya, dia masih belum bisa menemukannya.
"Nara, dimana kamu ..." gumam Aso masih berusaha untuk mencari di setiap kafe, ataupun tempat yang ada di sekitar.
Ryuk, dimana Nara? Apakah tidak ada petunjuk tentang keberadaannya?
Batinnya bertanya pada Ryuk dan mulai memasuki sebuah kafe bar tanpa berhenti mengedarkan pandangannya.
[ Tuan sudah semakin dekat dengan dia. ]
Jawab Ryuk sang pemandu sistem.
Apa itu artinya dia sedang berada di kafe bar ini?
Batin Aso kembali bertanya.
[ Benar, Tuan. ]
Mendengar jawaban dari Ryuk, kini Aso semakin mempercepat pergerakannya. Dia menyisiri setiap ruangan kafe bar ini. Dan pada akhirnya Aso melihat ada seorang wanita terduduk seorang diri di sudut ruangan dengan kepala yang dia sandarkan di atas meja.
Dia adalah Nara. Namun satu hal yang tidak Aso mengerti adalah, mengapa Nara bisa mabuk seorang diri di tempat ini. Bersama siapa dia sebelumnya?
__ADS_1
Belum sempat Aso menghampirinya, Aso melihat ada seorang pria yang mulai mendekatinya dengan membawa sebotol wine.
"Cantik, mengapa sendirian saja? Bolehkah aku menemanimu?"
Pria itu mulai menyapa Nara dan duduk di dekatnya. Sementara Nara mulai mengangkat kepalanya dan menatap pria itu dengan mata memicing.
"Maaf, tapi aku harus segera pulang." balas Nara berniat untuk meninggalkan pria itu dan sudah sempoyongan.
"Mengapa terburu-buru? Dari tadi aku sudah memperhatikan kamu. Jika kamu merasa kesepian, maka aku akan menemanimu, Cantik!" bukan hanya berani berkata, namun pria berompi itu juga berani menahan tangan Nara.
"Lepaskan aku, Tuan!" tandas Nara berusaha menarik tangannya, namun pria itu malah semakin mencengkeramnya kuat.
"Tidak perlu jual mahal seperti ini. Banyak para wanita yang ingin menjadi kekasihku dan ingin tidur bersamaku. Bukankah itu kesempatan bagus untukmu?" ucap pria itu mengukir senyum menyebalkan.
Niat hati ingin menampar atau memukul pria itu untuk memberikan pelajaran, namun pandangan Nara malah semakin berbayang dan tubuhnya mulai sempoyongan.
"Jaga ucapanmu dan jangan sembarangan memperlakukan orang! Cepat lepaskan dia jika tidak ingin pergelangan tanganmu patah!" Aso yang sudah tiba, kini mencengkeram pergelangan tangan pria itu yang sedang menahan tangan Nara.
"Ckk ... aku yang lebih dulu menemukannya! Jadi dia adalah milikku!" tandas pria itu tak mau kalah.
"Dia adalah milikku! Aku sudah memperingatkan kamu, jadi jangan salahkan aku jika tanganmu benar-benar cedera!" Aso kembali menandaskan.
Titahnya dalam hati.
DING ...
[ Super energy berhasil diaktifkan. ]
KRAKK ...
Hanya dalam dua detik saja, terdengar ada suara sesuatu yang patah. Dan seketika pria itu memekik kesakitan dan melepaskan Nara.
"Ma-maafkan aku sudah mengganggu kalian. Aku akan pergi ..." ucapnya terlihat sangat ketakutan hanya setelah merasakan sedikit kekuatan dasyat Aso.
Aso segera membawa Nara meninggalkan kafe club dan mengantarkannya di rumah pribadinya. Nara sengaja memilih untuk tinggal sendiri semenjak kuliah dengan alasan ingin belajar mandiri. Sementara kedua orang tuanya tinggal di kediamannya.
.
.
__ADS_1
.
"Nara, apa pasword rumah kamu?" di depan rumah Nara Aso bertanya, karena Aso sempat berpikiran jika Nara pastinya sudah mengubah pasword tersebut.
Nara terdiam dan tidak menjawabnya. Dia masih saja menyandarkan kepalanya di depan dada bidang Aso dengan mata yang sudah terpejam.
Karena tidak mendapat tanggapan sama sekali, Aso mencoba memasukkan pasword lama yang tak lain adalah tanggal mereka berdua berpacaran. Dan rupanya pintu rumah Nara benar-benar terbuka.
Pasword masih sama? Nara tidak merubahnya sama sekali ...
Batin Aso termenung selama beberapa saat. Namun pada akhirnya Aso segera membawa Nara memasuki rumahnya. Dia membawa Nara ke kamarnya dan menurunkan di atas pembaringannya dengan sangat hati-hati.
"Kamu? Mengapa ada disini?" tepat disaat Aso berniat meninggalkannha, Nara malah terbangun dan kembali terduduk dengan sepasang mata yang menyipit menatap punggung Aso.
"Kamu mengapa sangat mirip dengan seseorang?" imbuh Nara yang kali ini menuding Aso yang sudah berbalik menghadapnya.
"Nara, kamu istirahatlah. Aku akan segera pulang ..." tidak menjawab ucapan Nara, Aso malah berpamitan karena akan terlihat aneh jika dia tetap berada disini.
Namun tiba-tiba saja Nara menangis tersedu-sedu. Dan hal ini membuat Aso kebingungan.
"Aku benci sekali dengan dia! Hiks ... aku selalu mempercayainya. Namun dia malah mengkhianatiku dan menikah dengan wanita lain." ucapnya dalam isak tangisnya.
Aso cukup terkejut melihat semua ini. Selama ini Nara selalu terlihat tenang dan dewasa saat di hadapannya. Bahkan disaat Aso memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka, Nara masih bisa tersenyum dan terlihat baik-baik saja.
Namun kini ... Aso melihat sisi lain Nara yang selama ini tidak pernah dia perlihatkan di hadapan Aso. Rapuh dan sangat terpukul. Tentu saja Aso merasa cukup terkejut.
"Na-Nara ... maafkan aku ..." ucap Aso sangat lirih dan hanya terdengar oleh dirinya sendiri saja.
"Tapi ... tapi ... hiks ... setelah mengetahui kebenaran ... aku sungguh merasa lebih tenang." ucap Nara mulai berhenti menangis dan kali ini meraih guling dan memeluknya.
"Aku merasa lebih lega, karena dia tidak benar-benar mengkhianatiku saat itu. Dia melakukan semua itu karena dia tidak memiliki pilihan lain. Aku tau ... dia masih mencintaiku saat itu. Dan begitu juga denganku ... bahkan sampai sekarang aku masih sangat merindukannya." imbuhnya lagi.
Setelah menangis tersedu-sedu, Nara mengatakannya dengan diakhiri senyuman hangat. Perlahan sepasang matanya kembali terpejam dan dia tertidur dengan posisi terduduk memeluk guling.
Aso sempat mengukir senyum tipis di dalam tatapan penuh penyesalannya, karena kini dia mengetahui perasaan Nara yang sebenarnya. Jika Nara masih menyimpan perasaanya dengan sangat baik.
Aso segera membaringkannya dan menyelimutinya dengan hati-hati agar Nara tidak kembali terbangun.
Entah mengapa aku merasa cukup lega mengetahui semua ini. Namun ... mengapa dia berkata seperti itu? Apakah dia mengetahui sesuatu tentang aku dan Rin?
__ADS_1
Batin Aso masih menatap lekat Nara yang sudah tertidur pulas.