
Angin bertiup dengan lembut, membuat lentera gantung menari-nari dan lonceng bernyanyi di tengah malam yang indah ini. Kelap-kelip lampu di sepanjang Furong Ancient Town semakin membuat keindahan kota ini menjadi semakin menakjubkan.
Temaram cahaya bulan yang ditemani gemerlap bintang di langit yang gelap dan luas, menyinari malam yang indah ini.
Terlihat Aso dan Nara yang masih berada di salah satu balkon penginapan dengan hati yang sedang berjuta rasa. Kedua insan yang pernah menjalin kasih di masa lalu dan masih belum bisa saling melupakan satu sama lain itu, kini sedang berusaha untuk berdamai dengan hati masing-masing dan keadaan yang membuat mereka berdua menjadi seperti ini.
"Nara ... kembalilah padaku dan biarkan semua ini mengalir seperti air. Meskipun semua telah berlalu seperti musim yang silih berganti. Namun hatiku akan tetap selalu sama. Aku tidak pernah sedikitpun melupakanmu." Aso kembali berkata meyakinkan Nara dan masih menatap lekat dokter cantik itu.
Bibir tipis kemerahan itu bergetar namun belum bisa mengatakan sepatah kata apapun. Sepasang mata bulatnya mulai berair menatap Aso. Hati kecilnya bahagia mendengarkan semua itu, namun apa yang baru saja dilihatnya sebenarnya cukup membuatnya kesal.
Tapi ... jika dipikir-pikir Aso sama sekali tidak bersalah. Tapi ... setidaknya seharusnya Aso berusaha menolaknya. Begitulah pemikiran Nara beberapa saat yang lalu.
"Maukah kamu memberikan kesempatan untukku, Nara? Maukah kamu kembali padaku?" untuk kesekian kali Aso kembali bertanya, karena Nara masih saja terdiam dan tidak menjawabnya.
Namun pada akhirnya Nara mengangguk samar dan tersenyum penuh haru. Jawaban Nara spontan saja membuat hati Aso berjingkrak. Dia tersenyum lebar dan meraih Nara ke dalam pelukannya kembali.
"Terima kasih. Kali ini aku tidak akan mengecewakanmu! Aku tidak akan meninggalkanmu lagi!" ucap Aso penuh binar.
Nara hanya mengangguk dan menangis penuh haru di dalam pelukannya. Sebenarnya Nara tidak cukup yakin jika kali ini hubungannya akan direstui oleh kedua orang tuanya. Bahkan dia selalu merasa gelisah dan kebingungan disaat memikirkan semua itu.
Namun ... berada di dalam pelukan Aso sungguh membuatnya merasa lebih nyaman dan tenang. Mendengarkan setiap detak irama jantung Aso dengan ritme yang begitu teratur, seperti mendengarkan sebuah simponi yang menenangkan hati.
"Setelah kita kembali ke Tokyo, aku akan menemui ayah dan ibumu. Jangan khawatir ... aku akan meyakinkan mereka dan mendapatkan hati mereka." ucap Aso seakan-akan memahami kekhawatiran serta apa yang sedang dirasakan oleh Nara saat ini.
__ADS_1
"Hhm. Aku percaya padamu ..." sahut Nara lirih masih berada di dalam pelukan Aso.
Malam yang dingin seketika terasa begitu hangat untuk mereka. Aso melepas pelukannya dan menatap hangat Nara. Suasana yang begitu indah dan mendukung ini membuat keduanya terbuai hingga perlahan wajah keduanya semakin dekat dan dekat. Aso memiringkan wajahnya dan menunduk. Sementara Nara mulai berjinjit dan memejamkan sepasang matanya untuk menyambut sesuatu dari Aso.
Kali ini aku akan melakukannya dengan baik. Bahkan tanpa skill dari sistem, aku pasti bisa melakukannya dengan baik!
Batin Aso semakin mendekati wajah Nara. Disaat ujung hidung mancungnya sudah menyentuh pipi Nara, tiba-tiba Aso mendengarkan sebuah suara yang cukup membuatnya kesal ... namun tentu dia tidak akan bisa untuk memakinya.
Karena suara itu adalah sesuatu yang selama ini selalu membantunya untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Yeap, suara siapa lagi kalau bukan suara Ryuk sang pemandu sistem.
TRING ...
[ Misi 10 akan segera dimulai. Misi adalah menyelamatkan seorang gadis yang sedang dalam bahaya dan hampir terjatuh di dekat air terjun. ]
Aso segera berhenti dan mundur. Dia sempat terlihat kesal karena misi dadakan ini. Namun apa boleh buat. Mau tidak mau dia harus segera pergi untuk menyelesaikan misinya.
"Nara, maaf. Tapi aku harus pergi sekarang. Aku akan menemuimu kembali nanti."
Tidak memberikan kesempatan Nara untuk menjawabnya, Aso segera berlalu meninggalkan Nara begitu saja. Nara menatap kepergian Aso dengan tatapan rumit dan terbesit sedikit rasa kecewa di dalam hatinya.
Sementara itu beberapa saat yang lalu, ketua Yu yang pada awalnya masih bersama dengan kelompoknya, kini mulai mencari Nara. Karena sudah hampir 30 menit Nara berpamitan untuk pergi ke kamar mandi, namun hingga sampai saat ini dia masih belum kembali. Tentu saja ketua Yu mulai mengkhawatirkannya.
Dia mencari ke depan kamar kecil wanita, namun dia tidak menemukan Nara. Beberapa tempat juga mulai dia datangi, hingga akhirnya dia melihat Nara bersama Aso di salah satu balkon penginapan.
__ADS_1
Dan yang lebih mengejutkan lagi, ketua Yu menyaksikan saat Aso memeluk Nara dan hampir mencium Nara. Dengan reflek rahangnya mengeras saat menyaksikan semua itu. Sebuah kotak hadiah yang pada awalnya akan dia berikan untuk Nara, kini dihancurkannya begitu saja. Ada rasa kecewa dan seakan sedang dipermainkan.
"Hajime Aso ... sebenarnya siapa dia? Dan mengapa dia mendekati Nara seperti ini? Apa dia tidak tau ... jika aku sudah berniat untuk melamarnya? Berani sekali dia melakukan semua ini! Ini adalah tamparan dan penghinaan untukku! Dan kamu Nara ... aku sungguh tidak menyangka kamu bisa seperti ini ..." gumam ketua Yu merasa telah dipermainkan oleh Nara dan Aso.
"Tolong ... tolong ..."
"Tolong!! Tolong!! Ada seorang gadis yang terpeleset dan terjatuh di dekat air terjun ..."
Tiba-tiba saja suasana menjadi ricuh karena telah terjadi sebuah kecelakaan di sekitar penginapan tersebut. Beberapa orang segera menuju ke tempat terjadinya kecelakaan, termasuk Aso yang segera berpamitan dengan Nara untuk menyelamatkan gadis itu.
Aso melalui ketua Yu begitu saja dan tidak menyadari keberadaannya karena sedang terburu-buru. Namun dia terlihat sama sekali tidak tertarik dengan apa yang telah terjadi di penginapan. Dia malah segera menghampiri Nara yang masih termenung menapa kepergian Aso.
"Nara ada yang harus kita bicarakan! Ikut denganku ..." bukannya memikirkan sekitar, ketua Yu malah ingin meluruskan masalahnya sendiri. Karena suasana hatinya kini seketika menjadi sangat berantakan setelah menyaksikan Aso dan Nara.
"Ketua Yu, sebaiknya kita berbicara lain kali, karena ..."
"Tidak bisa! Kita harus berbicara sekarang!" pangkas pria yang biasanya selalu terlihat tenang dan dewasa itu. Tapi kali ini mendadak sangat berbeda bagi Nara. Tidak mau membantahnya lagi, akhirnya Nara mengikuti kemauan ketua Yu untuk berbincang bersama di tempat lain.
Terlihat seorang wanita remaja yang sedang berpegangan pada sebuah kayu dan bergelantungan di dekat air terjun. Tidak ada seorangpun yang berani mendekatinya untuk menolongnya. Ada seorang wanita yang juga menangis tersedu-sedu karena tidak bisa berbuat apa-apa. Bisa dipastikan jika dia adalah saudara dari gadis remaja yang hampir terjatuh itu.
Tanpa pikir panjang, Aso yang baru saja tiba segera melompat ke pagar pembatas dan berpegangan pada sebuah papan lampu di dekat air terjun itu.
Aku tidak memiliki kemampuan khusus di dalam air. Jika sampai aku gagal dan terjatuh, bukan hanya misiku yang akan gagal ... tapi keselamatanku serta gadis ini juga akan terancam. Bagaimana ini? Aku harus segera bertindak cepat! Ayo putar otakmu, Aso!
__ADS_1
Batin Aso berusaha untuk mengulurkan salah satunya untuk gadis itu.
"Gadis kecil, pegang tanganku ..."