
Lagi-lagi Aso harus menyaksikan sebuah pemandangan yang cukup membuat harapannya kembali menciut. Terlihat ketua Yuuma yang sedang melenggang bersama Nara dan memasuki VIP elevator bersama. Kebetulan akhir-akir ini pria itu terlihat selalu menemani Nara untuk berkunjung ke Kawai Group.
"Aku akan menunggu keputusan Nara. Dan apapun keputusan Nara, aku akan menerimanya. Tapi ... bukan berarti aku diam saja!"
Kini Aso mempercepat langkah kakinya dan menahan pintu VIP elevator ketika sudah hampir tertutup sempurna. Pintu itu kembali terbuka dan sukses mengejutkan Yuuma dan Nara yang sudah melihat sosok Aso di hadapan mereka.
"Tuan Aso, selamat sore ..." sapa Yuuma yang lebih sering dipanggil dengan ketua Yu oleh semua orang.
Usianya masih cukup muda yaitu 27 tahun, namun dia sudah cukup sukses sebagai magister dokter bedah. Bahkan kini dia dipercaya mempimpin The University of Tokyo Hospital.
"Selamat sore, Ketua Yu. Jika tidak keberatan ... bisakah aku berbicara dengan dokter Nara sebentar? Aku juga ingin meminta bantuannya untuk memeriksa kakakku yang sedang sakit."
Ucap Aso mencari sebuah alasan, ataukah sebenarnya memang seperti itulah yang terjadi. Entahlah ... padahal selama ini dia selalu memberikan terapi untuk Seiya dengan menggunakan teknik pengobatan kampo secara rutin.
"Oh. Tentu saja. Dokter Nara, kamu ikutlah bersama tuan Aso untuk memeriksa kakaknya terlebih dulu. Untuk urusan di rumah sakit, biarkan aku saja yang menyelesaikannya." sahut ketua Yu tanpa rasa curiga sama sekali.
"Baik, Ketua Yu." dengan patuh Nara mengiyakan perintah atasan sekaligus pria yang kini sedang berusaha untuk mendekatinya.
"Mobilku ada di basement. Aku akan turun bersama dengan kalian." dengan seulas senyum Aso berkata dan memasuki VIP elevator itu.
Suasana di dalam elevator cukup terasa canggung dan aneh untuk Nara. Namun tidak bagi ketua Yu yang tidak mengetahui siapa sebenarnya sosok Aso, yang tak lain adalah kekasih Nara di masa lalu. Aso bahkan masih terlihat sangat cool dan biasa-biasa saja, namun sebenarnya dia cukup memahami apa yang sedang dirasakan oleh Nara saat ini.
"Ketua Yu, terima kasih telah memberikan ijin untuk dokter Nara. Dan jangan khawatir ... aku akan mengantarkan dokter Nara dengan selamat setelah memeriksa kakakku." ucap Aso sebelum mereka berpisah dan memasuki mobil masing-masing.
Ketua Yu hanya tersenyum ramah dan mengangguk samar dan berakhir dengan menatap Nara.
"Baiklah. Aku harus segera kembali ke rumah sakit."
Disaat ketua Yu memasuki mobilnya, disaat itulah Aso mengajak Nara untuk memasuki mobil sport merah menyala miliknya.
Namun bukannya membawa Nara ke kediamannya, Aso justru mengajak Nara untuk mendatangi Tokyo Skytree.
.
.
__ADS_1
.
"Kamu berbohong soal kak Seiya? Bagaimana bisa kamu berbohong mengenai masalah penyakit, Aso?" tanya Nara cukup merasa kecewa karena mengira Aso bermain-main dengan kata sakit.
"Kakak memang sakit. Dan aku sudah memberikan terapi rutin untuknya. Aku tidak berbohong soal penyakit, Nara." jawab Aso yang sudah berdiri memandangi landmark kota Tokyo di kala senja.
"Nara ... darimana kamu mengetahui semuanya? Tentang aku dan Rin?" tanya Aso beralih menatap Nara yang masih menatapnya rumit karena prasangkanya sebelumnya.
"Aku tidak sengaja mendengarnya. Saat itu aku tidak sengaja melihat wanita itu mengatakan semuanya kepada kak Seiya. Mengapa kamu tidak pernah menceritakan semua itu padaku, Aso?"
Entah mengapa pertanyaan itu dilontarkan oleh Nara terdengar terdengar penuh rasa kecewa dan sedih.
"Untuk apa aku melakukannya, Nara? Semua hanya akan membuatmu lebih bersedih saat itu. Itu semua adalah masalahku, jadi ... aku harus menyelesaikannya seorang diri." jawab Aso kembali menatap panorama indah di hadapannya.
"Apa kamu sama sekali tidak pernah memikirkan perasaanku, Aso? Dan apa kamu tidak memandang aku saat itu? Kita sudah bersama cukup lama. Bahkan kita sudah berencana untuk menikah sebelumnya. Tapi kamu malah mengambil tindakan dan menyimpan semua ini sendiri. Aku adalah seorang dokter, aku bisa membantu ibumu saat itu ..." ucap Nara yang sebenarnya cukup merasa sesih dan sakit karena mengira Aso tidak menganggap keberadaannya saat itu.
"Aku tidak ingin merepotkanmu, Nara. Aku adalah seorang pria. Keluargaku adalah tanggung jawabku. Dan aku tidak ingin menjadi beban untukmu saat itu. Intinya ... aku ingin menyelesaikan masalah keluargaku sendiri tanpa merepotkan orang lain. Maaf, aku tidak punya pilihan lain saat itu. Dan maaf jika apa yang telah aku lakukan malah menyakitimu."
"Tidak perlu menyesali apa yang telah terjadi. Jalan kehidupan kita masih panjang. Sebaiknya gunakan sebagai pembelajaran untuk berjalan ke depan." sahut Nara begitu dewasa.
"Apa kamu ingin melihatku bersama dia?" tanya Nara spontan dengan sepasang mata yang membola menatap Aso.
"Kedua orang tua kalian yang menginginkannya. Aku tidak akan merusak semuanya ke depannya." jawab Aso mengukir senyum tipis meskipun sebenarnya dia sedang menutupi sebuah kesedihan di dalam hatinya.
"Aso ..."
Belum sempat terjadi perbincangan lebih diantara mereka, tiba-tiba saja ponsel Nara berdering. Dia segera meminta ijin untuk mengangkat panggilan tersebut yang rupanya berasal dari salah satu tenaga medis.
.
.
.
"Aso, aku harus pergi ke rumah sakit. Beberapa kecelakaan beruntun terjadi. Sedangkan dokter serta tenaga medis yang sedang bertugas masih harus menangani beberapa pasien yang hari ini juga memiliki jadwal oprasi. Aku harus membantu mereka." ucap Nara setelah panggilan itu berakhir.
__ADS_1
"Aku akan mengantarmu. Ayo ..."
Tidak mampu untuk menolaknya, Nara langsung menerimanya begitu saja. Bahkan dia malah merasa senang karena penawaran dari Aso. Ada sebuah perasaan yang cukup familiar dirasakan oleh keduanya dan cukup membuat keduanya merasa lebih tenang.
...🍁🍁🍁...
Tiga hari kemudian ...
Bandar Udara Internasional Huanghua.
Sebuah maskapai yang beberapa jam yang lalu telah lepas landas meninggalkan Tokyo, kini mulai melakukan pendaratan di bandara ini.
Terlihat sebuah rombongan turun dari maskapai tersebut dan mulai memasuki beberapa mobil yang sudah disiapkan oleh anak buah Yeji. Yeap, mereka adalah Yeji dan para tim eksekutif serta beberapa kliennya yang kini sedang melangsungkan acara keakraban di Furong Changsa Hunan, dan akan berpindah ke Shanghai tiga hari ke depan.
Mereka segera mendatangi penginapan di sekitar Furong Ancient Town untuk beristirahat. Pemilihan tempat ini adalah Yeji yang memutuskan, dan disepakati oleh Haru dan para tim eksekutif lainnya.
Kota ini memiliki pemandangan yang cukup indah dan menawan. Tempat ini juga sering diiklankan sebagai Kota Kuno Furong, yaitu sebuah objek wisata di pegunungan barat laut Hunan, dan kira-kira setengah jalan antara tujuan wisata populer Kabupaten Fenghuang dan Zhangjiajie.
Di kala malam tiba, panorama di tempat ini akan sangat menakjubkan. Di Furong Ancient Town juga memiliki air terjun terjun dengan gemerlap lampu yang indah ketika malam tiba, yang sering disebut The Magical Waterfall Village of Hunan,
... 🍁🍁🍁...
Cuplikan next part.
Terlihat Nara yang begitu kesal dan kecewa setelah menyaksikan sesuatu. Dia memutuskan untuk meninggalkan pesta makan malam dan memilih untuk menyendiri di balkon rooftop penginapan untuk menatap air terjun di seberang penginapannya yang begitu indah.
Namun rupanya seseorang malah meraih tangannya dan membuatnya jatuh ke dalam pelukannya yang hangat.
"Lepaskan aku ..." pinta gadis cantik itu masih berada di dalam pelukan seorang pria.
"Kali ini aku tidak akan melepaskanmu ..." balas pria itu lirih.
__ADS_1