System Penakhluk Wanita Cantik

System Penakhluk Wanita Cantik
Invitation


__ADS_3

"Aso ..."


Pria paruh baya itu masih saja menatap Aso dengan tatapan rumit dan penuh selidik.


"Ya, Paman Jun ..."


Cukup gugup Aso menjawabnya. Namun dia cukup baik mengatasi perasaannya saat ini.


"Terima kasih karena sudah memperlihatkan semua ini kepada kami. Dan terima kasih karena saat itu sudah membantu Nara untuk membuktikan jika aku tidak bersalah." ucap Jun masih terlihat dingin, namun sebenarnya dia tulus mengucapkan semua itu.


"Tidak perlu berterima kasih padaku, Paman ... aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan." jawab Aso dengan nada rendah.


Jun beralih menatap Nara yang terlihat semakin berbinar setelah apa yang terjadi. Bahkan Nara terlihat sama sekali tidak kecewa karena pertunangannya malam ini bersama ketua Yu telah gaga begitu saja. Dan disaat inilah Jun mulai memahami sesuatu, jika putri semata wayangnya memang tidak pernah menginginkan pertunangan itu.


Jun kembali beralih menatap Aso masih dengan tatapan yang sama. Seolah-olah pria paruh baya itu masih sangat berhati-hati untuk mengambil sebuah keputusan.


"Aso, sebenarnya apa yang kamu inginkan? Kamu pernah memohon untuk mendapatkan restu dariku. Namun kamu malah meninggalkan putriku saat itu dan menikahi wanita lain. Dan kini ... kamu kembali hadir untuk mendapatkan restu dariku. Apa kamu ingin mempermainkan kami?"


Sebuah ucapan yang begitu tegas dan penuh intimidasi mulai dilontarkan oleh Jun.


"Paman ..." / "Ayah ..."


Aso dan Nara bersamaan berkata dan membuat suasana hening selama beberapa saat. Namun Aso segera memberikan isyarat untuk Nara, hingga akhirnya Nara mengangguk samar saat bertatapan dengan Aso.


"Paman Jun, bibi ... sedikitpun aku tidak pernah berniat untuk mempernainkan Nara. Saat itu aku benar-benar tidak memiliki pilihan lain, dan harus menikahi Rin. Dan kini aku berjanji, apapun yang terjadi aku tidak akan meninggalkan Nara lagi. Aku akan membahagiakan dia dan selalu menjaganya. Aku berjanji, Paman ... bibi ..."


Jun menghela nafas dan kembali beralih menatap Nara, "Nara, apa kamu bersedia menerima dia lagi? Apa kamu sudah benar-benar memikirkan semuanya?"


Nara mengangguk samar dan mulai menarik sudut-sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman manis, "Aku sudah memikirkan semuanya, Ayah ... ibu ... Aso adalah pilihanku."


"Baiklah jika kamu sudah yakin dengan pilihanmu. Ayah dan ibu hanya ingin melihatmu bahagia."


Mendengar jawaban Jun, tentu saja membuat Nara dan Aso merasa lega. Hingga akhirnya Aso memberanikan diri untuk menyampaikan sesuatu.

__ADS_1


"Jika paman dan bibi tidak keberatan, maka aku akan segera menikahi Nara seperti janjiku dulu. Jika perlu, aku akan segera mengurus semua berkas pernikahan dan mempersiapkan semuanya." ucap Aso bersemangat.


Jun dan istrinya saling berpandangan selama beberapa saat dan mengangguk samar.


"Baiklah. Kami sudah cukup tua. Kami harap kamu busa menjaga Nara dengan baik. Harapan kami hanya ingin melihat Nara bahagia bersama orang yang tepat. Namun jika kamu berani menyakitinya lagi, aku sungguh akan membuat perhitungan denganmu!" tandas Jun penuh penekanan.


"Itu tidak akan terjadi, Paman. Paman Jun dan bibi tenang saja. Dan aku akan menjaga Nara dengan baik." ucap Aso penuh keyakinan.


Harapan Aso dan Nara kembali hadir semakin kuat. Dan Aso dan Nara cukup merasa lega dan bahagia, karena pada akhirnya hubungan mereka telah direstui. Bahkan mereka juga akan segera menikah!


...🍁🍁🍁...


Kawai Group.


Beberapa pekan berlalu, Aso memberikan sebuah bingkisan berwarna hitam kombinasi keemasan yang begitu cantik dan elegan untuk Yeji di dalam ruangan kerjanya.


"Apa ini, Aso?"


Wajah Yeji berbinar dan segera membuka bingkisan itu bersemangat. Ada beberapa souvenir mewah beserta gulungan undangan keemasan. Yeji segera membuka gulungan keemasan itu dan memeriksanya, namun senyuman penuh binar itu seketika membeku dan perlahan mulai memudar.



"Itu adalah undangan pernikahanku dengan Nara, Yeji. Aku harap kamu bisa datang ... maaf jika terlihat mendadak, karena beberapa saat yang lalu aku sangat sibuk mengurus semuanya dan baru bisa memberitahumu bersamaan dengan saat memberimu undangan."


PRANG ...


Tidak sengaja Yeji menyenggol bingkai foto di mejanya hingga seketika terjatuh di atas lantai. Yeji terlihat terkejut bukan main ketika Aso mengatakan akan menikahi Nara dalam waktu dekat ini. Bahkan Aso juga sudah mempersiapkan semua.


"Menikah? Kamu dan dokter Nara akan menikah Aso?"


Seperti tersambar petir, pernyataan Aso bersamaan dengan tulisan nama yang terukir manis dalam undangan itu seketika membuat Yeji seakan kehilangan energinya.


"Benar, Yeji. Aku akan segera menikahinya."

__ADS_1


Jadi ... wanita di dalam potret itu adalah benar-benar dokter Nara? Dan kini mereka akan segera menikah? Lalu ... lalu bagaimana denganku? Apakah selama ini Aso hanya menganggapku sebagai bosnya saja? Aku bahkan selalu ada untuknya ... tapi ...


Batin Yeji masihbl sangat syok dan tidak mempercayai semua ini.


"Yeji, aku akan memanggil petugas kebersihan dulu ..." Aso segera menggunakan telpon ruangan Yeji, dan menghubungi seorang perugas kebersihan untuk membersihkan pecahan kaca dari figura yang terjatuh.


"Aso ..."


"Ya ..."


"Apa aku sedang bermimpi? Katakan padaku ... jika semua ini hanyalah sebuah mimpi ..." Yeji meraih lengan Aso dan menengadahkan wajahnya menatap Aso dengan tatapan penuh harap.


"Hhm? Mimpi? Ini bukanlah mimpi, Yeji. Kamu sedang tidak bermimpi."


Jawaban Aso semakin sukses membuat Yeji kehilangan energi di dalam tubuhnya. Raut wajahnya seketika menjadi semakin kusut. Bahkan dia sudah hampir terjatuh seakan tidak memiliki energi untuk menopang tubuhnya sendiri. Pandangannya tiba-tiba menjadi berbayang dan semakin gelap.


Aso dengan sigap segera menangkap tubuh Yeji dan sedikit mengguncangnya, "Yeji ... ada apa denganmu? Apa kamu baik-baik saja?"


Karena tidak ada jawaban, akhirnya Aso segera membawa Yeji ke ruangan medis Kawai Group yang berada tidak jauh dari ruangan pribadi Yeji. Namun karena Aso yang menggendong depan Yeji, membuat semua perhatian staff tertuju kepada mereka berdua.


Bahkan Haru yang tidak sengaja berpapasan dengan mereka juga mulai mengikuti keduanya dengan keadaan hati yang kurang baik karena melihat Aso yang menggendong depan Yeji. Namun Haru juga terlihat sangat khawatir karena melihat Yeji yang cukup pucat.


Seorang tenaga medis yang merupakan anak buah Nara mulai memeriksanya. Sementara Aso dan Haru masih menunggu di luar ruangan medis. Sesekali Haru melirik Aso dengan tatapan penuh ketidaksukaan.


Awas saja jika sampai kamu yang membuat Yeji seperti ini, Aso! Aku tidak akan diam saja!!


Batin Haru mengepalkan tangannya melirik Aso.


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya gadis perawat itu terlihat keluar dari ruangan medis dan masih mengenakan masker medisnya. Aso dan Haru segera menghampirinya untuk mengetahui kondisi Yeji saat ini.


"Bagaimana keadaan Yeji, Suster? Apa Yeji baik-baik saja?"


Haru bertanya dengan tidak sabaran.

__ADS_1


Sang tenaga medis itu mulai melepas masker medisnya dan memperlihatkan raut wajah khawatir.


Bersambung ...


__ADS_2