System Penakhluk Wanita Cantik

System Penakhluk Wanita Cantik
Ternyata Benda Keramat


__ADS_3

KRASAKK ...


Tubuh Nara terhuyung dan malah terjatuh dalam pelukan Aso. Sementara bingkisan itu terjatuh dari tangannya hingga isinya keluar dari kantong berwarna gelap itu.


Sebuah kemasan lucu berwarna pink lembut dengan gambar yang sangat familiar itu terlihat hingga membuat wajah Nara merona. Sementara Aso menatapnya sedikit aneh.


Nara segera melepaskan dirinya dari pelukan Aso dan memungut kembali barang keramat bagi wanita itu. Lalu dia segera menyimpannya di sebuah laci meja.


"Aso, aku akan membuatkan kamu minum dulu ..."


Demi untuk mengurangi rasa kikuk dan menyembunyikan wajahnya yang sudah merona karena malu, akhirnya Nara memutuskan untuk pergi ke dapur dan membuat minuman untuk Aso.


Beberapa menit berlalu dan Nara sudah kembali membawakan segelas teh susu hangat untuk Aso.


"Minumlah ... Aku membuatkan minuman kesukaanmu." ucap Nara sembari menyodorkan secangkir teh susu hangat itu.


Aso meneguknya dan meletakkan kembali cangkir yang sudah berkurang setengah dari isinya itu.


"Kita sudah cukup lama saling mengenal. Bukan lagi sehari atau dua hari. Mengapa masih merasa malu karena hal seperti itu? Suatu saat aku bahkan akan lebih mengenali barang-barang keramat lain milikmu ..."


Ucap Aso yang rupanya masih membahas mengenai hal yang terjadi sebelumnya. Padahal Nara sudah sedikit menguasai dirinya dan berharap Aso melupakannya.


"Aso, hentikan ..." pinta Nara memelas.


Melihat wajah cemberut Nara yang sedikit memerah, membuat Aso tertawa kecil.


"Aku hanya bercanda kok. Sudah lama aku tidak melihat wajah lucumu seperti ini. Aku kangen ..." ucap Aso beralih menatap Nara yang duduk di sampingnya. "Apa kamu baik-baik saja? Biasanya di hari pertama saat mendapatkannya, kamu akan selalu merasa kesakitan. Dan tubuhmu selalu merasa pegal dan sakit. Aku akan memijitmu jika kamu mau ..."


"Ini sudah hari kedua kok. Aku baik-baik saja ..." jawab Nara merasa kikuk karena penawaran dari Aso. Karena salah tingkah, Nara menyibak rambut samping ke belakang telinganya.


"Begitu ya. Ya sudah ... uhm ... ibu dan kakak ingin sekali bertemu denganmu. Jika kamu berkenan ..."


"Ayo kita kesana, Aso! Aku juga ingin bertemu dengan mereka ..." pangkas Nara antusias dan beralih menatap Aso.


"Sekarang?"


Nara mengangguk tanpa pikir panjang, "Kebetulan aku sedang berlibur. Dan kebetulan kamu juga memiliki waktu. Ayo kita pergi kesana bersama, Aso ..."

__ADS_1


Aso tidak segera menjawabnya. Dia malah menatap lekat sepasang mata bulat itu dan mengukir senyum tipis.


"Kita sangat jarang bisa bertemu seperti ini. Baiklah ... kita akan pergi bersama kesana. Tapi ..." ucap Aso menggantung ucapannya dengan pandangan menuruni hidung mancung Nara dengan pahatan yang sempurna, dan berakhir pada bibir kemerahan itu.


"Tapi apa?" pangkas Nara dengan jantung yang berdegup semakin keras karena tatapan hangat Aso.


"Tapi mari kita menikmati yang manis-manis dulu ..."


Ucapan Aso sungguh membuat debaran jantung Nara lebih cepat berpacu. Karena dia mengira Aso akan melakukan sesuatu yang manis untuknya. Ditambah lagi setiap tatapan dan ucapannya yang selalu hangat untuknya.


Aso semakin mendekati Nara dan membuat sepasang mata bulat Nara yang pada awalnya terbuka lebar kini perlahan menyipit. Jarak diantara mereka mulai terkikis dan semakin dekat.


Namun rupanya yang terjadi adalah bukan hal manis seperti yang ada dalam pikiran Nara. Karena Aso malah meraih sebuah bingkisan beraroma manis yang berada di belakang Nara.


"Aku membeli beberapa kue saat dalam perjalanan ke rumahmu. Ayo kita makan dulu ... kue-kue ini adalah kesukaan kamu."


Seketika Nara merasa malu namun juga sedikit merasa kesal. Jika bisa menghilang, mungkin Nara akan menggunakan jurus menghilangnya saat ini untuk melarikan diri dari hadapan Aso.


Semua terukir jelas pada wajah Nara. Seketika Nara terlihat murung dan kecewa. Dia juga memalingkan wajah serta tubuhnya ke arah lain. Dan Aso memahami hal itu. Karena Aso sudah cukup baik mengenal dokter cantik itu.


"Kenapa tiba-tiba murung? Apa aku membuat kesalahan, Nara?" tanya Aso cukup peka akan perubahan sikap Nara.


"Kamu berbohong padaku ..." pangkas Aso dengan nada yang juga lirih.


"Aku tidak bohong ..."


"Semakin terlihat jika kamu sedang berbohong ..."


Merasa semakin kesal, akhirnya Nara kembali menatap Aso dan ingin menyemprotnya dengan kata-kata.


"Aso ... aku bilang aku tid---"


CUP ...


Belum sempat Nara menyelesaikan ucapannya, Aso dengan cepat membungkamnya dengan sebuah pagutan lembut. Sepasang mata Nara semakin membulat karena serangan Aso yang begitu tiba-tiba. Namun perlahan mata bening itu mulai terpejam dan dia tidak berusaha untuk menghentikan Aso.


Beberapa saat keduanya terbuai dan melepaskan kerinduan yang yang selama ini mereka pendam. Aso mengakhiri pagutan itu dan kembali menatap lekat sang kekasih.

__ADS_1


"Nara ... terima kasih karena sudah memberikan kesempatan untukku. Kali ini apapun yang terjadi aku tidak akan mengecewakan kamu lagi." lirih Aso masih menatap lekat Nara.


Nara tersenyum samar dan mengangguk. Aso kembali mendekati wajah ayu nan kalem itu, dan berniat untuk memangut kembali bibir setipis cery itu.



Namun sebuah melody indah yang berasal dari ponsel Nara mulai terdengar , hingga membuat Aso menghentikan semua itu.


"Angkatlah ... mungkin penting." ucap Aso tanpa merasa kesal.


Nara meraih benda pipih dari atas meja dan mengangkatnya sesuai permintaan Aso.


"Hallo ... ada apa, Asuka?" sapa Nara ketika mengangkat panggilan dari salah satu tenaga medis di The University of Tokyo Hospital.


"Dokter Nara bisakah dokter datang ke rumah sakit? Ada pasien yang sedang kritis karena percobaan bunuh diri. Lagi-lagi beberapa pasien dalam keadaan yang harus segera ditangani datang dalam waktu yang sama. Kami sungguh keteteran karena tenaga medis serta dokter yang terbatas saat malam."


Hal yang sama lagi-lagi terjadi lagi. Tempat tinggal Nara tidak terlalu jauh dari rumah sakit. Ditambah lagi Nara adalah wakil dari ketua The University of Tokyo Hospital, jadi dia harus selalu siaga untuk rumah sakit tersebut.


"Baiklah. Aku akan segera datang. Siapkan saja seluruh peralatan."


Nara mengakhiri panggilan itu dan menatap Aso penuh rasa menyesal.


"Tidak apa-apa. Kita bisa bertemu ibuku dan kak Seiya lain kali. Ayo ... aku akan mengantarmu ke rumah sakit ..." ucap Aso begitu memahami dan mengerti akan posisi dan pekerjaan Nara saat ini.


.


.


.


The University of Tokyo Hospital


Setelah tiba di rumah sakit tersebut, Nara segera memasuki sebuah ruangan IGD untuk menangani salah satu pasiennya yang sedang kritis.


Pada awalnya Aso yang hanya datang untuk mengantarkan Nara dan berniat untuk kembali lagi, namun dia malah melihat seseorang yang sangat tidak asing sedang menunggu di luar ruangan IGD.


Mimi? Mengapa dia ada disini? Sebenarnya siapa yang sedang ditunggunya yang sudah berusaha untuk mengakhiri nyawanya sendiri?

__ADS_1


Batin Aso penasaran.


Karena penasaran siapa pasien tersebut, akhirnya Aso sedikit mengintip ke dalam ruangan IGD. Terlihat seorang gadis dengan luka pada bagian pergelangan tangan terbaring di atas brankar dengan wajah yang sudah cukup pucat.


__ADS_2