
Belum sempat Aso melihat lebih lama pasien yang sedang kritis itu, kini seorang tenaga medis mulai menutup pintu ruangan IGD tersebut. Hingga mau tidak mau Aso tidak bisa mengamatinya lagi. Dia segera menghampiri Mimi yang sedang terduduk menunduk dengan ekspresi kacau dan panik.
"Mimi, sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa Rin melakukan percobaan bunuh diri?" tanya Aso yang kini sudah berdiri di hadapan gadis itu.
Mimi menengadahkan wajahnya dan melihat sosok Aso sudah berdiri di hadapannya.
"Rin ... Rin sangat frustasi ... tapi aku sungguh tidak menyangka jika dia akan melakukan hal seperti ini." jawab Mimi masih terlihat sangat ketakutan dan panik.
"Frustasi? Bukankah seharusnya dia sudah hidup bahagia setelah menikah bersama Ryo?" tanya Aso tidak mengerti.
"Ryo ... pria brengsekk itu yang membuat Rin seperti ini. Dia melarikan diri lagi tepat di hari pernikahan mereka. Bahkan Ryo juga sudah berhasil menipu kami semua. Dia bukanlah berasal dari keluarga kaya yang terpandang. Selama ini dia hanya menggunakan identitas palsu dan membayar orang untuk menjadi kedua orang tuanya. Dan kali ini perbuatannya sukses membuat nama keluarga besar Rin sangat malu."
Ucap Mimi bercerita dan juga terlihat sangat kesal karena mengingat sosok Ryo yang selama ini selalu dibanggakan oleh keluarga besar Rin.
"Bukan hanya itu ... Rin juga sedang mengandung anak bajiingan itu saat ini. Ryo sungguh penipu yang sudah sukses melakukan semua ini!! Bukan hanya bisa membuat Rin cinta mati dengannya. Namun dia juga bisa membuat keluarga besar kami mempercayainya." imbuh Mimi penuh penyesalan.
"Berhari-hari Rin mengurung diri dan tidak mau menemui siapapun. Kedua orang tuanya sedang berada di luar negeri untuk mempersiapkan segala hal dan berencana akan membawa Rin pindah agar bisa melupakan semua ini. Dan aku diperintahkan untuk menemani dan menjaga Rin. Tapi ... tapi tidak aku sangka tadi saat aku mengunjunginya kembali setelah menyelesaikan urusanku, dia sudah melukai dirinya sendiri seperti itu." imbuh Mimi kembali merasa bersalah.
Dia menyibak rambut pendeknya ke belakang dam terlihat sangat kacau.
Seperti dugaanku sebelumnya. Memang ada yang tidak beres dari Ryo. Pria brengsek bernama Ryo itu rupanya memang sudah merencanakan semua ini untuk menjatuhkan Rin dan keluarganya. Sebenarnya apa yang terjadi di antara mereka sebelumnya? Aku rasa bukanlah sebuah masalah kecil, hingga membuat Ryo begitu dendam dan merancang semua ini dengan cukup sempurna.
Batin Aso.
TRING ...
[ Misi selanjutnya akan segera dimulai. Misi kali ini adalah membantu menyelesaikan masalah Rin dan keluarganya. Temukan pria itu dalam waktu 1 pekan, dan misi akan dianggap berhasil. ]
Ponsel Aso berbunyi. Sebuah tulisan misi juga terlihat di layar poselnya. Aso sempat membacanya, namun dia memutuskan untuk tetap berada di rumah sakit terlebih dulu. Sebenarnya dia cukup kesal karena mendapatkan misi kali ini.
Meski Rin pernah sangat merendahkannya, hal itu tidak membuat Aso terlalu mempermasalahkannya. Namun Rin pernah mengatakan hal buruk tentang ibunya, dan tentu saja hal itu tidak akan pernah dia lupakan.
Namun, mau tidak mau Aso harus menjalankan misinya kali ini. Setidaknya hanya untuk membantu keluarganya saja, karena biar bagaimanapun papa Rin pernah membantunya saat itu.
"Aku harap semua kejadian ini bisa membuat kalian belajar!" tandas Aso sebelum dia meninggalkan Mimi.
Mimi tidak menjawabnya dan hanya menatap kepergian Aso yang lebih memilih untuk duduk di bangku lainnya.
__ADS_1
.
.
.
Beberapa saat berlalu. Akhirnya terlihat Nara mulai meninggalkan ruangan IGD diikuti oleh ketiga tim medis lainnya. Mimi terlihat langsung menghampiri Nara masih dengan raut panik namun penuh harap.
"Bagaimana keadaan sepupuku, Dokter?" tanya Mimi tak sabaran.
"Pasien berhasil diselamatkan. Terima kasih karena sudah menghentikan aksi bunuh dirinya dengan tepat. Jika saja nona sedikit terlambat untuk menghentikannya, kemungkinan nona Rin tidak akan benar-benar bisa tertolong lagi." jawab Nara membuat Mimi merasa sangat lega.
"Terima kasih, Dokter. Terima kasih ..." ucap Mimi sangat lega dan merasa beruntung.
"Kami akan memindahkan pasien ke kamar lainnya. Karena kondisinya sudah semakin membaik dan stabil. Permisi ..."
"Baik, Dokter ..."
Nara meninggalkan Mimi dan berniat untuk ke ruangannya kembali. Namun dia malah menangkap sosok Aso yang sedang berdiri bersandar di depan sebuah ruangan rawat lainnya. Nara segera menghampiri Aso dan merasa segan karena sampai saat ini rupanya Aso masih menunggunya.
"Ini sudah larut. Aku tidak mungkin meninggalkanmu. Sudah selesai?"
Nara mengangguk dengan senyum tipisnya.
"Ya sudah. Ayo pulang ... aku akan mengantarmu."
"Hhm. Aku akan ke ruanganku dulu ..."
Mereka melenggang bersama untuk menuju ruangan pribadi Nara dan mengambil tas Nara. Lalu mereka segera memutuskan untuk pulang.
Sebaiknya aku mengunjungi Rin besok saja. Sekalian mencari tau tentang Ryo untuk menyelesaikan misiku.
Batin Aso.
...🍁🍁🍁...
Sementara itu di dalam sebuah kediaman yang cukup mewah, terlihat Yeji sedang mengutak-atik ponselnya sambil berbaring di atas pembaringannya. Wajahnya terlihat bersemu merah karena dia baru saja menikmati beberapa gelas wine yang membuatnya mulai mabuk.
__ADS_1
"Ughhh ... sudah 2 pekan berlalu tapi aku masih tidak mengetahui siapa gadis yang difoto Aso saat itu. Tapi ... aku rasa dia bukan Ayumi deh. Karena biasanya Ayumi akan selalu terlihat anteng meski hanya sekedar berfoto. Tapi ... melihat Aso yang akhir-akhir ini sering mengunjungi Ayumi membuatku berpikir jika gadis itu adalah dia ... Aso terlihat begitu mengkhawatirkan Ayumi. Apakah dia menyukai Ayumi? Lalu ... bagaimana denganku?"
Gumammnya terlihat murung dan memejamkan matanya.
"Aso ... entah mengapa melihatmu selalu dekat dengan wanita lain membuatku merasa kesal."
CEKLEKK ..
"Yeji, apa kamu di dalam?"
Bariton suara seorang pria terdengar diikuti oleh derap langkahnya yang terdengar semakin dekat. Yeji merubah posisinya dan mulai terduduk untuk melihat siapa yang datang.
Wajah putih kemerahan Yeji mulai dihiasi dengan senyuman penuh binar saat melihat pria yang baru saja datang.
"Kamu datang ... akhirnya kamu datang padaku, Aso ..." lirihnya segera menghampiri sosok itu dan memeluknya erat.
"Yeji, aku ..."
"Ssttt ... jangan mengatakan banyak hal yang membuatku kesal. Cukup temani aku malam ini. Aku hanya ingin bersama denganmu, Aso ..."
Ucapan Yeji semakin ngelantur. Dia juga segera melepaskan pelukannya dan menengadahkan wajahnya menatap pria di hadapannya dengan ekspresi layaknya seseorang yang sedang mabuk.
Dia bahkan dengan berani mulai mengalungkan kedua tangannya pada leher pria di hadapannya. Lalu Yeji berjinjit dan dengan sangat berani mengecup bibir pria itu.
Pada awalnya pria itu cukup terkejut mendapatkan perlakuan tersebut, namun pada akhirnya dia malah membalas Yeji dan memagut bibir Yeji dengan tulus.
Jangan salahkan aku, Yeji. Kali ini kamu yang menggodaku lebih dulu. Aku memang sudah lama menyukaimu, dan aku harap setelah ini kamu bisa membuka hatimu untukku ...
Batin pria itu semakin mendorong tubuh Yeji hingga membuat Yeji terbaring di atas pembaringannya. Tidak cukup hanya menikmati setiap inchi bibir Yeji, pria itu juga mulai berusaha untuk melakukan hal yang lebih.
Dia mulai melepaskan satu persatu pakaian Yeji dan mulai menikmati setiap lekuk tubuhnya yang indah.
"Aso ... ughhh ..."
Mendengar Yeji melenguh dan mendengar Yeji menyebutkan nama pria itu, membuat sang pria menjadi semakin brutal melakukan serangan demi serangannya untuk Yeji, hingga dia mencapai puuncak kenikmaatannya.
Bersambung ...
__ADS_1