System Penakhluk Wanita Cantik

System Penakhluk Wanita Cantik
Menemui Nara


__ADS_3

Aso mulai menyalakan sebuah musik yang memberikan nuansa hangat dan menenangkan hati. Dan sebenarnya ini adalah salah satu metode pengobatan Aso, yaitu dengan terapi musik.


Karena selama ini cukup banyak penelitian yang mempelajari manfaat musik bagi orang-orang dengan depresi atau kecemasan. Sebuah penelitian juga menunjukkan hanya dalam sebulan terapi musik dapat meringankan gejala obsesi dan kecemasan.


"Nona, berbaring dan pejamkan matamu. Nikmatilah musik ini ..." ucap Aso mulai mempersiapkan sebuah kotak kecoklatan yang berisi dengan jarum-jarum akupuntur miliknya.


Sebagai salah satu bentuk pengobatan tertua, akupunktur dapat membantu mengobati OCD dengan meningkatkan serotonin. Satu studi, yang diterbitkan dalam Journal of Nervous and Mental Disease juga menemukan bahwa kelompok yang menerima pengobatan akupunktur menunjukkan penurunan gejala OCD yang lebih besar daripada kelompok yang tidak menerima pengobatan akupuntur. Semoga dengan teknik pengobatan kampo milikku, bisa sedikit mengatasi masalah ini.


Batin Aso mulai bersiap untuk menusuk beberapa titik pada Zena.


Zena menurut, dia memejamkan mata dan berusaha untuk menikmati musik yang sudah mulai terputar memenuhi seluruh ruangan yang tak lain adalah kamar Zena.


.


.


.


Pengobatan kampo sudah selesai dilakukan. Dan kini Aso meminta ijin untuk meminjam dapur. Meskipun sebenarnya Zena merasa risih karena keberadaan Aso di rumahnya, namun dia tetap mengijinkan Aso karena Aso mengatakan ini adalah bagian dari pengobatan.


"Setelah dia pulang, segera bersihkan seluruh rumahku! Aku tidak mau ada sedikit yang tersisa dari dia! Bahkan aroma parrumnya aku juga tidak ingin menciumnya setelah dia pergi!" perintah Zena kepada salah satu asisten rumahnya.


"Baik, Nona Zena."


.


.


.


Dua jam berlalu, kini Aso sudah menyajikan masakannya di ruang makan. Disaat Aso ingin memanggil Zena untuk menikmati masakannya, ternyata Zena sudah lebih awal datang dan memperlihatkan wajah judesnya.


"Kita membutuhkan zinc untuk pengobatan kali ini. Dan unsur penting ini ditemukan pada makanan seperti ikan, makanan laut, kacang-kacangan, daging hewan, sereal gandum utuh, dan produk susu. Para ahli menganggap zinc sebagai neurotransmitter yang berperan dalam memodulasi respons otak dan tubuh terhadap stres. Kekurangan zinc dapat menyebabkan gejala gangguan depresi dan kecemasan, termasuk OCD. Jadi ... aku memasak semua ini untuk nona Zena."


Ucap Aso dengan ramah dan bahkan masih memakai celemek hitamnya saat ini.


Zena menatap beberapa sajian di hadapannya yang cukup menggiurkan saliva. Namun ekspresi dingin, datar dan kaku masih saja menghiasi wajah cantiknya penuh selidik. Bahkan dia juga kembali menatap Aso penuh kecurigaan.


"Bagaimana aku bisa mempercayaimu? Bagaimana jika kamu ingin meracuniku dengan makanan ini?" sahut Zena memojokkan Aso.


Senyuman Aso sempat membeku dan menjadi kaku, namun pada akhirnya dia berusaha untuk meyakinkan Zena. Aso mengambil beberapa menu masakannya dan mencobanya untuk memperlihatkan jika semua makanan itu tidak beracun.

__ADS_1


"Lihatlah ... jika aku memasukkan racun ke dalam makanan ini, aku pasti tidak akan mau memakannya, Nona Zena. Aku sudah mencobanya, dan makanan ini tidak beracun. Makanlah ..." sahut Aso dengan sabar.


Masih memasang wajah datar, Zena mulai meraih sepasang sumpitnya dan menikmati masakan Aso.


"Setelah ini lakukan meditasi. Karena mindfulness meditation bisa membantu nona menghindari atau mengendalikan pemicu OCD yang nona derita. Lakukan olahraga dengan rutin untuk meringankan OCD. Lakukan semua itu dengan rutin. Maka nona akan merasakan perubahannya setelah satu pekan. Aku juga akan datang untuk melakukan terapi pengobatan kampo kembali 3 hari ke depan." ucap Aso berharap Zena tidak akan keberatan.


"Huft ... jadi OCD-ku tidak akan langsung sembuh? Dan kamu akan datang lagi sebagai dokterku?" sahut Zena dengan malas sambil menikmati makan malamnya.


"Benar sekali, Nona. Jadi perubahan akan nona rasakan setelah satu pekan. Aku juga harus datang untuk ..."


"Hahhh ... baiklah-baiklah! Lakukan saja! Tapi ingat untuk menepati perjanjian kita! Jika kamu gagal, maka jangan menggangguku lagi!"


"Aku akan mengingatnya. Tapi nona juga harus mengingat, jika aku berhasil, maka nona ..."


"Maka aku akan menjadi fashion designer dan creative director untuk Kawai Group bukan? Tenang saja! Ingatanku masih sangat bagus! Dan aku adalah tipikal orang yang tidak suka untuk tidak menepati janji!" pangkas Zena dengan malas, namun terdengar tegas.


Aso tersenyum samar mendengarnya.


...🍁🍁🍁...


Usai berpamitan dari rumah Zena, Aso berniat untuk pulang. Namun tiba-tiba saja dia malah teringat dengan Nara saat melewati The University of Tokyo Hospital. Mengingat keadaan Nara kemarin yang sempat mabuk, membuat Aso kembali merasa khawatir. Hingga akhirnya dia mulai menghubungi Nara.


"Moshi-moshi." terdengar suara lembut Nara dari seberang line telpon.


"Nara, bagaimana keadaanmu?" Aso merasa cukup kaku untuk menanyakan hal tersebut.


"Aku ... baik-baik saja." jawabnya seakan sedang menahan diri, hingga suaranya terdengar semakin lirih.


"Bisakah kita bertemu?" disaat mengingat pengakuan Nara saat mabuk, kini membuat Aso ingin meluruskan semuanya.


"Aku sedang ada di rumah. Kirimkan saja alamat untuk bertemu. Aku akan pergi kesana." jawab Nara yang terdengar sedikit nervous.


"Tidak perlu. Aku saja yang akan ke rumahmu. Tunggu sebentar, aku akan kesana."


"Ehh? Baiklah ..."


Aso mengakhiri panggilan itu dan segera merubah arah laju mobilnya untuk pergi ke rumah Nara. Wajah tampan dengan garis tulang yang tegas dan pahatan yang sempurna itu terlihat serius saat mengemudikan mobilnya.


Sebenarnya Aso cukup tampan sebelum dia mendapatkan sistem, hanya saja dia kurang melakukan perawatan dan terlalu cuek untuk semua hal tersebut.


.

__ADS_1


.


.


Aso menekan bel rumah Nara dan menunggunya, meskipun sebenarnya dia bisa saja langsung masuk karena mengetahui pasword rumah tersebut. Namun tidak mungkin dia melakukannya bukan?


"Maaf lama membuka pintunya. Aku sedang berganti pakaian tadi." seorang gadis dengan rambut panjang tergerai dan mengenakan pakaian jingga berbunga membuka pintu.



"Oh ... tidak masalah. Aku juga baru saja datang kok." sahut Aso mengusap tengkuknya dan terlihat cukup kaku.


"Masukkah, Aso. Kita bicara di dalam ..." Nara segera berbalik dan memasuki rumahnya.


Dan sebenarnya Nara juga sedang berusaha untuk menutupi rasa kikuknya saat ini, karena dia sangat mengingat dengan jelas jika kemarin malam Aso sudah menolongnya dari pria hidung belang dan mengantarnya pulang.


"Kamu mau minum apa? Teh susu hangat?" Nara berinisiatif dan menawarkan minuman favorit Aso ketika malam tiba. Dan tentu saja semua itu masih sangat diingat olehnya.


"Hhm. Boleh ..."


.


.


.


Lima menit berlalu, dan Nara sudah kembali membawakan secangkir teh susu hangat untuk Aso. Aso segera meneguknya ketika Nara menyodorkannya untuknya.


"Ada apa? Mengapa kamu mencariku?" tanya Nara yang sudah beberapa saat menahan diri untuk bertanya.


"Begini, Nara ... maksud kedatanganku adalah ... aku ingin meluruskan sesuatu. Nara ... apa kamu ingat dengan apa yang kamu katakan saat kamu mabuk kemarin?" tanya Aso dengan sangat berhati-hati sembari menatap gadis yang terduduk tepat di sampingnya dengan kedua jemari yang saling bertaut.


Nara mengangguk samar dan menunduk, "Aku mengingat semuanya ..." ucapnya lirih.


"Lalu ... apakah semua itu benar?" Aso kembali bertanya dengan sangat berhati-hati.


Lagi-lagi Nara mengangguk tanpa berani menatap Aso, "Itu adalah benar ..."


Ucapan Nara sangat lirih, bahkan Aso hampir saja tidak mendengarnya.


"Lalu ... bagaimana jika aku memutuskan untuk kembali padamu. Apakah kamu mau menerimaku dan memaafkanku? Dan apakah kita bisa memulainya kembali?" kali ini Aso bertanya dengan semakin berhati-hati.

__ADS_1


__ADS_2