
enam bulan kemudian
kebahagiaan itu arsi rasakan lagi setelah ia melakukan tes kehamilan di pagi hari. Arsi hamil, Bilal pun juga bahagia mendengar berita itu. Bilal sangat menjaga arsi lebih dari sebelumnya, ia datangkan perawat di rumahnya khusus menjaga arsi jika ia tidak di rumah.
" banyak istirahat ya mas akan pulang cepat, ingat jangan lakukan pekerjaan yang membuatmu lelah". arsi tersenyum.
" iya mas ". ..
" suster tolong jaga istri saya jangan sampai istri saya melakukan sesuatu yang membuat dia lelah, saya serahkan pengawasan istri saya padamu dan bibik juga awasi istri saya." ucap Bilal tegas ia akan bekerja banyak sekali kasus operasi yang harus ia tangani.
" iya tuan". keduanya serempak.
" mas jangan berlebihan arsi tidak apa-apa".
" bukan apa-apa sayang aku tak ingin kamu terus menyalahkan dirimu sendiri". semua kuasa Allah jadi jangan pernah lagi menyalahkan dirimu sendiri.
Arsi tersenyum ia tau kekhawatiran Bilal, bukan khawatir atas kehamilan nya tapi khawatir atas dirinya. Arsi mengantar Bilal hingga ke depan, bilal berangkat ke rumah sakit seperti biasa. setiap jam jika Bilal tak sibuk ia selalu menelepon Arsi.
" mba jangan terlalu takut dengan saya atau suami saya ya, mas Bilal itu sebenarnya sangat baik. maaaf tadi pagi ucapannya terlalu keras".
" saya tau Bu, dokter sepertinya sangat mencintai ibu. dokter Bilal begitu sangat mengkhawatirkan ibu bukan kandungan ibu justru ke ibunya." arsi tersenyum.
" Alhamdulillah mba, arsi di berikan suami yang begitu mencintai arsi."
" semoga dokter dan ibu bahagia selalu, Allah berikan kebahagian tiada terkira."
" aamiin terima kasih mba".
***
Arsi dan Bilal akan memeriksakan kandungan nya lagi ke dokter Sherly, itu yang mama anjurkan mama tak percaya dengan dokter lain selain Sherly.
" Mama sudah membuat janji dengan Sherly kita ke sana saja sekarang". mama pergi menemani mereka berdua. niat hati mereka akan pindah ke dokter Zaskia namun mama ngotot ke Sherly saja yang mama kenal.
" Alhamdulillah bayi dan ibunya sehat." ucap Sherly dengan lembut.
__ADS_1
" terima kasih dokter". ucap arsi, Bilal membantu arsi turun dari ranjang.
" terima kasih ya Sherly sudah memeriksa arsi". ucap mama berkata lembut.
" iya Tante sama-sama, semoga sehat sampai melahirkan".
" terima kasih ya dokter sherly". ucap arsi kemudian.
" jaga kesehatan arsi banyak makanan bergizi dan istirahat". sherli memberikan obat yang sudah ia raciknya.
mereka pamit langsung Bilal mengantar arsi untuk pulang, mama bahagia karena arsi akhirnya hamil lagi.
" mama sangat menunggu cucu mama, mama harap kamu menjaganya dengan baik jangan sampai keguguran lagi ini sudah yang kedua kalinya kamu kehilangan bayimu jangan sampai ketiga kalinya arsi." ucap mama hati arsi merasa tercubit.
" insyaallah ma." ..
" mama semua itu kuasa Allah ma, bukan arsi atau Bilal. jika Allah mengizinkan kita akan punya anak. arsi juga sudah menjaganya dengan baik".
" iya mama tau Bilal tapi kenapa hingga dua kali kalian harus kehilangan bayi kalian". mama berkata dengan nada sedikit tinggi.
" mas..." arsi memegang lengan Bilal agar Bilal tak berkata lebih tinggi lagi dari mama nya.
" mama ngga mau tau Bilal jika arsi kehilangan bayinya kamu harus menikah lagi ." Bilal ingin mengatakan sesuatu tapi arsi menahannya.
" ini tak bisa dibiarkan sayang, kamu tidak salah ."
" tapi jangan bicara terlalu tinggi mas dengan mama, mas tau kan surga mas ada di bawah telapak kaki mama".
" mama tau bagaimana kan arsi, arsi sangat peduli sama mama. lihatlah arsi yang tak berdosa ini ma, ia tidak salah dalam hal ini ma".
" mas arsi mohon jaga ucapan mas Bilal". arsi menangis ia tak mau suaminya durhaka kepada ibunya.
mama diam saja kemudian ia pamit, mama pulang tanpa permisi. Bilal memeluk arsi, ia tau jika arsi sangat sakit hatinya tapi demi dirinya ia rela di marahi oleh mama.
" Mas jangan ulangi lagi ya, arsi tak mau mas durhaka sama mama." Bilal mengecup kepala arsi berkali-kali.
__ADS_1
" maafkan mas sayang, mas tak bisa melindungi mu. mama terlalu egois padahal semua ini bukan salah dirimu sayang." ungkap Bilal.
" terima kasih sudah menjadi suami yang sangat baik untuk arsi mas, tapi mas harus ingat jangan kamu buat hal ini menjadi mas melawan mama. arsi benar-benar tak mau mas durhaka dengan mama."
" terima kasih sayang sudah selalu mengingatkan mas, entahlah mas terlalu emosi tadi. mama selalu menganggap mu salah mas tak terima." arsi lalu memeluknya erat seakan kekuatan itu ada untuk Bilal.
" mas di lahirkan dari seorang mama, mas di rawat oleh mama sejak bayi. mama hanya ingin memberikan yang terbaik untuk mu mas tidak lain. dan aku hanya seseorang yang menemukan mu setelah kamu menjadi dewasa tumbuh menjadi seorang dokter yang profesional, keahlian mu sangat di butuhkan banyak orang dan itu tak lepas dari doa seorang mama. arsi mencintaimu mas, cinta arsi tak ingin ternoda oleh mas yang melawan mama." Bilal mengangguk ia sangat bahagia arsi selalu menasehatinya di kala ia khilaf.
" mas minta maaf sama mama ya."
Bilal menelepon orang rumah menanyakan keadaan mama, alhamdulilah mama sudah sampai di rumah. Bilal ingin minta maaf dengan mama nya setelah nasehat yang arsi berikan, karena ridho seorang mama sangat di butuhkan mereka.
" ada apa Bilal kamu berubah pikiran."
" iya ma semua berkat nasehat dari arsi, Bilal minta maaf ma Bilal sudah berucap dengan nada tinggi dengan mama." ucap Bilal.
" apa sih istimewa nya arsi sehingga kamu bisa melawan mama".
" arsi istri ku ma, dia yang akan menemaniku hingga aku tua". ucap Bilal.
" lalu kau anggap apa mama mu ini Bilal".
" mama tetap mama ku, mama yang telah melahirkan ku dan merawat ku hingga Bilal dewasa. Terimakasih mama". Bilal menitikkan air mata mama nya tetap pada pendiriannya. arsi berada di samping nya tangan kiri nya menggenggam tangan Bilal dan tangan kanannya mengusap punggung Bilal.
" mama tetap pada ucapan mama dari awal, jika arsi keguguran lagi kamu harus menikah lagi dengan wanita pilihan mama".
" maaf ma untuk satu ini Bilal tak akan menurut sama mama, bukan Bilal melawan mama tapi ini kebahagiaan Bilal ma. Bilal sudah dewasa dan Bilal yang akan menentukan kebahagiaan Bilal sendiri." mama nya kesal lalu ia menutup teleponnya.
" mama tak mendengarkan ku sayang ". ucap Bilal.
" sabar ya mas, kita berdoa semoga bayi ini akan lahir dan itu bisa mengobati kekecewaan mama."
" kenapa kamu sangat peduli dengan yang lain tanpa peduli kan dirimu sayang."
" karena arsi mencinta kalian semua, arsi menyayangi mas juga keluarga mas." Bilal bangga memiliki arsi istrinya ia memeluk hingga erat.
__ADS_1
bersambung