
Umur kandungan arsi kini mencapai tujuh bulan arsi sudah mulai sulit berjalan karena di dalam perut nya ada tiga bayi sekaligus. kini arsi dan Bilal pergi ke rumah mamanya karena akan di adakan nya syukuran tujuh bulanan untuk keselamatan janin nya.
Bilal tak henti-hentinya untuk ada di samping arsi dan ketika ia bekerja di rumah sakit setiap ada waktu Bilal sempatkan telepon. Demi menjaga arsi Bilal tak luput dari penjagaan nya bodyguard serta perawat.
Sebenarnya keinginan mama ingin jika arsi ada di rumah mamanya tapi Bilal tak mengizinkan jika ada sesuatu dengan arsi akan jauh di rumah sakit. Bilal juga jauh bekerjanya alhasil arsi tetap berada di rumahnya sesekali saja mama menginap di sana.
Banyak yang mendoakan ada orang tua arsi juga para anak yatim yang di undang. Bilal duduk berada di samping arsi dengan sesekali mengusap punggung arsi karena sering merasa pegal. Meski arsi tak pernah ngeluh tapi Bilal tau jika arsi pasti merasa kesusahan dengan tiga janin yang ada di perut nya.
" lelah sayang." tanya Bilal saat arsi menggeser punggung nya.
" ngga apa-apa mas, arsi mau sampai acara selesai". ucap arsi tersenyum.
" kalau lelah bilang jangan di paksakan kasihan juga anak kita." Bilal mempunyai kekhawatiran yang tinggi bagaimana tidak ia bahagia kehamilan istrinya hingga sampai umur 7 bulanan. Kehilangan tiga kali tapi Allah langsung memebrinya tiga anak juga.
" Tante di sini ada adik " Ucap Zain yang kini sudah lebih besar.
" iya sayang, mana adik kamu". Zain menunjuk adik laki-laki nya yang tengah bermain.
" Cewek apa cowok Tante".
" kata mama kamu dokter Zaskia ada dua cowok dan satu cewek".
" hah banyak sekali Tante , tapi Zain ngga mau Zain sudah punya calon istri". tampak bilal dan arsi melongo mereka terkekeh.
" Calon istri itu apa Zain."
" ya seperti om sama Tante, nanti istri Zain juga akan hamil seperti Tante"
" terus siapa."
" adik shafiya cantik kan Tante lihat senyum nya." Bilal makin tertawa.
" cantik kamu pintar sekali cari calon istri hmmm..."
__ADS_1
" siapa dulu Zain Tante, anaknya dokter Zaskia memang pintar kan". ucap Zain bangga.
" Sudah makan belum, sana cari makan".
" oke-oke mau aku kasih apa ya adik shafiya". ucap Zain berfikir.
" ini kamu kasih saja ke dia pasti senang " Bilal merogoh kantongnya ada permen coklat yang ia bawa.
" wah makasih ya om." Zain senang ia menghampiri shafiya.
Bilal masih saja tertawa nampaknya Zain dari dulu tidak berubah meski sudah besar. Ia masih ingat dengan kata-kata nya untuk menjadikan shafiya istri.
" ya ampun mas anak itu". ucap arsi.
" Zain itu pemberani ya sayang."
" tapi sikap absurd nya itu Lo mas, aku ngga mau anak aku begitu nanti bikin pusing arsi saja." Bilal terkekeh.
" ngga ada yang ia turunin sifatnya sayang, kalau Zain mungkin ayah atau kakek ya itu " keduanya lalu tertawa kebahagiaan terpancar kepada mereka.
" Anak merupakan rezeki tapi jangan lupa jika anak juga merupakan ujian. Ketika Allah belum menitipkan janin dalam perut mu jangan bersedih mungkin akan ada hal indah yang Allah akan hadiah kan kepada kalian. Mungkin kita akan terpuruk sedih, melihat teman kita yang sudah memiliki dua atau tiga anak tapi kita belum di amanahi. Mungkin Allah masih ingin kamu berdua bersama suamimu atau ada anak yang perlu kamu bantu. percaya lah tetap Allah pemberi ketentuan yang terbaik". ucap kiyai Umar. semua dengan seksama mendengarkan.
" menikah bukan hanya sekedar untuk punya anak, tapi menikah memiliki tujuan yang paling penting yaitu menuju surga bersama pasangan. Jangan merasa hancur atau merasa belum sempurna jika Allah belum memberi mu rezeki anak karena menikah bukan itu tujuan utamanya ".
Bilal tersenyum begitu juga arsi mereka saling pandang mengulas senyum. Apa yang di sampaikan oleh kiyai Umar itu nasehat untuk dirinya berdua. Bilal mengingat begitu kerasnya perjuangan arsi demi memiliki anak, dan arsi mengingat betapa sabarnya sang suami kepadanya tanpa menuntut anak.
Di sana ada pasangan Faras dan Zahra yang duduk berdampingan karena mereka sembari mengawasi anak-anak nya. Faras menggenggam erat tangan Zahra lalu mengecup kepala nya ia mengingat Najwa istrinya yang lebih dulu pergi. Zahra pun tersenyum menatap suaminya dan mengucap lirih. " terima kasih mas." .
genggaman tangan Faras pun semakin erat.
Kini sampai pada acara makan-makan, mama Bilal menyediakan begitu banyak makanan mereka bebas untuk mengambil apa yang ingin mereka makan. Zain membawa kue dalam wadah, ia dekati Shafiya yang duduk bersama kedua orang tuanya.
" Tuan putri ini untuk kamu". ucap Zain, Faras dan Zahra pun tersenyum.
__ADS_1
" terima kasih kak Zain". ucap Zahra.
Tapi justru shafiya langsung merangkul uminya dia takut sama Zain.
" Kenapa dek apa aku menakutkan ". ucap Zain menelisik dirinya padahal tak ada yang berbeda.
Shafiya justru menangis keras ia benar-benar takut dengan Zain. Zain pun ikut bingung kenapa shafiya menangis.
" kenapa nak sudah diam tak apa ini kakak Zain ". ..
" tenang dek jangan takut aku akan menikahi mu nanti kalau Sudah besar sekarang kita berteman dulu." ucap Zain, Faras terkekeh masih saja ingat Zain dengan hal itu. Shafiya menyembunyikan wajahnya di dada milik uminya.
" Tuh dek shafiya ngga mau sama kamu, kamu dekati saja sudah takut." ucap papa Zain.
" Kan Zain lagi pedekate papa, ngga cuma dekati anaknya point' penting dekati orang tuanya ". Faras dan Zahra makin terkekeh.
" ya Allah Zain pikiranmu sampai segitunya, hus anak kecil harus rajin belajar dulu sukses dulu baru pikirin soal pedekate." ucap papa Zain geleng-geleng mendengar anaknya berceloteh.
" isshhh... papa, jangan lupa adek shafiya ini sudah Zain minta dari bayi pokoknya hanya shafiya buat Zain."
" ya ampun Zain kita ngga akan tau kapan jodoh kita datang dan siapa."
" tapi Zain cuma mau adek shafiya titik papa, jangan minta Zain untuk tidak sama adek shafiya ". ucap Zain agak meninggi ia tak senang jika ada yang berkata seperti itu.
" iya iya semoga kalian berjodoh, ". Zain tersenyum tertawa senang
" boleh aku cium adek shafiya".
" Zain". teriak papanya.
" meski kami bukan muhrim tapi adek shafiya belum baligh papa. jadi bolehkan nyicil cium dulu "
" astaghfirullah hal adzim Zain bikin malu papa." Faras dan Zahra tertawa lalu mendekat kan shafiya yang sudah terdiam Zain pun mencium pipi nya sebentar saja.
__ADS_1
" waw amazing." ucap Zain, papanya menepok jidat pusing sendiri dengan anaknya Zain itu yang kini sudah duduk di kelas tiga SD.
bersambung