
Bilal selesai memeriksa pasien dia juga selesai untuk operasi, ketika keluar dari ruangan sudah di ikuti langsung sama Sherly. Sherly membuntuti Bilal hingga ke ruangan nya, sang asisten tidak mengikuti Bilal ia juga ingin istirahat makan.
Bilal mencuci tangan nya, lalu ia duduk ingin langsung menghubungi Arsi. bilal kaget ketika di depan nya sudah ada Sherly, jengah rasanya Sherly tak mengerti-mengerti.
" ada perlu apa Sherly."
" apa tak ada sedikit saja waktu mu untuk ku Bilal".
" Aku sedang sibuk kamu tau sendiri kan sekarang, ". ucap Bilal.
" sisakan sedikit saja waktumu untuk ku mas Bilal, aku istrimu aku juga ingin engkau jadikan seperti Arsi ".
" kumohon mengertilah Sherly belum saatnya sekarang aku belum siap dengan pernikahan ini, kamu tau sendiri kan jika aku sangat mencintai Arsi ". ucap Bilal ia kesal sekali dengan arsi.
" mas ku mohon kamu harus adil pada kami itu kan syaratnya mempunyai dua istri".
" dari awal kamu tau Sherly jika ini bukan kemauan ku tapi mama, dan kamu bersedia tanpa paksaan sama sekali. aku tak pernah meminta pernikahan ini, kamu harus ingat itu". jelas Bilal menekankan ucapannya.
deg... semua mendengar arsi, Faras dan Zahra dari luar. Arsi memegang dadanya rasanya sesak sekali, kenyataan yang tak pernah ia bayangkan. kebahagiaan itu luntur ketika ia mendengar jika Bilal menikah dengan Sherly.
Faras ingin langsung masuk namun di cegah oleh Zahra lebih baik mendengarkan terlebih dahulu dan agar arsi tidak salah paham. namun hati arsi sudah terasa sakit bagaikan di belah oleh belati tajam menusuk hingga ke dalam. arsi menutup mulutnya agar tangisnya tidak pecah, Zahra memegangnya kuat.
" tapi mas kita sudah sah".
" ya aku tau itu, jika saja mama tidak nekat untuk bunuh diri aku tak akan melakukannya Sherly. tak terbersit sedikitpun olehku untuk menikahi mu atau siapapun aku sangat mencintai arsi, sengaja aku sembunyikan pernikahan kita karena aku tak ingin menyakiti Arsi. setelah mama sembuh kita cerai". ucap Bilal tegas, karena emosi Faras sudah tak tahan ia langsung masuk.
bugh...
langsung satu pukulan mendarat di wajah Bilal, Bilal pun limbung hingga terjatuh.
" mas Faras ". kemudian arsi dan Zahra masuk.
__ADS_1
" arsi...sayang ". Bilal mendekat untuk memegang lengan arsi namun arsi mengibaskan nya.
" aku juga mempunyai istri dua Bilal tapi bukan begini caranya kamu menyembunyikan kebohongan ". teriak Faras yang merasa geram dengan Bilal.
" Bilal terpaksa mas".
" apapun alasanmu itu sangat menyakiti arsi." ucap faras.
" Dan kamu sebagai wanita seharusnya kamu tau jika Bilal sudha punya istri dan syarat utama punya istri dua ada izin dari istri pertama." tunjuk Faras kepada Sherly, Sherly hanya diam saja ia tak berani membalas tatapan Faras yang tajam.
" arsi sayang, mas minta maaf". Bilal bersujud di depan arsi.
karena hati arsi sudah hancur ia pun tak menjawab Bilal arsi hanya terus menitikkan air mata, kemudian arsi pergi berlari keluar. melihat itu Faras ingin memukul Bilal kembali namun di cegah oleh Zahra.
" sudah mas hentikan ini di rumah sakit, reputasi Bilal bisa hancur".
" peduli dengan reputasi ini tak sebanding dengan rasa sakit hatinya arsi".
" iya Zahra tau yang penting kita ikuti arsi ke mana dia ". Zahra menarik Faras.
Faras dan Zahra pun lebih dulu mengejar taksi yang di naiki oleh arsi, arsi pun bingung ke mana ia akan pergi tak mungkin jika ia harus kembali lagi ke rumah nya. hanya satu tempat kembali arsi yaitu abahnya, ia akan lebih tenang jika kembali ke sana.
Bilal terus mengikuti mobil Faras ke mana akan menuju, untung Bilal sudah selesai operasi hingga konsentrasi nya tidak jadi pecah. Bilal kalut ia menyadari cepat atau lambat semua pasti akan di ketahui, siap atau tidak semua pasti akan terjadi.
Taksi menuju rumah Abah di mana tempat arsi berasal, arsi langsung turun ia mengucapkan salam dan masuk kedalam kamarnya. tak ada yang tau jika arsi datang, umi sedang ada di belakang Abah sedang mengajar.
Faras dan Zahra pun sampai ia tak melihat siapapun di sana, salam nya terjawab oleh umi lalu umi ke depan menemui Faras dan arsi. tersenyum wajah umi melihat kedua pasangan yang makin solid saja, setelah sepeninggal Najwa Faras dan Zahra selalu menyambung silaturahmi pada keluarga Najwa juga
" masuk nak silahkan".
" maaf umi, arsi ke sini."
__ADS_1
" arsi..." umi bingung ia tak melihat arsi.
" umi ngga tau nak umi tadi di belakang, memang ada apa". arsi menoleh ke arah Faras tak ingin dia yang menceritakan masalah rumah tangga arsi.
" sebentar umi lihat ya". umi lalu ke kamar arsi, benar pintu kamar arsi terkunci biasa nya tidak.
" iya arsi ada di kamar namun pintunya di kunci, sebenarnya ada apa". Zahra diam juga Faras tak lama Bilal pun datang dengan keadaan nya yang kacau.
" Nak Bilal". heran umi melihat Bilal yang kacau dengan lebam di pipinya dan sedikit darah pada bibirnya Faras cukup keras memukul Bilal.
" maaf umi".
" ada apa sebenarnya". Supaya lurus akhirnya Bilal menceritakan semuanya. di dengar oleh Faras juga Zahra.
" maaf nak menurut umi kamu juga salah, kamu tau kan siapa arsi ia punya hati yang lembut tak mungkin ia akan melarang mu untuk menikah lagi jika memang alasanmu bisa di terima. jika begini wajar ia marah kamu mengkhianati nya.".
" Bilal tak tega menyakiti nya".
" apa jika begini kamu tak merasa menyakiti nya". tekan umi. Bilal hanya diam saja.
" umi tau jika surga anak laki-laki itu ada di bawah telapak kaki ibunya, tapi kamu juga harus bisa memposisikan istri dan ibumu nak. seorang istri juga butuh perhatian mu nak, ia juga tak ingin di sakiti ".
" maaf kan Bilal umi, bolehkah Bilal menemui arsi."
" ia sedang marah nak biarkan dulu arsi istirahat lebih baik nanti saja, percuma jika emosi nya masih tinggi kalian tak akan bisa menyelesaikan masalah yang ada justru arsi akan lebih tersakiti ".
" Selesaikan dengan pikiran mu yang dingin Bilal, bagaimana kamu bisa meluluhkan hati arsi kembali atau terima keputusan arsi atas perbuatan mu". ucap Faras kesal.
" mas..." ucap Zahra tak ingin Bilal semakin merasa bersalah. Lalu Faras dan Zahra pamit waktu juga sudah sore, Bilal menunggu arsi didepan kamar arsi dengan tidur di atas sofa karena kamar arsi terletak di depan ruang keluarga.
Arsi menangis sepuasnya meluapkan kemarahannya dengan air mata yang mengalir tiada henti. lalu ia tertidur karena lelah menangis tak peduli di luar ada apa.
__ADS_1
__
bersambung