Takdir Cinta Arsi

Takdir Cinta Arsi
Part 33


__ADS_3

Arsi belum menceritakan semuanya kepada Abah atau umi, Abah juga tak ingin bertanya jika memang anak-anaknya tidak menceritakan. Abah tidak mau terlalu ikut campur dengan mereka bukan Abah tak peduli supaya mereka belajar menyelesaikan masalahnya sendiri. jika keduanya bercerita baru Abah akan memberikan saran.


" makan yang banyak Bilal". ucap umi sembari mengambilkan nasi ke piring Bilal. Karena tau arsi tak akan melakukan itu, arsi hanya diam tanpa kata sama sekali ia makan namun porsinya lebih sedikit dari sebelumnya.


" iya umi terima kasih". meskipun sudah dalam keadaan bersih memar di wajah Bilal masih terlihat.


" Bagaimana pekerjaan mu ". tanya Abah menghidupkan suasana.


" Alhamdulillah Abah makin banyak pasien".


" menjadi dokter terkenal dan ahli juga merupakan ujian Bilal, menjadi orang tersohor kamu harus membagi waktu antara pekerjaan juga profesimu juga keluarga".


" iya Abi insyaallah Bilal akan berusaha sebaik mungkin membagi waktu."


Setelah selesai mereka ngobrol di ruang televisi, seperti biasa dan arsi masih terdiam ia belum ingin mengatakan apapun. menceritakan tentang pesantren dan lain hal.


Selepas isya abinya ada kajian mengisi pengajian, arsi masuk ke kamar di ikuti Bilal. Arsi masih terdiam ia tak ingin sama sekali berbicara dengan Bilal, arsi membaca buku dengan menyandarkan kepalanya di ranjang.


" sayang mas mau bicara".


" bicara saja." Bilal mendekat di raihnya tangan arsi, arsi mengibaskan tangannya namun di tahan oleh Bilal.


" maafkan mas". arsi diam ia tak mau menjawab.


" mas terpaksa melakukan nya karena mama mencoba bunuh diri jika mas tak menikahi sherly. mama masuk rumah sakit beberapa hari hampir saja nyawanya tidak tertolong. aku tak bisa berfikir panjang saat itu aku hanya takut jika kamu tau pasti kamu akan tersakiti." ucap Bilal.


" terus sekarang apa mas, apa kamu kira ini tidak sakit bahkan lebih sakit dari pada kamu berterus-terang mengatakan yang sebenarnya ". ucap arsi air matanya luruh. Bilal mengusap air mata arsi namun arsi kibaskan tangannya. arsi lalu berbaring menghadap tembok ia diam saat Bilal menjelaskan nya lagi. bilal memeluk arsi namun arsi justru semakin deras tangisnya ia membayangkan saat suaminya melakukan hal itu pada wanita lain. Bilal mencium puncak kepala arsi berkali-kali.


Karena mungkin lelah menangis dan pikiran seharian ini penuh dengan emosi dan rasa sesak di dada arsi tertidur. Bilal melihat nya sejenak kemudian Bilal melerai pelukannya ia keluar kamar sengaja ingin bertemu Abah. namun tak berani Bilal jika Abah sudah tertidur, Bilal ambil kopi dan ia membuatnya agar pikirannya lebih fresh aja. Bilal lalu menuju teras samping yang biasanya memang di pakai Abah untuk menenangkan diri.

__ADS_1


Abah sudah mempersiapkan diri memang menunggu saat itu, Abah keluar ikut duduk di samping Bilal. Abah mengusap bahu Bilal yang sedang merenung.


" setiap manusia itu punya ujiannya masing-masing nak, semakin tinggi ujian itu semakin Allah sayang dengan diri kita," ucap Abah menasehati.


" tapi Abah, di sini Bilal yang salah. bilal salah besar Bilal mengkhianati arsi Abah. maafkan Bilal." lalu Bilal menceritakan semuanya.


" Abah tau nak posisimu antara ibumu dengan arsi, Abah yakin kamu bisa menyelesaikan masalah mu ini."


" Bilal takut Abah arsi meninggalkan Bilal, Bilal ngga mau bah. susah payah Bilal menjaga hati Bilal hanya untuk arsi, bertahun-tahun lamanya Abah. maaf kan Bilal bah Bilal bingung." Bilal menangis di hadapan Abah, Abah tau jika Bilal itu tulus sejak dulu begitu mencintai arsi apa adanya.


" sabar nak pelan-pelan besok selesaikan lah masalahmu pasti semua akan ada jalan keluarnya ". ..


" Bilal merasa tak kuat bah, ."


" sepasang suami istri itu harus terbuka bilal apapun itu, apalagi ini masalah seperti ini. kamu tau kan siapa arsi jika kamu berkata jujur aku yakin ia tak akan menolak keinginan mama kamu." ucap Abah menjelaskan.


" terus sekarang apa yang harus Bilal lakukan bah, di satu sisi Bilal juga memikirkan mama. mama terlalu nekat bah Bilal jadi bingung." ucap Bilal lagi ia menangis.


" Bilal ngga mau kehilangan arsi, ". Abah mengusap bahu Bilal yang sejak tadi menangis hingga ia letakkan egonya menangis di depan mertuanya.


" bangun pagi sholatlah taubat mohon ampun sama Allah, utarakan semua keluh kesah mu sama Allah mintakan jalan keluar untuk masalahmu nak. sebaik-baik pendengar hanya Allah SWT". ucap Abah agar Bilal tenang.


" iya Abah insyaallah akan Bilal lakukan."


" sekarang kamu istirahat sudah malam, di luar kamu masih ada tanggung jawab terhadap pasien mu kamu tetap harus sehat dan kuat. Abah yakin kamu bisa mencari jalan keluar yang terbaik." Abah lalu pergi meninggalkan Bilal.


Bilal pun beranjak dari tempat duduk nya ia lalu masuk kedalam, di lihatnya arsi tidur masih dengan mata sembab. miris hati bilal melihat arsi yang terlihat lusuh lelah.


" maafkan mas arsi, mas sangat bersalah padamu ". ucapnya lirih mengusap kepala arsi mencium kening nya.

__ADS_1


___


Bilal sengaja mengajukan cuti ke rumah sakit kebetulan di situ ada dokter pendatang baru baru lulus namanya dokter Fadil. ia dokter spesialis kanker dan penyakit dalam, rumah sakit memberi cuti. Bilal pun sudah mengatakan nya pada dokter Henry, dan dokter Henry siap jika ada urgent di rumah sakit.


Arsi bangun meski begitu ia masih melayani Bilal dengan menyiapkan pakaian nya namun arsi ngga tau jika hari ini Bilal tidak akan ke rumah sakit, ia akan menyelesaikan masalahnya dengan arsi dulu. jika ia pergi ke rumah sakit pun tak akan fokus apalagi Bilal berhubungan dengan nyawa seseorang.


" mas ngga kerja sayang hari ini, ". ucap Bilal, lalu arsi mengambil pakaian nya yang sudah ia letakkan di ranjang kemudian mengganti nya dengan pakaian rumah.


" hari ini mas mau menyelesaikan masalah kita. jika begini mas tak akan bisa fokus menyelesaikan apapun."


" tak ada yang perlu di bicarakan lagi mas, ceraikan saja arsi bereskan."


" arsi tolong jangan katakan ucapan itu lagi itu tak akan pernah."


" lalu apa, tak ada yang perlu arsi pertahanan kan lagi mas".


" ada arsi cinta kita."


" cinta itu bukan menyakiti mas tapi apa yang mas lakukan pada arsi." arsi memotong ucapan nya.


" maaf sayang sungguh mas minta maaf".


" sudah mas tak perlu minta maaf lagi, arsi tak bisa hidup dalam kebohongan lagi." ucap arsi ia merasakan mual hebat tadi sudah di tahan nya namun kini lebih mual.


" huueeek..." arsi berlari ke kamar mandi


" kamu kenapa sayang kamu sakit." Bilal makin panik.


__

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2