
Arsi jadi salah tingkah di depan Bilal ketika mendengar jika Bilal tak pernah menyentuh Sherly sekalipun. Bilal menatap arsi dengan intens, begitulah wanita akan tetap luluh dengan sosok laki-laki yang begitu dicintai nya.
" maaf..." ucap Bilal. tes... air mata Bilal kembali mengalir, yang merasa lebih sakit hati adalah Bilal.
Melihat tetesan air mata Bilal arsi luluh kembali lagi hatinya. ia mengusap air mata Bilal dengan lembut tak tega melihat suaminya yang di rundung rasa bersalah.
" hukumlah aku semaumu tapi jangan minta untuk bercerai dari ku arsi itu tak akan pernah, aku sangat mencintai mu lebih. lebih dari diriku sendiri". Bilal menekankan ucapan terakhir nya.
" maafkan aku yang tak bisa membantah mama, maaf..." air mata itu luruh kembali.
Dengan perasaan tidak teganya arsi langsung memeluk suaminya, orang yang telah menyakiti dirinya. namun ia menimbang ucapan Abah jika mungkin ia ada di posisi Bilal pasti akan melakukan hal yang sama. arsi memeluk erat ia memejamkan mata tanpa permisi air mata itupun tumpah, Bilal membalas pelukannya dengan kencang. ia tau jika istrinya juga sangat mencintai nya sama porsinya seperti dirinya yang mencintai arsi.
Bilal pun enggan melepas pelukan itu ia terus mencium kepala arsi berkali-kali. begitupun arsi tangan yang ia kalungkan di leher sang suami juga enggan ia lepaskan.
" mas aku sesak". ucap arsi. Bilal kemudian melerai pelukannya ia menciumi wajah arsi tanpa terlewat sedikit pun. kemudian ke bawah yaitu pada perut arsi yang kini mengandung benihnya.
" terima kasih sayang terima kasih". arsi mengangguk, senyum terukir dari keduanya meski masih dengan wajah yang sembab. Bagaimana pun cinta itu meluluhkan hati arsi yang sejak kemarin berkobar karena amarah.
" mas akan berjuang, mas akan menceraikan Sherly secepatnya sayang".
" mas jangan kasihan Sherly jika mas ceraikan, ". ucap arsi begitu lembut nya.
" mas ngga bisa mempertahankan nya lagi sayang itu tak mungkin ".
" kenapa, ia sudah sah menjadi istri mas seharusnya mas juga menjalankan kewajiban mas sebagai suami dokter Sherly juga". Bilal membelai rambut arsi yang tertutup jilbab.
" tidak sayang ada hal yang belum mas katakan padamu tentang....". Bilal mengehentikan ucapannya ketika suara mamanya terdengar memanggil nama nya.
" mama..." ucap arsi, ia pun tak membenci mama sang mertua.
" mana Bilal". tanya mama langsung tak sopan kepada umi.
__ADS_1
" sebentar saya panggilkan Bu". ucap umi lembut.
Bilal dan arsi keluar dari kamar, Bilal menggandeng tangan arsi tak melepaskan sedikit pun. Bilal Salim namun tangan arsi tak di terima oleh mamanya.
" Jadi ada kepentingan apa kamu di sini Bilal, jika saja kamu tak mencintai arsi begini akan mama minta kamu menceraikan arsi saja. Untuk apa jika ia tak bisa memberikan anak untuk kamu." ucapan mama terdengar sangat sadis, tajam menggores hati.
" mama pelan kan suaranya ini di rumah Abah ma."
" Sherly juga istri mu seharusnya kamu bisa adil membagi waktu dengannya Bilal". tak lama Abah pun datang kebetulan selesai mengisi kelas. juga Faras dan Zahra datang sengaja ingin melihat perkembangan hubungan arsi dan Bilal.
" Mama tau menantu mama ini, ia sudah ikhlas dengan pernikahan ku dengan Sherly". ucap Bilal, Faras dan Zahra pun kaget dengan keputusan arsi namun tidak dengan Abah ia tau jika hati putri nya itu lembut.
" Kenapa sejak dulu Bilal bertahan untuk bisa mendapatkan arsi ma, berlian itupun kini terlihat ma. Bilal sudah menyakiti nya tapi ia dengan legowo memaafkan Bilal bahkan menerima sherly menjadi istri Bilal. tapi maaf ma Bilal tak bisa mempertahankan pernikahan Bilal dengan Sherly".
" apa maksudmu Bilal, arsi tak bisa memberimu anak apa yang di dapat dari pernikahan jika tidak menunggu kehadiran seorang anak. arsi mandul dan Sherly nantinya yang akan memberi kebahagiaan untuk mu dengan memberi anak dari darah daging mu sendiri". mama emosi, Faras ingin berkata namun di cegah oleh Zahra karena ini urusan anak dengan ibunya.
" maaf ma Bilal tak bisa mengubah keputusan ini dan arsi tidak mandul ma arsi hamil. jika saja dokter itu tak memberikan obat penggugur ini aku dan arsi sudah sejak lama punya anak". Semua mengernyit kaget mendengar penuturan bilal, dan Sherly gelagapan dengan ucapan Bilal.
" aku belum mengatakan siapa. kamu sudah merasa tertuduh Sherly, jadi benar yang di katakan dokter Zaskia jika obat yang kamu berikan pada arsi bukanlah obat penguat kandungan namun penggugur kandungan." semua kaget terlebih mamanya Bilal.
" jangan menuduh Bilal, jangan mencari alibi." Bilal masuk ke dalam mengambil obat yang ia bawa tadi dari klinik.
" benar ini obat yang kamu konsumsi sayang". tanya Bilal kepada arsi.
" ya benar mas, tapi ini kemarin di minta oleh dokter Zaskia ".
" ya kami saksinya, Zaskia mengatakan akan memeriksa obat ini ". kata Zahra.
" Tadi dokter Zaskia memanggil ku agar aku menemuinya dan mengabarkan hal ini jika obat yang di konsumsi arsi bukan obat penguat kandungan ".
" dokter Zaskia pasti salah mungkin itu bukan obatku Bilal."
__ADS_1
" aku lebih percaya dengan dokter Zaskia dari pada kamu Sherly, di sini jelas tertera nama kamu pada botol ini".
" fitnah, dokter Zaskia pasti memfitnah ku, itu akal-akalan kamu saja kan arsi bersekongkol dengan dokter Zaskia ".
" jangan mengelak lagi dokter Sherly sudah jelas semuanya kamu masih mengelak, aku mengenal siapa Zaskia tak mungkin ia memfitnah mu untuk apa ngga ada untungnya ".
" dan aku mengenal siapa istriku ia juga tak akan mungkin melakukan itu Sherly, obat itu di periksa saat arsi belum tau tentang pernikahan ini". kata Bilal menekankan.
Abah hanya diam saja bukan tak ingin ikut campur tangan tentang anaknya tapi ia tau jika Bilal akan bisa menyelesaikan masalah ini.
" Kalian semua memojokkan ku dengan alasan obat ini, ma tolong Sherly ma." kata Sherly memegang lengan mama. namun mama hanya diam ia tau siapa anaknya Bilal, sejak dulu Bilal tak pernah berbohong.
" berterima kasihlah pada dokter Zaskia karna ia memanggil ku secara tertutup ia masih memikirkan profesi mu ". ucap Bilal ia tak melepas genggaman nya pada arsi.
bugh...
tiba-tiba mamanya Bilal pingsan, mungkin ia pusing mendengar saling beradu mulut. mama nya Bilal belum stabil betul meski tangannya sudah berangsur sembuh.
" mama... ma...". pekik Bilal juga arsi.
" aku tak bawa alat apapun, mas Faras tolong antarkan ke rumah sakit." Faras pun langsung berlari untuk menyiapkan mobil, Bilal menggendong mamanya dan yang lain mengikuti Bilal membawa mamanya ke rumah sakit.
" urusan kita belum selesai". ucap Sherly menunjuk ke wajah arsi.
pakkk...
Tamparan itu di berikan Zahra untuk Sherly cukup kuat.
__
bersambung
__ADS_1