Takdir Cinta Arsi

Takdir Cinta Arsi
dokter henry


__ADS_3

Hari ini Bilal harus bekerja untuk melihat keadaan pasien nya yang ia operasi kemarin. wartawan sudah tidak ramai lagi di depan rumah sakit karena pejabat untuk sudah mengadakan konferensi pers jika anaknya selamat masih dalam masa menunggu sadar. nama Bilal di sebut oleh pejabat itu sehingga kini ia pun ikut menjadi sorotan, sebenarnya Bilal tak mau karena akan rumit untuk nya bebas.


Arsi mengancingkan kemeja milik suaminya kemesraan itu selalu ada karena arsi bisa membuat celah melayani Bilal dengan baik. Senyum itu terukir begitu manis, Bilal sangat menyukainya istri apapun yang ada pada dirinya.


" sayang mas ke kantor dulu kamu baik-baik di rumah banyak istirahat, apa masih ada keluhan lain sayang." ucap Bilal melihat istrinya intens.


" tidak mas sayang aku baik-baik saja, mas Bilal kerjanya yang fokus ngurusin pasien ya nyawa orang banyak mas". arsi tertawa kecil Bilal mencubit hidung nya.


" ini yang bikin mas jadi kangen sayang terus sama kamu sayang, senyummu terlalu manis sirup Marjan mah lewat". kembali arsi tertawa.


" mas ini bisa aja, kita hidup berdua sudah tiga tahun mas bahkan banyak keburukan arsi yang sudah nampak, maafkan arsi mas belum bisa memberi kebahagiaan untuk mas Bilal."


" hey sayang memiliki mu sudah merupakan kebahagiaan yang teramat untuk ku, apalagi bagi mas sudah cukup sayang." Bilal menangkup wajah istrinya dengan kedua tangannya.


" Tapi mas..." Bilal justru melu*** bibir arsi ia tak ingin mengucapkan kata-kata yang membuat arsi tersakiti.


" mas ini selalu kebiasaan".


" mas selalu merindukan mu sayang, bertahun-tahun aku menyimpan rasa hanya untuk mu berdoa agar Allah menjadikan mu jodohku ketika semua itu sudah mas dapat apa mas akan bilang ngga bahagia. itu namanya mas tak bersyukur sayang sekarang jangan pikirkan hal-hal yang membuat kita berdua tersakiti. fokus untuk masa depan kita berdua ya ada atau tanpa adanya buah hati kamu cukup bagiku. Sudah siang nih, kita turun sarapan mas mau berangkat kerja". Bilal menggandeng tangan arsi untuk turun ke bawah.


" Dok ada tamu ".


" siapa sus" Bilal merasa tak punya janji sama siapapun.


" wartawan sepertinya pak".


" astaghfirullah mau apa mereka, katakan saya tak ingin di ganggu kala ada di rumah jika ingin mewawancarai saya di rumah sakit saja."


" baik dok."


" ada apa mas". tanya arsi.

__ADS_1


" Mungkin ia mau mewawancarai tentang anak pejabat itu, katanya sudah konferensi pers kenapa mereka memburu aku juga. paling ngga suka berurusan dengan wartawan bikin hidup jadi ngga tenang". arsi mengusap bahu Bilal supaya tenang.


" itu cara kerja mereka mas mencari sesuap nasi untuk orang-orang yang ada di rumahnya ".


" aku tak suka ribet sekali harus ngomong di depan khalayak, satu omongan kita meleset saja sudah hancur hidup dengan wartawan ".


" sabar ya mas, kehidupan kita ada fasenya ".


" iya, habiskan makanannya sayang." Bilal lalu menyuapi istrinya.


" arsi bisa sendiri mas "


" tak apa dokter juga pingin romantis sama istri." arsi terkekeh suaminya ini memang selalu bisa membuatnya tertawa.


Bilal pamit ia berangkat kerja hari ini ada kasus pasien untuk operasi lagi tapi bukan hal yang serius. Bilal langsung melajukan mobilnya ternyata di depan gerbang masih banyak juga wartawan yang menunggu.


Tak seramai kemarin memang tapi ada beberapa wartawan di depan rumah sakit ia ingin tau kabar terkini tentang anak dari pejabat itu.


" bagaimana dok keadaan Niko saat ini, berikan keterangan kabar terbaru nya." salah satu wartawan memburu Bilal saat masuk ke dalam.


Dokter Bilal di sambut oleh dokter henry, dokter profesional lebih tua di rumah sakit ini. Dengan senyuman mengembangnya dokter henry langsung memeluk Bilal.


" Luar biasa dokter kerjamu kamu berhasil pasien sudah sadar."


" Alhamdulillah benarkah dok".


" iya kamu benar-benar bekerja keras dengan sangat baik, pasien melewati masa kritisnya kini ia sudah sadar tinggal masa pemulihan dan pengobatan untuk tenggorokan nya saja".


" jujur dok saya takut sekali, dokter Henri sudah memeriksanya lalu bagaimana apakah ia masih bisa berbicara".


" sudah saya langsung memeriksa nya datang ke sini, semua bagus dokter tepat dalam mengambil keputusan". ucap dokter Henri memuji Bilal.

__ADS_1


" Alhamdulillah semua berkat pertolongan Allah juga dokter henry".


" juga kerja kerasmu Bilal, kamu sudah menjadi dokter profesional sekarang".


" ah dokter ilmu Bilal masih sangat minim apalagi pengalaman jauh dari dokter Henri".


" tapi dirimu menunjukkan jika kamu bisa melakukannya Bilal, kerjamu selalu sungguh maksimal." dokter Henri menepuk pundak Bilal.


" Cepat lakukan konferensi pers jika hidupmu ingin tenang". dokter Henri tertawa.


" Dokter henry saja ini semua berkat dokter seperti biasa saya hanya asisten dokter."


" tidak Bilal kali ini kamu yang jadi bintangnya, rumah sakit ini sudah menaruh kepercayaan penuh padamu kini aku bisa pensiun dengan tenang."


" dokter akan pensiun padahal masih banyak sekali orang-orang yang membutuhkan dokter ". ucap Bilal.


" aku sudah tua Bilal, aku harus mengurangi jadwal praktek ku. kamu tau kan jika dokter itu juga manusia, kini aku pun juga mulai sakit encok ". Dokter Henri sembari memegangi pinggangnya nya.


" Padahal Bilal masih harus banyak belajar dengan dokter, ".


" aku akan terus mendampingi mu Bilal, aku juga ingin bermain dengan cucu-cucu ku lebih lama".


" Terima kasih banyak dokter atas ilmu yang engkau tularkan padaku, kini Bilal bisa banyak membantu pasien."


" ilmu memang harus di bagikan supaya amal jariah nya terus mengalir." Bilal dan dokter Henri kemudian masuk ke dalam kamar rawat inap pasien, kini pasien anak pejabat itu sudah di pindahkan.


" terima kasih banyak dokter ucap orang tua dari pasien."


" sama-sama ibu ini sudah tugas kami sebagai seorang Dokter, semoga lekas sehat selalu ". Bilal memeriksa nya, benar kata dokter Henri pasien sudah sangat membaik.


" Bilal aku hanya datang saat pagi saja jika kamu butuh bantuan ku langsung saja hubungi jangan sungkan, kini rumah sakit ini nyawanya ada pada dirimu. Cepat lakukan konferensi pers, wartawan itu tidak akan pernah diam jika kamu belum muncul di publik. Dokter perangkap artis." dokter Henri terkekeh mengejek Bilal.

__ADS_1


" dokter ini bisa aja, ya siang ini nanti saya akan adakan konferensi pers. Aku ingin hidup tenang juga sama seperti mu dok ". keduanya terkekeh kemudian Bilal pamit untuk ke ruangan nya membaca data pasien yang akan ia operasi siang nanti.


___


__ADS_2