
Semalam ia harus menginap menemani mamanya, memang ada urgent yaitu mamanya yang merajuk. Bilal sejak dulu sangat menyayangi mama nya, terlebih dia anak semata wayang yang di miliki orang tua nya.
" Ma Bilal pulang dulu ya, nanti kalau pulang Bilal jemput". ucap Bilal.
" kenapa tak menunggu sekalian mama pulang saja Bilal".
" semalam Bilal sudah tak pulang ma, kasihan Arsy pasti menunggu Bilal". ia merapikan pakaian nya sejenak.
" biasanya juga gitu kan kamu kalau dinas malam pulang terlambat."
" Bukan begitu ma Arsy sedang tak enak badan kasihan dia."
" gitu mau cepat punya anak, penyakitan".
" ma tolonglah Arsy istri ku dia berhak Bilal lindungi ada tanggung jawab ku terhadap nya ma. mama tau kan jika Bilal mencintai Arsy sepenuhnya ia hidup Bilal ma".
ada hati yang meradang Sherly hanya di abaikan oleh Bilal sejak semalam, semenjak Bilal mengucapkan ijab kabul bertambah kebencian nya terhadap Sherly.
" mas aku nanti kerja ngga bisa menunggu mama".
" hmmm..." tak ada sepatah katapun yang Bilal utarakan untuk Sherly Hanau deheman saja tanda ia mendengar ucapan Sherly.
" Bilal pamit ya ma". ada rasa kasihan mama terhadap Bilal namun egonya mengalahkan mama hingga membuat Bilal merasa bingung dengan sikapnya.
Bilal berjalan keluar ruangan tetap ia tak mempedulikan Sherly, Sherly hanya diam mungkin memang belum saja Bilal terbiasa ada dirinya. Sherly kemudian berlari kecil mengikuti Bilal hingga ke ruangan nya.
" astaghfirullah ada apa sher". Bilal kaget saat Sherly menarik pakaian kedokteran nya untuk Bilal.
" ngga apa-apa aku hanya ingin melayani suamiku."
" tolong jaga sikapmu ini di rumah sakit, aku tak mau berita ini menyebar bukan aku yang kena imbasnya tapi kamu". ucap Bilal.
" sedikit saja hargai aku sebagai istri mu".
" aku menghargai mu sherly maaf mungkin memang inilah aku, belum bisa sepenuhnya menjalankan dua kapal sekaligus. ku harap kamu bersabar". ucap Bilal lembut lalu ia berlalu keluar ruangan tanpa mempedulikan Sherly lagi.
Padahal Sherly ingin mencium tangan nya tanda ia menghormati suaminya namun tak ia dapat kan seperti yang Bilal ucapkan ia belum bisa bahkan bersentuhan dengan Sherly untuk sekedar cium tangan pun Bilal rasanya enggan.
__ADS_1
Sherly masuk lagi ke ruangan mama sebelum kemudian pamit karena ia ada jam praktek pagi ini.
__
Arsy sedang duduk di teras hatinya belum tenang jika tak mendapati Bilal pulang. Di lihatnya mobil Bilal sampai di halaman, Bilal turun mobil akan di parkir kan security.
" assalamu'alaikum".
" wa'alaikumsalam mas" senyum Arsy mengembang namun hatinya Bilal terasa teriris.
' ya Allah akankah senyum itu akan redup kala semuanya ia ketahui kebohongan ku, maafkan aku Arsy'. monolog dalam hati bilal.
Arsy lalu Salim tak lupa kecupan manis mendarat di kening Arsy, tak lupa mengusap kepalanya. usapan kepala paling di senangi oleh Arsy.
" Sudah sarapan belum sayang".
" belum tunggu mas pulang mau sarapan sama mas." Bilal dan Arsy saling menautkan jemari nya. Ada perubahan dalam diri Arsy terlihat begitu manja hari ini.
" tunggu di sini mas naik dulu mandi bau obat."
" iya mas cepat ya Arsy lapar ".
Arsy menyiapkan makanan yang di masak bibik, suster izin lagi ini untuk pulang ia akan kembali jika Bilal kembali ke rumah sakit siang nanti.
" baunya sedap masak apa ini ".
" bibik masak sup iga mas."
" mas jadi lapar banget nih". Arsy tersenyum melihat Bilal yang tak sabar untuk makan. Semalam Bilal hanya makan sedikit ia tak bernafsu untuk makan semalam, jiwanya ada di rumah sakit tapi pikiran Bilal ada di rumah.
" Sayang bagaimana masih terasa tak enak badan nya".
" iya mas kadang sedikit pusing dan Arsy pun mual ".
" mungkin itu efek dari obat yang dokter Zaskia berikan. sabar ya sayang".
" insyaallah Arsy akan selalu sabar mas demi keinginan mama". hati Bilal seperti tercubit Arsy meski sudah di sakiti ia masih memikirkan mamanya.
__ADS_1
___
Sherly merencanakan hal agar ia bisa tidur dengan Bilal, apapun caranya akan Arsy lakukan asal ia bisa mendapatkan Bilal. apalagi ini selangkah lagi Bilal menurut nya akan ada di genggaman Sherly.
Setelah shalat Zuhur Bilal pamit akan kembali lagi ke rumah sakit, Arsy mengiyakan karena memang itulah pekerjaan suaminya apalagi setelah Bilal menjadi terkenal dengan ia yang sekarang menjabat sebagai dokter kepala.
" istirahat sayang ya jangan nanti minum obat , kalau tak ada urgent mas langsung pulang jangan lupa makan juga supaya lekas sehat "
" iya mas, dokter memang pesan nya harus banyak gitu ya". Bilal mengusap kepala Arsy.
" mas berangkat ya, itu suster juga sudah datang." bersamaan dengan Bilal akan pergi suster datang untuk menemani Arsy.
" iya mas hati-hati fokus jika bekerja".
Bilal mengangguk melepas istrinya dengan senyuman, Bilal berjalan menuju mobilnya yang sudah di siapkan oleh security.
Sampai di rumah sakit mama nya sudah di periksa oleh dokter jaga, di lepaskan nya semua infusan sudah siap jika akan pulang. sebenarnya Bilal bekerja saat sore namun karena ingin menjemput mamanya ia berangkat lebih awal. tak ada rasa curiga dari diri Arsy untuk Bilal sedikit pun ia sangat mempercayai suaminya itu.
" Sudah beres dok semuanya, mama anda sudah bisa untuk pulang".
" terima kasih dokter Azzam". .
" sama-sama dok, saya permisi mau visit pasien " Bilal memeprsilahkan dokter azzam pergi.
Bilal mengemas semua barang yang akan mama bawa pulang, Sherly belum datang ia baru saja selesai praktek. Papa juga bersiap untuk pulang memapah mama duduk di kursi roda. Sherly tergesa-gesa untuk datang ke ruangan mama ia masih belum ketinggalan mengantar mama pulang.
" Sherly nanti malam menginap di rumah mama ya kamu juga Bilal kalian belum pernah".
" Bilal ada praktek ma maaf tak bisa ada operasi nanti sore".
" Lalu jika kamu sibuk terus kapan akan berikan mama cucu". mama merajuk.
" sabar ma, mama tau sendiri kan sekarang jabatan Bilal lebih tinggi Bilal punya tanggung jawab yang besar atas rumah sakit ini. Bilal mohon mengertilah ma". ucap Bilal ia berharap mama nya mengerti akan keadaan nya. sebenarnya bukan itu tapi Bilal ingin pulang menemani Arsy kemarin ia sudah meninggal kan Arsy sendirian.
" iya ma ngertiin Bilal, tak harus secepat itu kan ma." ucap papa membela bilal, selalu papa yang menjadi penengah tanpa harus terlihat papa membela salah satu dari nya. Sherly hanya diam ia tak ingi bersuara toh Bilal tak akan peduli padanya. Bilal mengantar mama pulang ke rumah, dan hanya duduk sejenak kemudian ia langsung ke rumah sakit lagi keberuntungan ada pada pihak Bilal pihak rumah sakit menelepon nya ada urgent.
__
__ADS_1
bersambung