
Bilal mengurangi jadwal prakteknya di rumah sakit karna ia sangat khawatir dengan istrinya. Tiga janin tumbuh beriringan di perut arsi yang membuat arsi sulit untuk melakukan sesuatu. Bilal sudah memutuskan jika arsi lebih baik untuk operasi saja jika lahir normal akan beresiko untuk Arsi.
" makan dulu sayang kamu harus tetap sehat dan kuat". Ucap Bilal menyuapi arsi saat sarapan.
" iya mas arsi bisa sendiri, kayak bayi aja di layani terus ". Arsi cemberut.
" ngga papa lah bayi gede gini cuma mas ngga kuat mau gendong nya." Bilal terkekeh.
" Mas sudah delapan bulan ya ngga nyangka banget bisa sampai ke titik ini " air mata arsi mengembun.
" Alhamdulillah sayang mas sangat bersyukur apalagi kita di beri tiga sekaligus, hadiah terindah yang Allah berikan untuk kita berharap satu namun Allah kasih bonus ". Bilal mengusap air mata arsi yang akan jatuh.
" iya mas terima kasih atas kesabaran mas mendampingi arsi"
" sama-sama sayang kamu juga masih bisa menerima mas kembali setelah melakukan kesalahan".
" tak ada manusia yang sempurna di dunia ini mas, kesalahan mas masih bisa arsi maafkan karena mas punya alasan yang kuat dan yang jelas mas masih sangat mencintai arsi." ucap arsi memegang pipi sang suami.
" Sangat sayang mas sangat mencintaimu, perjuangan mas bertahun-tahun untuk meluluhkan hati seorang arsi Lo dari jalur langit juga jalur bumi ". kata Bilal mengusap kepala arsi.
" terima kasih sudah mau bertahan meski di luar banyak yang lebih dari arsi". Ucap arsi.
" lebihnya mereka beda dengan lebihnya Arsi istri ku". Ucap bilal menghentikan suapannya.
" maksudnya mas, "
" sekarang lebih gendut, lebih cabi, lebih bohay." Bilal tertawa.
" ih mas itu namanya mas menghinaku ".
" ngga sayang apapun itu kamu pokonya lebih menurut mas, lebih dari segalanya dengan wanita cantik di luaran sana. Kamu tetap cantik di mata mas apapun perubahan dalam dirimu."
" so sweet mas." arsi terkekeh.
" mas ngga kerja." ucap arsi.
__ADS_1
" kerja nanti jam sembilan sayang".
" oh kirain kok belum ganti." arsi melihat Bilal masih memakai sarung.
" mau suapin kamu dulu biar baju mas kerja ngga kotor."
" kan arsi masih bisa makan sendiri mas kalau mau berangkat kerja ya kerja saja."
" mas tuh pengen suapin kamu kok di usir terus sih sayang". Ucap bilal merajuk.
" bukan gitu mas takutnya mas telat, di rumah sakit masih banyak yang butuh mas. Arsi kan sudah ada mbak suster ada bibik di rumah juga bodyguard mas. ."
" iya ya sayang, habiskan dulu makanannya mas tak akan tenang jika kamu tak makan dulu." ucap Bilal.
Dengan polosnya arsi terus menerima suapan dari Bilal hingga dirinya benar-benar merasa kenyang. Tak ingin juga jika suaminya terus merajuk.
__
Di sisi lain ada seseorang yang mengintai rumah Arsi, entahlah siapa lagi itu bahkan security atau bodyguard tidak tau jika ada gerak gerik orang jahat.
Setelah mobil Bilal tidak terlihat ada sosok wanita yang datang ke rumah arsi ia mengaku kepada security dan bodyguard jika temannya dari desa. Dengan polos nya security mengizinkan untuk masuk sebelum bertanya kepada arsi terlebih dahulu.
" ada teman ibu di depan." ucap suster arsi yang masih duduk di depan televisi.
" siapa sus."
" katanya teman ibu dari desa." arsi berfikir siapa teman dari desa yang datang ke rumahnya di kota.
Dengan berjalan sedikit tertatih karena perutnya yang besar arsi menemui wanita yang juga dengan perut yang besar itu.
" dokter Sherly." ucap arsi meskipun kini dia hamil dan penampilan nya berbeda tapi arsi masih tetap mengenalinya.
" masih ingat saya rupanya kamu arsi, bagaimana kabarmu. Oh kamu sudah hamil besar ya sama seperti ku". Ucap Sherly yang kini sudah ada di hadapan arsi.
" ada perlu apa anda datang kemari". Tanya arsi sedikit curiga, mungkin karena hamil jadi semua bodyguard dan security tak begitu mengenali Sherly, apalagi saat Sherly mengatakan jika ia adalah teman dari desanya makanya di persilahkan masuk.
__ADS_1
" saya perlu sama kamu dan akan memberi perhitungan padamu". Sherly berdiri dan jlep.
Sebilah pisau Sherly tancapkan di perut arsi namun di tangkis oleh arsi hingga menyayat sisi perut arsi.
" dasar orang gila." teriak arsi yang membuat suster dan bodyguard langsung mendekat.
" astaghfirullah hal adzim Nono arsi". Sherly tertawa terkekeh melihat arsi yang bersimbah darah.
" security bawa wanita gila ini." teriak bodyguard lalu security menyeret Sherly keluar.
" saya siapkan mobil, kenapa kita bis kecolongan seperti ini." ucap bodyguard yang menjaga di luar rumah.
Arsi sudah meringis merasakan perutnya yang bersimbah darah, suster terus menekan perut arsi agar darahnya berhenti.
" bertahan ya Bu kita ke rumah sakit". Ucap suster yang merasa bersalah tidak menjaga arsi dengan baik.
Suster menghubungi Bilal tapi tidak di angkat, jelas Bilal sedang berada di ruang operasi. tadi ia bilang ada jadwal operasi pagi ini.
" ibu jangan pejemin matanya berusaha lah untuk tetap sadar Bu hingga kita ke rumah sakit." ucap suster lagi, namun arsi sudah tak bisa berkata apa-apa ia hanya meringis merasakan sakitnya sayatan pada perutnya. masih untung arsi tadi bisa menangkis nya hingga tak mengenai bayinya.
Sedangkan Sherly langsung security bawa ke kantor polisi dengan tuduhan percobaan bunuh diri.
" dia sudah mengambil Bilal dariku". Teriak Sherly di dalam kantor polisi.
" dasar wanita gila." umpat security karena sejak di mobil Sherly teriak kadang ia menangis dan terkadang tertawa lepas.
" aku tidak gila, aku sedang balas dendam. Harusnya ia tidak bisa hamil seperti itu." kembali Sherly tertawa dan menangis.
Security menceritakan kejadian yang terjadi di rumah tadi karena ada juga cctv jadi sherly tak akan bisa mengelak. Ia benar-benar seperti orang yang stres, menikah dengan orang yang tak ia cintai dan sekarang pun Sherly juga dalam keadaan hamil.
Polisi mencatat semua yang security itu laporkan, tapi karena Sherly seperti orang gila ia di kurung di ruangan khusus tanpa campur dengan napo yang lainnya.
Di balik jeruji besi itu Sherly masih saja teriak-teriak sejak tadi. Sherly menjadi orang yang gila karena obsesinya untuk mendapatkan Bilal. Sejak dulu memang Bilal begitu mencintai arsi dan tak ada yang lain.
Arsi di masukkan ke ruang UGD, Bilal masih di ruang operasi dan tidak bisa di hubungi sebelum operasi nya benar-benar selesai. arsi di tangani oleh dokter yang lain terlebih dahulu untuk menghentikan darah yang terus mengalir dari sisi perut Arsi.
__ADS_1
__