
Menjadi istri seorang Dokter seperti Bilal tidaklah mudah, apalagi Bilal menjadi sorotan para staf di rumah sakit. selain dokter muda, Bilal juga memiliki paras yang tampan.siapa yang tak ingin bersanding dengan dokter tampan seperti Bilal, selain mapan ia juga tampan.
Bilal memilih Arsi bukan hanya kecantikan nya saja tapi arsi memiliki sesuatu yang Bilal banggakan. ia wanita saliha yang lembut serta baik, tak pernah dalam sejarah pernikahan nya kini arsi berbicara lebih keras ataupun tak mematuhi ucapan Bilal. Kesederhanaan Arsi yang membuat Bilal terperosok semakin dalam oleh cintanya.
Kemarin mereka sudah memeriksakan kehamilan arsi, kini ia lebih berhati-hati lagi atas kehamilan nya. Tapi tidak dengan Bilal ia tak begitu memikirkan soal anak, ia sudah sangat pasrah terhadap ketetapan Allah jika memang itu adalah rezekinya Bilal akan sangat bahagia tapi jika memang Allah belum mengizinkan arsi untuk memiliki momongan hanya sabar yang ia lakukan. Mereka juga sudah berikhtiar untuk menjaga kandungan arsi, hingga ketiga tahun pernikahan nya arsi belum bisa mempunyai anak. bukan karena ia tak bisa hamil tapi kandungan nya yang selalu keguguran.
" mas perutku sakit sekali". ucap arsi.
" kenapa sayang, kamu sudah minum obatkan." malam setelah arsi meminum obat ia merasakan perutnya yang melilit.
" sudah mas barusan Arsi minum obat". Bilal bingung walaupun Bilal seorang dokter tapi ia bukan ahlinya dalam bidang kehamilan.
Bilal menuntun arsi untuk duduk ke ranjang, di usapnya perut arsi yang masih rata itu. Ia sungguh tak ingin kejadian itu terulang lagi, itu pasti akan membuat arsi lebih kecewa dari pada dirinya.
" mas sakit mas".
" kita ke dokter ya sayang". arsi hanya bisa mengangguk ia tak bisa menahan lagi rasa sakit dalam perut nya.
Cepat-cepat Bilal meraih kunci mobilnya ia bawa Arsi dengan menggendong istrinya hingga ke mobil. terlihat darah mengalir dari kaki arsi, arsi mengetahui nya ia menangis tersedu.
" tenang sayang tenang, kamu tidak akan apa-apa". ucap Bilal.
" mas lihat kaki arsi hiks . "
" iya sayang mas tau, kamu tenang ya tidak akan terjadi apapun padamu".
__ADS_1
" anak kita mas"
" iya sayang yang penting kamu selamat". Bilal terus menenangkan arsi.
Sesampainya di rumah dokter langsung menangani arsi di lihatnya darah itu mengalir dari kaki arsi. Bilal khawatir karena ia seorang dokter juga Bilal tetap menemani arsi di dalam. Tangis arsi masih terlihat ia meringis merasakan sakitnya perut itu. Bilal yang melihatnya sungguh ia tak tega kembali kejadian ini terulang untuk kedua kalinya.
" maaf dok istri anda harus di kuret, istri anda mengalami keguguran ".
" lakukan yang terbaik untuk istri saya dok, selamat kan istri saya". arsi yang mendengar ia langsung syok dan pingsan. dokter berlari mencoba memberi oksigen pada hidung arsi, ia lalu cepat menangani arsi. Bilal dengan hati yang cukup berat ia ikut membantu dokter meski di iringi air mata. Dokter kagum melihat Bilal bahkan ia benar-benar terlihat mencintai arsi isteri nya. Bilal berusaha kuat di dalam demi istri nya.
" istri anda tidak apa-apa dok hanya saja janin nya tidak bisa di selamatkan".
" yang penting istri saya selamat dok, untuk masalah janin mungkin memang Allah belum mengizinkan kami memiliki momongan". ucap Bilal hatinya terasa perih, bagaimana jika arsi nanti bangun pasti ia akan kecewa dengan hal yang terjadi.
Bilal memberi kabar kepada mama nya tentang kejadian yang di alami arsi, pasti mama sangat kecewa karena itu yang ia impikan sejak awal dari pernikahan Bilal. Bilal anak satu-satunya ia berharap bisa memiliki keturunan dari seorang Bilal.
" kenapa bisa keguguran lagi sih, apa arsi tak istirahat atau dia tidak makan makanan bergizi". tanya mama dis seberang telepon.
" apa mama tak ingat aku seorang dokter, aku selalu memberi makanan yang bergizi juga arsi istirahat. arsi tak pernah menolak perintah ku ma. Mungkin tuhan belum mengizinkan Bilal mempunyai anak". ucap Bilal lesu, benar mama nya tak akan menerima kabar itu.
" Kalau arsi tak bisa memberikan mu anak, kamu lebih baik menikah lagi Bilal".
" astaghfirullah ma, tak pernah terbersit sedikit pun dari pikiran Bilal jika Bilal akan menduakan arsi ma. Bilal mencintai arsi ma, Bilal tak mau menyakiti hatinya. Dan asal mama tau arsi bukan mandul." tegas Bilal ia lalu mengucapkan salam dan menutup teleponnya. Bilal tak mau lagi mendengar hal yang menyakitkan dari mama nya.
Di lihatnya arsi yang terkulai lemah, ia mengusap kepala istrinya. Arsi keguguran lagi, tapi hati Bilal ikhlas menerima ketetapan nya. Semua bukan salah arsi tapi takdir yang menguji cinta mereka.
__ADS_1
Pagi menjelang arsi sudah sadar, Bilal langsung menyambut nya dengan lembut di ciumnya kening arsi.
" pagi sayang " arsi tak bisa tersenyum ia hanya diam.
" sarapan dulu ya lalu minum obat." Bilal membawakan sarapan bubur dan obatnya.
" mas katakan pada arsi bagaimana anak kita".
" makan dulu baru mas akan beritahu". Bilal berusaha untuk tersenyum agar arsi tak mengetahui dulu sebenarnya yang terjadi. sejak kemarin perut arsi kosong hanya infusan untuk ia bertahan.
" mas, arsi tak mau makan sebelum mas mengatakan nya." mata arsi sudah berkaca-kaca ia tau pasti hal yang tak di inginkan nya terjadi.
" sayang". arsi menepis tangan Bilal.
" maafkan mas sayang, mas seorang dokter tapi mas tak bisa menjagamu. aku bisa menyelamatkan beribu banyak pasien tapi untuk calon anakku aku tak bisa" Bilal menangis itu membuat Arsi terenyuh, suaminya yang terlihat kuat dan sabar kali ini ia rapuh. bukan karena kehilangan calon anaknya tapi rapuh melihat istrinya begitu sedih.
Bilal memeluk Arsi, arsi sadar itu bukan kuasa suaminya meski suaminya seorang dokter. Arsi balik mengeratkan pelukan Bilal, ia salah jika ia harus marah kepada Bilal.
" maafkan arsi mas, maafkan arsi yang tak bisa menjaga calon anak kita. arsi yang tak pandai mempertahankan anak kita. maaf mas." Bilal melerai pelukannya ia mengusap air mata yang mengalir dari mata arsi.
" tidak sayang tidak kamu sudah memberikan yang terbaik untuk anak kita, kamu calon ibu terbaik kamu istri terbaik yang pernah aku punya tak akan tergantikan di sini". Bilal menunjuk dadanya sendiri.
" selama kita masih punya umur kita bisa mencobanya kembali sayang". ucap Bilal dan arsi mengangguk. Bilal kemudian meminta arsi untuk makan ia menyuap kan bubur dari rumah sakit yang rasanya sungguh tak ada rasa.
___
__ADS_1