Takdir Cinta Arsi

Takdir Cinta Arsi
Part 29


__ADS_3

Pihak rumah sakit memang menelepon Bilal karena ada yang ingin langsung di periksa oleh dokter yang cukup terkenal saat ini. Bilal bergegas masuk ke ruangan nya tak lama suster memanggil pasien yang sakit.


" kenapa baru di bawa ke rumah sakit sekarang ini sudah cukup menjalar penyakitnya". ucap Bilal menggeleng.


" tak mau di ajak ke dokter sejak dulu dok".


" jangan begitu Bu masih ada harapan yang penting kita terus berdoa dan berusaha. tak ada penyakit yang tak bisa di sembuhkan atas izin Allah ". kata Bilal dengan memberikan resep untuk ibu-ibu yang mengidap penyakit gagal ginjal.


" tapi dok apa saya harus cuci darah setiap waktu".


" awalnya memang satu Minggu ibu harus dua kali cuci darah tak apa ini bentuk ikhtiar Bu. apa ibu tak ingin melihat anak cucu ibu tumbuh berkembang, semua sangat menyayangi ibu."


" itulah yang saya takutkan dokter akan merepotkan anak cucu saya". kata ibu yang berobat.


" Dulu saat mereka kecil ibu yang merawatnya sekarang gantian mereka yang akan merawat ibu. insyaallah anak-anak tak ada yang merasa di repotkan, ibu adalah ibu yang baik untuk mereka. besok Selasa ibu ke sini lagi ya untuk cuci darah ibu harus yakin jika akan sembuh".


" iya Bu ngga boleh menyerah begini, ibu harus menurut apa kata dokter Bilal". ibu itu mengangguk.


" tebus obatnya di bagian farmasi ya Bu, semangat untuk sembuh jangan pernah merasa di repotkan lagi".


Setelah selesai operasi malam ini Bilal ingin pulang jam praktek ia sudah selesai, Bilal senang karena malam ini ia bisa menemani arsi istrinya. tak ada yang lebih indah hidup Bilal tanpa arsi.


Bilal berkemas ia ingin cepat pulang mengingat arsi sendiri di rumah, meski ada suster yang menjaganya tapi hati Bilal tetap tak tenang. Bilal akan keluar ruangan namun sebelum ia bisa keluar Sherly menghadangnya.


" aku mau pulang Sherly". ucap Bilal tak ingin ia bertengkar apalagi ini rumah sakit.


" kita pulang sama-sama jika tak mau di rumah mama pulang ke apartemen saja".


" aku mau pulang ke rumah arsi Sherly, ku mohon mengerti lah".

__ADS_1


" mas setelah menikah kamu sama sekali belum pernah bersama dengan ku apalagi memberikan hak aku atas istri mu". ucap Sherly pelan mendorong Bilal masuk agar tidak terdengar oleh orang lain.


" kamu tau kan awal pernikahan kita hanya sebatas agar mama tak melakukan aksii gilanya ". kata Bilal menekankan ucapannya.


" tapi ini pernikahan yang aku inginkan selama ini mas meski aku rela menjadi istri keduamu ".


" aku saat itu tak memaksa mu Sherly, kamu sendiri yang bersedia. seharusnya kamu tau konsekuensinya bagaimana."


" jika kamu tak mau ikut pulang bersamaku aku akan ikut ke rumahmu dan mengatakan semuanya pada arsi jika kita sudah menikah". kata Sherly serius.


" jangan gila Sherly istriku sedang sakit, apa sebenarnya yang kamu inginkan ". geram rasanya Bilal.


" aku menginginkanmu mas sudah sejak lama aku ingin hal ini terjadi. berikan hak ku sebagai istrimu mas." Bilal mengusap kasar wajahnya rasanya ia ingin meninggalkan Sherly saat itu juga.


" ya Allah Sherly jangan membuat hidupku semakin rumit"


" baiklah aku akan ikut pulang ke rumah arsi". ucap Sherly ia beranjak pergi.


Sherly sudah siap berdiri di mobil Bilal, ia menunggu Bilal membukakan pintu nya. terpaksa Bilal membuka pintunya tak ingin semuanya terbongkar dengan keadaan arsi yang sedang lemah.


" Di mana alamat apartemen mu". ucap Bilal kemudian.


" apartemen abadi jalan Arjuna". Bilal menuju yang di sebut kan Sherly.


Sudah tak mungkin lagi Bilal akan pergi dari sini jika Sherly belum tidur. Bilal langsung saja rebahan di sofa badannya memang lelah sengaja ia pura-pura untuk tidur lebih dulu sedangkan Sherly ada di kamarnya.


Sherly membuat minuman kopi untuk Bilal untuk menemaninya bermalam malam ini. melihat Bilal yang tertidur Sherly kembali ke kamar untuk mengganti pakaian nya. lingerie berwarna merah muda yang mengekspos seluruh tubuh Sherly tanpa terkecuali karena lingerie yang di pakai sangat tipis dan begitu menggoda.


Sherly berjalan mendekati Bilal ia tau jika Bilal belum tidur benar, ia hanya pura-pura tidur untuk menghindari Sherly. namun Sherly tak hilang akal ia memainkan rahang Bilal yang di tumbuhi bulu-bulu halus itu. satu tangannya berusaha melepas kemeja Bilal, karena merasa gairah mulai juga muncul bilal pun terbangun. Bilal laki-laki normal mana bisa ia menahan jika tangan Sherly terus bermain di tubuhnya apalagi dada Bilal yang ditumbuhi bulu pun di usap mesra oleh Sherly.

__ADS_1


" apa yang kamu lakukan Sherly pergi dari tubuhku".


" tenang mas minum dulu kopinya, kita sudah halal tak akan berdosa melakukan nya. aku akan memuaskan mu melebihi arsi istrimu yang mandul".


" jaga mulut mu itu arsi tidak mandul". Sherly tertawa meliha Bilal yang sudah gugup dan terlihat kencang pada pusat tubuhnya.


" ayolah mas puaskan aku". Sherly terus menggoda Bilal, ia buka lingerie yang ia pakai hanya tersisa lingerie di dalamnya.


" pergi Sherly kamu memang wanita gila".


" aku gila karena mu mas, bertahun-tahun aku menginginkan mu tapi kamu melirik ku saja tidak".


" karena sejak dulu aku mencintai arsi dia cinta pertama ku hingga kini ".


" biarlah malam ini menjadi milikku mas". Sherly duduk di pangkuan Bilal, ia mulai menggesek-gesekkan tubuhnya pada tubuh Bilal. tak bisa di pungkiri Bilal laki-laki normal pusat tubuhnya pun ikut menegang. Bilal berusaha sekuat tenaga menahan agar tak goyah sedikitpun wajah arsi selalu terlintas dari benaknya.


Sherly lalu membuka pakaian lingerie bagian dalam nya dan hanya tersisa bra dan ****** ******** yang tipis. Sherly lagi mulai menggoda Bilal dengan berusaha menciumi Bilal, Bilal mengerang menahan gejolak gairah dalam tubuh. lalu ia berdiri di lemparkan nya Sherly ke sofa ia tak mau melakukan nya, meski tubuhnya sudah menegang Bilal ingin melakukannya hanya pada arsi saja.


" maaf Sherly aku tak bisa melakukan nya padamu aku tak mencintai mu".


" tak butuh cinta mas dalam hubungan kita, aku butuh dirimu mas bilal".


" maaf aku permisi". Bilal lalu berusaha membuka pintu apartemen ia ingin pulang saja.


" mas Bilal mas, aku akan ke rumah arsi dan mengatakan semuanya".


" aku tak peduli Sherly, aku yakin kamu akan mendapatkan balasan yang setimpal dari arsi karna kami saling mencintai ". Bilal beranjak pergi dengan perasaan marah dan gairah yang tertahan ia hanya ingin meluapkan nya kada arsi saja.


" Bilal jangan tinggalkan aku Bilal". teriak Sherly dari dalam". Bilal sudah tak peduli ia cepat-cepat untuk pulang ke rumah.

__ADS_1


__


bersambung


__ADS_2