Takdir Cinta Arsi

Takdir Cinta Arsi
Operasi pasien


__ADS_3

Kehamilan yang ketiga kalinya ini arsi sangat menyukai bau Bilal, apapun meski Bilal bau asem selepas pulang kerja. jika memang Bilal belum bisa pulang ke rumah arsi yang akan datang, ia rindu dengan bau suaminya itu. jika Bilal tugas malam arsi selalu memeluk jaket Bilal hingga pagi.


" sayang masih muntah". panggil Bilal pintu di tutup oleh arsi, arsi sejak dulu tak ingin melihat dirinya muntah.


" iya mas sudah tidak apa-apa". mendengar suara arsi yang baik-baik saja Bilal lega.


Arsi keluar dari kamar dengan wajah sedikit pucat, sepertinya ia sangat banyak untuk muntah. Bilal khawatir ia langsung menarik tangan istri nya untuk duduk, di usapnya terus perut arsi. konon katanya saat perut di usap rasa mual akan sedikit berkurang, dokter Bilal juga melakukannya tuh.


" minum dulu". kemudian Bilal mengambil kan air minum hangat untuk arsi. tak lupa sedikit biskuit untuk mengurangi rasa mual.


" gimana sayang masih mual". tanya Bilal khawatir.


" tidak mas sudah membaik". Bilal sedikit lega, di rebahkan nya tubuh arsi di angkatnya kaki naik keranjang.


" istirahat dulu ya sayang". arsi mengangguk ia memang merasakan kepalanya yang sedikit sakit.


Seketika handphone Bilal berdering, ada panggilan dari rumah sakit. Bilal merasa lesu pasti darurat dan tak bisa di selesaikan oleh dokter siapapun selain Bilal, dokter pengganti yang sedang praktek pun ia tak akan bisa karena mereka minim pengalaman.


" kenapa tak cepat di angkat mas" arsi khawatir jika itu memang penting, karena ia tau tugas suaminya sebagai dokter.


" dok ada pasien darurat ia butuh penanganan dokter, di sini tak ada yang berani menanganinya ". ucap staf rumah sakit yang bertugas menjaga ruang UGD.


" dokter henry di mana dia apa tidak ada". ucap Bilal ia tak ingin meninggalkan arsi dalam keadaan pucat.

__ADS_1


" dokter henry kan sedang ke Singapura dokter". Bilal menepuk jidatnya ia lupa, hanya Bilal dan Dokter Henry di sana yang senior.


" cepat dokter pasien butuh penanganan intens". Bilal menoleh kepada istrinya ia tak tega meninggalkan arsi yang masih dalam keadaan tidak baik.


" cepat mas, pasien butuh mas Bilal". ucap arsi ia tak ingin jika suaminya melalaikan tugas nya.


" tapi dirimu sayang". arsi mengusap bahu suaminya yang masih duduk di tepi ranjang.


" pasien butuh dirimu mas, arsi tidak apa-apa ada suster juga yang menjaga arsi". arsi lalu beranjak di siapkan nya baju suaminya. Bilal sangat terharu arsi sangat peduli dengan orang lain sejak dulu.


" tapi ingat kamu harus istirahat ya, jika selesai mas langsung pulang". arsi mengangguk ia mencium suaminya singkat, setidaknya mood booster suami agar semangat.


" terima kasih sayang, jangan lupa tetap istirahat ya". ucap Bilal ia mengecup kening istrinya lalu ia pamit pergi .


Bilal berjalan cepat ketika satu perawat datang untuk menjemput nya di pintu masuk rumah sakit. Membaca riwayat pasien yang sudah di tangani oleh beberapa dokter Bilal mendesah ia juga tak yakin untuk melakukan operasi. ya jalan terakhir adalah operasi itu yang Bilal ambil jalan keluarnya setelah berkonsultasi dengan dokter Henri lewat telepon. keluarga korban siap membayar berapapun asal anaknya selamat.


" siapkan ruang operasi dan beberapa dokter tolong temani saya." tim Bilal sudah siap seperti biasa juga beberapa dokter yang Bilal minta untuk menemaninya.


" sebentar". Bilal mengambil handphone nya di tekanlah nomor milik istrinya.


" assalamu'alaikum mas bagaimana".


" wa'alaikumsalam doakan mas ya, mas akan masuk ruang operasi. kami istirahat baik-baik di rumah".

__ADS_1


" iya mas, bismillah jangan lupa berdoa. semua kuasa Allah mas, berhasil atau tidaknya yang penting mas sudha berusaha semaksimal mungkin". arsi memberi semangat untuk suaminya.


Bilal hari ini benar-benar gugup ia tidak punya keyakinan penuh untuk menangani pasien. Semua tim mendengar ucapan Bilal saat menelpon arsi, semua senyum-senyum tak terkecuali para dokter. mereka dokter muda yang sedang magang. Dengan mengucap bismillah dan berdoa tim siap melakukan pembedahan pada pasien.


Hampir empat jam Bilal dan tim berada di ruang operasi, dengan keringat yang mengucur Bilal konsentrasi dalam menjalankan tugasnya. berharap jika semuanya berhasil bukan untuk ketenaran tapi memang Bilal melakukan nya atas tugas ia sebagai seorang dokter. Nilai plus nya jika Bilal berhasil namanya pun akan melejit sebagai dokter hebat karena yang ia tangani adalah anak dari seorang pengusaha terkenal.


" Alhamdulillah" ucap semua yang ada di dalam ruang operasi, pasien berhasil dalam operasi nya. semua sangat senang, Bilal langsung melakukan sujud syukur meski saat ini belum final karena pasien belum melewatkan masa kritis.


Mereka merapikan pasien membalut yang perlu di balut kini Bilal dan dokter lainnya keluar, hampir lima jam lamanya Bilal melakukan pembedahan.


" Bagaimana anak saya dokter". tanya Berril pengusaha ternama itu.


" Alhamdulillah pak operasi nya berjalan lancar, kita berdoa semoga saja malam ini anak anda melewati ma ada kritisnya dengan baik". ucap Bilal ia berjalan keluar ruang operasi. mendengar ucapan Bilal Tuan Berril sangat senang ia sangat berterima kasih kepada Bilal.


" terima kasih banyak dokter, saya akan beri bonus kepada kalian semua". tuan Berril menunjuk kepada para dokter yang mendampingi Bilal saat itu.


" maaf pak jangan ini sudah menjadi tugas kami, kami sudah mendapat gaji dari rumah sakit ini". tuan Berril tersenyum ia senang tak semua orang seperti Bilal bahkan Bilal menolak uang ratusan juta yang akan di berikan oleh tuan Berril padanya.


Karena tugasnya selesai Bilal pamit kepada yang lain ia akan pulang, hanya arsi yang ada di kepala Bilal. ia sudah tak peduli dengan orang di sekitar yang memujinya saat itu, keberhasilan dalam operasi nya ia menjadi sorotan terbaik setara dengan dokter Henri.


____


jangan lupa kasih bintang 5 ya pembaca

__ADS_1


trimkasih


__ADS_2