
Bilal langsung mengganti pakaian nya setelah ia pulang, ia memerintahkan suster untuk keluar kamarnya setelah ia sampai. Suster memang di perintahkan Bilal untuk menjaga Arsi, jika tugas malam. Suster tidur di sofa meski arsi memintanya untuk di ranjang tapi suster tak berani karena baiknya dokter Bilal dan arsi, ia tak berani menyentuh ranjang Bilal. Bilal langsung mengunci pintunya pelan-pelan takut membangunkan arsi yang sudah terlelap dari tidurnya.
" Maafkan aku sayang selalu meninggalkan mu mementingkan orang lain dari pada dirimu". di belainya rambut arsi yang panjang gamis dan hitam, baunya yang selalu wangi. Bilal sangat menyukainya tiap hari ia menciumnya menghirup bau wangi itu.
Bilal berbaring di sisi sang istri yang terlelap, arsi menggeliat di peluknya Bilal yang ada di sampingnya tanpa arsi membuka mata. sepertinya arsi sedang bermimpi yang sangat indah. Bilal balik memeluk erat arsi di usapnya kepala arsi sembari melantunkan doa.
Sebelumnya Bilal sengaja mematikan handphone nya hanya sejenak agar ia bisa tidur nyenyak. subuh tinggal dua jam lgi setidaknya ia bisa tidur sebentar sebelum paginya ia harus berangkat dinas lagi ke rumah sakit.
Pagi menjelang mentari sudah senyum sejak tadi, Bilal yang tidur lagi selepas subuh menggeliat apalagi menghirup aroma kopi khas buatan sang istri tercinta. Tak ada yang bisa mengalahkan enaknya kopi manis buatan arsi istrinya.
" Sudah bangun mas". arsi mendekat sembari membawa kopi hangat untuk Bilal.
" Jam berapa sayang". ucap Bilal sembari ia bangun dan duduk.
" Jam tujuh mas, minum dulu kopinya biar bisa melek". Bilal mengambil kopi di tangannya di kecupnya dulu bibir sang istri kilat, kebiasaan Bilal setiap pagi.
" MasyaAlloh nikmatnya kopi ini lebih nikmat lagi karena ada kamu di sisiku sayang". arsi tersenyum ia malu kini Bilal lebih sering menggodanya. itu cara Bilal agar arsi tak sering sedih apalagi di sini arsi hanya tinggal sendirian tak ada orang tua, adapun keluarganya Faras tapi itu sudah ipar karena Najwa sudah meninggal.
" Mas berangkat bekerja jam berapa ini sudah jam tujuh".
" sebentar sayang aku masih lelah apalagi operasi semalam menguras tenaga ku". ucap Bilal kembali memeluk arsi mengajak nya ke ranjang kembali.
" apa mau vitamin dulu biar semangat".
" Pinggangku sakit juga kamu tak boleh sering memberi vitamin padaku, janin kita rentan sayang. sebenarnya ingin tapi begini saja memelukmu sudah mengobati rasa rinduku padamu".
" lebay mas ini"
__ADS_1
" tak apa lebay sama istri sendiri juga, masih merasa mual tidak sayang".
" Alhamdulillah sudah tidak lagi," arsi berbalik menghadap suaminya.
" syukurlah aku tidak tenang memikirkan mu, makanya setiap operasi aku menelpon mu dulu memastikan keadaan mu sayang ".
" arsi tidak apa-apa mas percayakan semuanya kepada Allah ". Bilal mencium bibir arsi sangat lekat, untung sudah minum kopi setidaknya baunya jadi kopi bukan bau jigong.
" aku percaya sayang Allah selalu melindungi kita, apapun yang terjadi semua skenario Allah kita harus tetap bersyukur ". arsi ia senang Bilal selalu menasehatinya.
" sudah siang mas mandi lalu berangkat, kasihan mereka pasie..." Bilal meletakkan telunjuknya di bibir arsi, ia bosan itu terus yang arsi katakan selalu peduli dengan orang lain.
" kali ini peduli padaku saja ya". arsi tersenyum di kecupnya bibir Bilal singkat.
Arsi tau Bilal juga butuh istirahat tubuhnya tak mungkin di forsir untuk menangani pasien terus. Arsi sadar terkadang jiwa pedulinya terhadap orang lain mengalahkan Bilal suaminya yang juga butuh support dari dia. Namun Bilal paham arsi begitu karena hatinya benar-benar lembut seperti malaikat.
Arsi menyiapkan segala kebutuhan Bilal, pakaian dan semua yang Bilal butuhkan untuk pekerjaan nya. Sarapan sudah arsi siapkan, ayam panggang juga juz alpokat tak lupa sambal matah kesukaan Bilal.
" Sayang nanti jika tidak ada darurat mas akan langsung pulang, doakan tak ada kejadian yang seperti semalam. ".
" iya mas semoga semua sehat ". doa arsi yang tulus.
" sayang mau di bawakan apa". arsi berfikir seperti nya tak ada yang arsi inginkan kali ini.
" tidak mas, arsi tak ingin makan apa-apa".
" beneran nih tak etis kan anak dokter Bilal ngiler". arsi terkekeh sejenak ia bayangkan.
__ADS_1
" iya mas tak ada, arsi mau mas pulang dengan selamat sampai di rumah."
" insyaAlloh itu pasti sayang, doakan suamimu ini". arsi mengangguk ia masih menemani Bilal sarapan. jika pagi arsi tak bisa makan mungkin ia hanya makan biskuit dan buah, semanjak hamil arsi hanya sarapan itu.
Bilal kemudian pamit di kecupnya kening istri tak lupa perut yang masih rata itu. Arsi tertawa geli ketika Bilal membisikkan pada perutnya.
" Hati-hati di rumah ya banyak istirahat jangan lupa makan siang".
" iya mas, mas juga hati-hati ". Bilal pamit.
Arsi masuk ke dalam rumah ia merasakan perutnya yang melilit kembali. arsi langsung duduk di rumah tamu memanggil suster, suster datang dengan lari kecil.
" ada apa bu".
" maaf sus tolong ambilkan saya air". suster langsung menuju dapur namun perut arsi semakin melilit.
" ibu tidak apa-apa ". tanya suster melihat arsi meringis.
" iya sus tidak apa-apa hanya melilit sedikit saja".ucap arsi masih meringis.
" saya telpon kan dokter ya Bu takutnya nanti ibu kenapa-napa".
" jangan sus mas Bilal masih ada di jalan belum sampai, ini juga sakitnya sudah mulai menghilang ". ucap arsi ia meneguk minumannya kembali.
Ada kekhawatiran dalam diri suster, arsi selalu tampak baik di depan Bilal namun setelah Bilal pergi ia akan merasakan melilit kembali apalagi setelah minum obat yang dokter sherly berikan. Sudah mereda sakit itu sudah tidak lagi terasa kemudian arsi berjalan menuju ruang tengah di sana ada kasur busa yang biasa di lipat di bentuk sofa.
" saya istirahat di sini saja sus sembari melihat televisi, tolong sus tekan tombol on nya saya ingin melihat televisi saja". sister menurut apa yang arsi mau.
__ADS_1
___