
kehamilan arsi sudha beranjak tiga bulan, arsi dan Bilal sangat bahagia. Bilal selalu pulang lebih awal, bersyukur ada dokter pengganti yang bisa menggantikan Bilal. Sebelum pulang ke rumah tak lupa Bilal menanyakan perihal apa yang arsi mau.
" Halo sayang mau di bawakan apa." tanya Bilal dari seberang telepon.
" Arsi mau kue sus mas".
" okey sayang akan aku bawakan ya". arsi sungguh bahagia Bilal tak lupa menelepon nya.
" Semua mba kue sus nya"
" baik dokter akan saya bungkuskan". ucap penjual yang di depan supermarket.
" mba tau saya dokter".
" tau lah dok macam dokter ganteng gini, saya pernah berobat ke rumah sakit membawa ibu saya." Bilal hanya ber oh ria sembari menunggu kue sus di bungkusnya.
" gimana keadaan ibu mba". Bilal memang terbilang ramah dengan siapapun.
" Alhamdulillah semenjak minum obat dari dokter ibu sehat sudah mau makan banyak." ucap mba penjual kue.
" syukurlah ikut senang mendengarnya".
" terimakasih dokter semua berkat dokter."
" saya hanya perantara mba, semua itu atas izin Allah". mba nya makin senang mendengar ucapan Bilal.
" iya dokter terimakasih juga sudah memberi diskon pengobatan". Bilal hanya tersenyum.
" yang ini bonus untuk dokter, "
" wah pakai di kasih bonus mba, terima kasih banyak".
" sama-sama dokter". Bilal mengeluarkan uang dari dompetnya.
" ini untuk bayar sus, yang ini titip untuk ibu mba ya"
" dokter ngga perlu repot-repot gini saya jadi ngga enak".
" ngga apa-apa mba, ngga baik jika nolak rezeki. saya saja tak menolak pemberian mba". ucap Bilal sembari tersenyum manis.
" MasyaAlloh dokter terimakasih banyak, semoga dokter bahagia selalu".
" aamiin, terimakasih doanya mba saya pamit." Bilal beranjak ia ingin segera pulang.
__ADS_1
Di depan arsi sudah menunggu suaminya juga kue yang ia inginkan, Bilal datang seperti biasa arsi akan menyambut nya dengan tatapan rindu. Begitu juga Bilal cintanya tak pernah surut meski hujan badai mendera.
" Menunggu nya di dalam saja sayang jangan menunggu di luar " Bilal mengajak arsi masuk ia meraih pinggang milik istrinya yang ramping.
"arsi tak sabar menunggu mas pulang ".
" menunggu mas apa kue nya." goda Bilal mereka terus jalan menuju ruang tengah.
" dua-duanya yang pasti menunggu mas apalah daya jika suamiku ini tak pulang-pulang".
" aku bukan bang Toyib sayang ". ucap Bilal mengundang tawa yang sangat ia rindukan.
" bibik tolong taruh dapur silahkan di makan aku beli banyak, sisakan untuk ku beberapa saja". ucap arsi.
" katanya mau makan sus kenapa tak segera di makan sayang".
" arsi habis makan buah pisang mas rasanya perut arsi masih penuh ". Bilal lalu menggenggam tangan arsi naik ke atas.
" Mau langsung istirahat atau mandi dulu mas, aku siapkan airnya ".
" duduklah sini ngga perlu kamu melayani ku sampai begitu, giliran mas yang akan melayani mu."
" tapi mas ini sudah menjadi kewajiban arsi, arsi tidak apa-apa mas.sudah terbiasa".
" mas kamu sudah menjadi lelaki yang paling baik, arsi mas Bilal perlakukan seperti tuan putri saja. Kalau hanya menyiapkan air dan melayani mas, arsi masih bisa".
" iya sayang mas mengerti, tapi kali ini saja nurut sama mas. biarkan mas saja aku ingin tuan putri ini selalu bahagia dan tetap menjadi tuan putri nya dokter Bilal ". ucap Bilal lalu mengecup singkat bibir arsi.
" Ya Allah Engkau hadirkan kebahagiaan yang tak terkira ini untuk arsi". arsi memeluk Bilal erat.
" mas bau sayang, mas mandi dulu".
" tapi arsi suka bau mas gini".
" bau asem gini suka". arsi mengangguk.
***
Mama dan papa datang sengaja ingin menjenguk anaknya, sebulan lalu arsi dan Bilal pulang mereka berkunjung ke rumah mama papa dan juga Abah Hasan. itu sudah mereka jadwalkan setiap bulannya meski hanya menginap nya semalam. kini mama papa ada urusan di kota Bilal jadi mereka sekalian berkunjung.
" Mama papa sehat". arsi dan Bilal Salim.
" Alhamdulillah iya sayang". papa mengusap kepala arsi, sungguh papa bahagia memiliki menantu seorang arsi.
__ADS_1
" Bagaimana dengan kandungan mu". tanya mama langsung tanpa basa basi.
" Alhamdulillah ma sehat". Bilal menghembus nafas kasar ia tak senang dengan sikap mama nya yang begitu kepada arsi.
" jaga dengan baik itu aset kami". ucap mama
" ma..." cegah papa agar mama tak mengatakan yang lebih menyakitkan lagi.
" apa sih pa yang kita tunggu selain anak dari mereka, lama-lama kita sudah tua pa. mau sampai kapan Bilal punya anaknya keburu tua juga."
" astaghfirullah ma, kalau mama ke sini hanya untuk membahas itu lagi lebih baik tadi mama tak usah mampir." ucap Bilal ia geram dengan mamanya.
" mas rendahkan suaranya". ucap arsi memegang pergelangan tangan Bilal, ia tak ingin Bilal emosi dan bisa menyakiti hati mamanya. arsi takut karena ucapan seorang ibu ijabah.
" mama lebih baik keluar, papa ke sini ingin ketemu anak dan menantu papa. mereka aset kita yang nyata ma, kita tak punya siapa-siapa selain mereka berdua." mama diam karena papa membentaknya.
" maaf pa arsi..."
" sudah nak jangan dengarkan mama mu, yang tak baik tak usah kamu masukkan dalam hati." arsi mengangguk.
" Kalian berdua sehat."
" Alhamdulillah ayah kami sehat seperti yang ayah lihat "
" yang terpenting kesehatan kalian yang paling utama ya, ". papa tak menanyakan perihal kehamilannya arsi, papa takut arsi merasa dirinya belum bisa memberikan cucu untuk papa, meski hal itu sangat papa harapkan tapi papa pasrah semua atas kehendak Allah. Tak ada yang bisa merubahnya jika itu adalah kuasa Allah, juga arsi bukan mandul ia bisa hamil.
" papa hanya mampir sebentar ada urusan yang harus papa selesaikan tak bisa lama-lama, melihat kalian sehat papa sangat senang"
" terima kasih pa sudah mampir kesini". papa tersenyum arsi begitu lembut.
" ya sudah papa pamit y, takut kesorean sampai rumah".
" menginap di sini saja pa " pinta arsi.
" tak bisa sayang ada hal yang harus papa selesaikan". papa hanya tak mau justru mama membuat keributan lagi kasihan arsi. di kehamilan yang masih muda arsi tak boleh stres.
Bilal dan Arsi mengantar papa dan mama hingga ke depan melambaikan tangan kepada papa yang sudah melaju.
" arsi pusing mas". Bilal langsung menggendong istrinya.
" tuh kan papa tadi bilang gimana, jangan pikirkan ucapan mama".
" bukan itu mas, bau parfum mama bikin arsi mabuk." arsi minta di turunkan ia berlari cepat ke toilet rasanya ingin muntah.
__ADS_1
bersambung.