Takdir Cinta Arsi

Takdir Cinta Arsi
aksi nekat mama


__ADS_3

Martabak manis sudah tersaji, bilal menyiapkan untuk sang istri tercinta. Bilal bergegas membersihkan diri sebentar ia naik ke atas, arsi masih asyik dengan bunga-bunga nya.


" sayang berhenti ayo di makan dulu ini masih hangat nanti kalau dingin kurang enak Lo". ucap Bilal duduk di kursi yang ada di samping rumah.


" iya mas sebentar arsi cuci tangan dulu."


" Lelah..." Bilal mengusap dahi arsi yang sebenarnya tidak keluar keringat karena bunga-bunga itu tetep paman kebun yang mengurusnya.


" Ini beli di mana mas."


" tempat biasa kesukaan mu sayang". dengan mengucap bismillah arsi langsung melahap nya.


" mas beli cuma ini". arsi jika membawa makanan ke rumah harus banyak ia tak mau makan enak sendiri sedangkan yang kerja di rumah itu hanya bisa melihat nya saja.


" ngga sayang itu sudah mas taruh belakang untuk yang lainnya." Bilal masih mengamati arsi yang sedang asyik makan.


" Pelan-pelan makannya, lagi kepengen banget ya makan".


" iya mas memang kita sudah lama kan ngga makan martabak ini".


" kamu ngga pernah pesan jadi mas ngga belikan, sayang maafin mama ya".


" maaf untuk apa mas, tidak apa-apa wajar saja mama menginginkan punya cucu kita menikah juga sudah lama mas. tiga tahun yang sudah terlewati ". ucap arsi berusaha untuk tenang.


" Allah belum mengizinkan sayang, kamu juga tidak mandul hanya belum di beri kepercayaan ".


' andai saja kamu tau mas hatiku sakit jika harus ngomongin soal keturunan aku merasa sangat bersalah, maaf kan arsi mas'. monolog arsi dalam hati.


" ayo mas ikut habiskan, jangan biarkan arsi gendut sendirian mas." Bilal terkekeh kemudian ia ikut makan. Bilal mengingat saat masih duduk SMA arsi itu pendiam ia malu jika bertemu dengan lawan jenis, tapi setelah menikah dengan nya arsi manja di hadapannya. Bilal sangat menyukai hal itu.


___


Mama berencana untuk tetap memaksa Bilal untuk menikahi sherly apapun yang terjadi dapat izin dari arsi ataupun tidak. mama sudah mengurus semuanya bahwa besok Bilal dan arsi harus menikah.


" apa ini semua ma." tanya papa melihat beberapa parcel terpampang di depan nya


" besok kita bawa ke rumah Sherly pa, "

__ADS_1


" Sherly, untuk apa " tanya papa heran.


" untuk acara pernikahan Bilal dan Sherli "


" astaghfirullah ma apa kamu ngga kasihan sama Bilal dan arsi, Bilal sangat mencintai arsi ma. Apa mama tega memisahkan mereka ".


" mereka tak akan berpisah pa, hanya Bilal menikah lagi sherly pun setuju menjadi istri kedua dari Bilal " ucap mama santai.


" tapi mama tak adil, apa Bilal tidak izin dulu dengan arsi".


" soal itu mama ngga mau tau yang jelas mereka harus tetap menikah, mama tak sabar ingin punya cucu pa. umur kita semakin tua kalau menunggu arsi akan lama dan kemungkinan justru malah tidak " papa geleng-geleng kepala.


" berpikirlah jernih ma, dengan tidak sengaja mama menghancurkan kebahagiaan Bilal. Bilal anak kita satu-satunya ma".


" justru anak kita satu-satunya pa kita akan berharap kepada siapa kalau tidak Bilal, Bilal harus punya anak tidak dengan arsi bisa dengan sherly ". ucap mama tegas.


Mama menghubungi sherly jika malam ini mereka harus melakukan akad pernikahan, mama Bilal sudah tidak sabar dengan acara ini. meskipun Bilal belum tau rencana mamanya ini.


" apa Bilal akan setuju ma."


" mama akan membuat nya setuju, Bilal sayang mama pasti ia akan menurut dengan rencana mama nya".


__


" ma pa malam-malam ke sini siapa yang sakit ma". tanya Bilal ia mencium tangan mamanya dengan takzim.


" tak ada yang sakit, kamu ikut mama yuk".


" kemana ma, Bilal mau pulang". ucap Bilal.


" Ngga usah pulang malam ini kamu ikut mama". mungkin benar ada yang penting akhirnya Bilal memutuskan ikut dengan mamanya.


Mereka berbincang seperti biasa membicarakan keluarga dan pekerjaan Bilal. mobil itu berbelok ke rumah Sherly, Bilal bingung di sana sudah ramai.


" ma ada acara apa kenapa kesini, "


" ke acara pernikahan nya Sherli"

__ADS_1


" Sherly mau menikah, Alhamdulillah ". ucap Bilal mama pun tersenyum tanpa Bilal tau laki-laki yang akan menjadi suaminya itu dia. papa seperti merasa bodoh ia hanya diam saja malam ini ia akan menghancurkan kebahagiaan anaknya.


Mama menurunkan bawaan seperti pengantin laki-laki seserahan untuk mempelai wanitanya. Bilal mengerutkan keningnya kenapa hal ini semuanya mamanya yang membawa nya. namun Bilal tepis cuek, mungkin mereka menitipkan kepada mamanya dan calon pengantin laki-laki anak dari teman mama nya.


Tidak begitu ramai hanya saudara terdekat saja dan tetangga terdekat yang hadir. Bilal duduk di sisi papanya dan mamanya. Bapak penghulu meminta pengantin wanita untuk keluar.


" pengantin laki-laki silahkan duduk di samping pengantin wanita". ucap bapak penghulu.


" ayo Bilal". ucap mamanya, Bilal mengerutkan keningnya apa maksud dari mamanya itu ia tak tau. mamanya memakaikan jas yang sudah mama persiapkan dari rumah tadi.


" nak di tunggu pak penghulu ayo maju, kamu calon pengantin laki-laki nya".


" apa maksud mama." ucap Bilal ia mengibaskan jas yang di pakai kan mamanya.


" mama mohon Bilal menikahlah dengan sherly". ucap mamanya ia menyembah di kaki Bilal.


" itu tidak mungkin ma aku sudah beristri". semua tamu pun melihat ke arah Bilal yang berteriak ia tak peduli dengan keadaan sekitar.


" aku akan pulang ma". Bilal meletakkan jasnya lalu ia beranjak pergi.


mama melihat pisau buah yang ada di sebelahnya kebetulan sekali di raihnya oleh mamanya.


" Jika kamu sayang mama menikahlah dengan sherly Bilal". mamanya mengatakan dengan lantang kemudian meletakkan pisau di pergelangan tangannya.


" ma jangan nekat". teriak papa, Bilal kemudian berbalik mendengar suara papa nya.


" apa yang mama lakukan, istighfar ma". ucap Bilal kemudian.


" kalau kamu tetap pergi lebih baik mama pergi selamanya". Bilal tak peduli ia berbalik berjalan menuju keluar rumah.


" Bilal, ". terika Sherly namun Bilal tetap berjalan ia tak peduli.


" lakukan lah demi mama aku tak akan menuntut apa-apa dan pernikahan ini sembunyi tiada yang tau kecuali yang hadir di sini".


" maaf sherly aku tetap tak bisa."


" mama..." teriak papa, pisau itu sudah menggores di pergelangan tangan mamanya.

__ADS_1


___


bersambung


__ADS_2